Tiba-tiba Dendam Meradang


Tiba-tiba Dendam Meradang

Karya : Hang

Selama 60 menit dada ini berkecamuk soal pasar. Keriuhannya di pinggir jalan. Mencari pembalasan atas dendam-dendam yang bertumpukan. Mengendap dan berhenti total di angan pikiran.

Bila kuluapkan dengan sebilah pisau makan aku akan berlumpurkan darah. Bila kudiamkan ada dua halnya harus kulakukan yaitu diam lalu berhenti untuk dendam, diam lalu memaafkan walau tak minta.

Melupakan peristiwa paling pedih adalah mustahil. Tidakkah aku hanya manusia biasa. Emosionalku belum tertata. Tidak seperti gelapnya malam yang serentak gelap. Aku masih berwarna-warni. Bisa apa saja. Sesuka hati. Tidak melulu hitam pun putih. Bebas raya.

Dendam telah lama merayu untuk membunuhnya. Rencana mengawasi gerak-gerik semua terjelaskan. Namun sisi lain aku masih berpikir jernih soal akibat sebab, untung rugi. Manusia memang tidak boleh gegabah dalam mengelola amarah dendam. Perasaan dendam mematikan pola pikir yang sehat.

Keinginan membunuh atas nama dendam beberapa kali ia datang tiba-tiba. Oleh karena pikiran yang kosong. Lalu diwaktu lain tiba-tiba lupa akan peristiwa tersebut. Namun berbeda waktu peristiwa itu utuh teringat jelas dengan tingkah polanya yang menjijikkan sebagai sesama manusia.

Amarahku kepada dendam adalah sudah mendekati puncak kemudian turun dratis oleh kediamanķu tak mau tahu lagi. Sekarang aku agak tenang dan merasa menang oleh mengalah rasa dendam.

Tentu kemudian aku tak membunuhnya secara fisik tapi non fisik yang menghantuinya akan terus jadi hantu berat. Bergentayangan setiap ia mengingat.

Bagaimana membunuh dendam oleh karena amarah terhadap orang lain? Ya lupakan, diamkan, kalau tidak mampu baru serang fisik. Cara terakhir adalah cara buruk maka harus dihindari oleh yang masih berakal sehat. Menterapikan hati yang berdendam itu juga perlu. Mendekatkan kepada renungan hidup.

Cara mematikan rasa dendam itu memang dengan melakukan kegiatan mandi, nonton film, jalan-jalan.

Dendam itu tidak utuh hitam gelap tapi emang berat sekali untuk menerima atas perilakunya.Ia datang tiba-tiba kemudian pergi dengan hal yang sama.

Pisah adalah ungkapan terbaik untuk melepaskan dendam. Tubuh yang makin bertumbuh. Dendam akan makin layu, namun ingatan terus menajam.

Dendam kesumat namanya. Oke kali ini 2080 akankah soal pancasila, agama, moralitas masih jadi acuan untuk hidup. Dan bukan kebebasanlah dalam hidup untuk dirayakan bersama. Kemajuan teknologi memudahkan kita untuk berdendam.

Dendam paling mengerikan adalah dendam disaat video panas disandera pasangan yang belum sah kemudian tersebar emang betul pelakunya dipenjara beberapa tahun tapi dada detak jantung, pikiran dan tubuh panas itu telah tersebar.

Menjadi korbannya bukan hanya beberapa tahun sebagaimana hukuman pelaku tapi seumur hidup jadi kurungannya selama mengingat peristiwa.

Itu baru kasus dua sejoli yang saling cinta kemudian menjadi saling dendam. Kemudian diperbesarkan lagi kalau dendam itu berupa massa kepada penguasa. Kelak dendam itu akan berlipat-lipat ganda. Sebab tipuan muslihat apalagi yang hendak dilakukannya?

Semua kebanyakan massa sudah titik dendam ingin menggantikannya. Dan dengan kegugupan kegagapannya menjawab persoalan kini makin terjebak dalam lumpur-lumpur dendam.

Revolusi adalah jawaban untuk membersihkan dendam-dendam tersebut. Seolah malam yang gelap membenci pagi yang terang. Walau keduanya adalah kesatuan waktu tak mungkin dipisahkan.

Jika dendam masih berkecamuk di perputaran massa kali ini. Kemungkinan 2080 akan jadi jalan kenangan didalam pikiran-pikiran berakal sehat.

Kita merdeka belum lama. Dewasa sebuah negara tentu akan diuji terus menerus. Arah bangsa masih berubah-ubah sesuai kemauan kekuasaan.

Maka dendam yang baik adalah tidur. Menggantikan mimpi hitam putih dengan berwarna warni.

Purworejo, 03 Februari 2019

Iklan

Sebuah Sila


Sebuah Sila

Karya : Hang

Kemanusiaan yang adil dan beradab

Tetiba ingat kalimat tersebut.
Yang setia belum tentu cinta.
Yang cinta tak tentu setia.
Hidup emang gitu tipis-tipis perilakunya.

Purworejo, 24 Januari 2019

Kebebasan Dalam JalanNya


Kebebasan Dalam JalanNya

Karya : Hang

Hari-hari ini kita dikejutkan dengan kebebasannya ustadz ABB di tahun politik seperti ini. Pak Yusril yang mengabarkan itu telah meluas. Kemudian daripada itu analisanya pandangan-pandangan publik masih negatif. Mengatakan ini hanya aji mumpung memanfaatkan momentum agar terlihat masih peduli terhadap ulama. Banyak aktivis anti terorisme masih diam untuk sementara waktu dalam mengkritik akan hal ini berbeda kalau momentum yang lainn-lainnya. Publik harus curiga dan memang begitu harusnya.

Bagaimana pun stigma teorisme terhadap ustadz ABB masih mengingan-ingan di bumi Indonesia. Serta di bagian bumi lainnya. Seperti AS, Australia dan lain-lainnya. Bagaimana menjelaskan ini semua?

Dan apalagi Ustadz menolak tanda tangan setia pada pancasila. Sebuah pembelajaran persoalan konsisten. Emang dasar yang kuat tidak akan mudah tumbang oleh apapun. Ia sudah menancapkan ke tubuh yang lebih dalam sedalam-dalamnya. Bukan hanya pikiran saja hati dan perilakunya tetap konsisten lurus.

Kalau alasannya kemanusiaan bagaimana dengan mereka yang salah tangkap? Penjara yang penuh hingga berkali melihat bentrokan karena akan menjenuhkan jiwa raga pikiran? Bagaimana juga perilaku istimewa dalam penjara yang masih ada? Walau demikian sudah diketahui masyarakat luas belum ada perbaikan yang sangat berarti. Berubah saja tidak.

Jadi apakah percaya ini bukan soal politik? Walau demikian dibantah panjang suasana di publik terus-menerus menganalisa dan mengatakan demikian. Inilah efeknya kalau memimpin tapi tiada pemimpin seperti ilustrasinya Bang Dahnil di ILC. Semua bekerja saling memanfaatkan tidak sesuai aturan yang ada saja. Apa adanya. Tidak dibuat-buat dan mencari sudut kamera agar terlihat bagus dimata publik. Sekarang-sekarang ini makin terbaca dan basa basi terlihatnya.

Bagaimana nasib jejak digital yang mengatakan Saya Indonesia Saya Pancasila. Terhadap kokohnya pendapat ustadz ABB akankah melakukan perlawanan atau diam demi mendulang suara atau nasibnya sama hanya untuk kepentingan politik di waktu tertentu. Jadi momentum tertentu mengakui paling agamis lain waktu lagi mengakui paling pancasilais sesuai isu yang berkembang. Akankah hanya menjadi begitu?

Purworejo, 23 Januari 2019

Gila Samar Waras Samaran


Gila Samar Waras Samaran

Karya : Hang

Senin kemarin aku mengantarkan Ibu ke RS Umum di daerahku. Maka dengan semangat aku membawa alat tulis berupa kertas dan pulpen. Di sanalah menulis panjang sampai hampir habis lembaran itu. Ini hanya cuplikan sedikit atas tulisan yang muncul disana sebagai berikut :

“Aku bangga jadi orang gila karena pernah waras dan kau pun harus bangga jadi orang waras yang belum gila. Jadilah kita sama-sama berbangga tidak saling sombong diri,”

Aku sedih sekali waktu kemarin menuliskan ini. Seseorang lelaki dengan wajah kosong yang seumurku kira-kira harus ke kamar mandi Ibunya pun ikutan. :((

Dia hanya diam saja mengikuti Ibunya kemana pergi. Sementara yang bertanya nulis skripsi ya (lain orang) waktu aku oleh sebab hape kehabisan baterai tapi otakku masih pengen nulis. Kertas pulpen kujanjikan senjata andalan. Menulislah aku. Dari sekian orang hanya tangan aku yang sibuk di kertas menari-nari. Menjawab apa yang terjadi disekitarnya.

“Skripsi ya Mas?” Tanyanya

“Hah…. ndak kok,”

Tolehnya kertasku serta mematikan lamunanku baru beberapa kata padahal. Soalnya nulis diatas buku tebal lainnya.

Orang ini unik hapenya dibunyikan keras-keras lagu dangdutan mungkin kiriman lari WA Grup. Beberapa kali lagunya diputer. Tanpa peduli jadi perhatian. Orang-orang disekitar pun menoleh sejenak. Maklum televisi yang ada mati suri. Tidak nyala. Kalau pun nyala siapa peduli orang-orang sibuk dengan obrolannya. Sementara itu hapenya pun dibungkus plastik. Pikirku mungkin karena musim hujan. Aku hanya mereka-reka tidak tahu pasti.

Rambut kumisku yang urakan waktu aku berjalan pas datang pun dipandangnya mereka yang duduk dalam antrian. Kutakut dikira habis periksa jiwaku. Dalam penyamaran jadi orang waras itu susah lebih gampang nyamar jadi orang gila.

Lebih mendalami malahan. Karena kebebasan itu yang dirindukan orang-orang waras.

Salah satunya nemu perkataan itu. Sedihnya daku. Kalau duduk manis disana. Aku akan bawa kertas lebih banyak. Kemarin ketika kehabisan kertas pikiranku kalut. Tidak tenang pengen pergi beli kertas nanti ideku hilang berjeda lama.

Ternyata bukan kuburan yang angker tapi RS yang bikin bingung linglungku. Bingung laper soalnya pengen bakso Sukar kok jauh sekali di Kutoarjo.

😂

#NulisSiang

Purworejo, 21 Januari 2019

Sebuah Kemajuan Cukup Kemunduran


Sebuah Kemajuan Cukup  Kemunduran

Karya : Hang

Robot seks sudah ada di luar negeri dan dipastikan ndak bisa bilang “Cukup…..,” karena masih bahasanya masih cinta lokal.

Kita sudah ketinggalan satu abad terhadap teknologi memuaskan kasur. Dan tabu pula.

Kita pelanggan prostitusi saja masih janggal berdebat berat untuk dihukum apa tidak? Astaga. Dan anehnya tidak tabu prostitusinya dibahas terus melulu kayak sinetron kejar tayang. Prihatin.Jangan pernah bilang cukup pada pasangan sebab itu hanya melegakan saja tapi tak pernah akan memuaskan.

sebuah tebakan ;

“Aku dua jam saja belum tentu puas. Kalau main berdua tapi sebenarnya asyik sendiri. Kurang melulu,”

“Obat kuatku tidak kelihatan tidak kuminum tidak kumakan. Ia sama sekali tak kelihatan sesakti apapun manusianya,”

“Apakah obat kuat dan pasangannya?”

“Obat kuatnya adalah Hape,”

“Pasangannya adalah sinyal hape,”

*Udah tak kasih kisi-kisi plus jawaban pula. Kurang baik apa pula aku ini.

#TebakanNegeriFiksi

Purworejo, 18 Januari 2019

Obat RS Imanjinasi dan Ilusi


Obat RS Imanjinasi dan Ilusi

Karya : Hang

Aku tidak tahu judul apa yang sebenarnya mau kutulis ini persoalan minum obat bertahun-tahun lamanya. Semenjak 2014 sampai 2016 aku obat-obatan terus. Tidak padat penuh tapi setahun lebih juja dihitung dengan benarnya aku lupa. Tapi kira begitu.

Disaat aku bosan minum dan terus sembunyi obat itu yang pada akhirnya ketahuan juga.
Sampai Ibu itu ngambek. Sebab Ibu itu paling manut Dokter. Obat selalu habis tetap waktu.

Soalnya mengapa aku bosan sebab aku melakukan tidak dengan senang dan masih ada serpihan jiwa yang tidak mau menerima. Sebenarnya aku juga perlu psikologi gagalnya perjalanan kemarin ada pengalaman pahit yang harus di telan dan dibawa ke otak untuk jadi perenungan diri.

Terang aku tidak takut disuntik belah tubuh. Aku dan lolos soal itu. Aku cuma takut dianggap kafir dipublik. Kalau dianggap gitu apalagi suwung. Haduh rontok mentalku. Dan penyembuhannya butuh diam setahun.

Tahun lalu aku bertemu dengan orang-orang hebat yang konsisten dalam kesosialannya. Selalu tunduk pada jalanNya. Beda denganku yang morat marit banyak alasannya. Ya soalnya aku kalau nekat fokus satu usahaku harus selesai.

Barangkali hanya ikut beberapa pertemuan. Dan utang pertemuan pun masih ada yang belum terlunasi. Ini jadi bayang-bayang yang menggelatung di mimpi. Berkali-kali monologku berkata segera bertemu lunasi pertemuan itu dan balik menulis. Biar agak tenang.

Tahun ini ada lomba novel aku selalu menantang diriku sendiri untuk ikutan. Minimal latihan menulisku lebih lentur. Tentu aku masih ada janji pada diri sendiri untuk jalan-jalan ke Bener, Kali Gesing, Pituruh, Bruno dan Pantai Gowok. Semoga lekas terlaksana. Kayaknya si nganggur tapi kok ya ada kegiatannya.

Satu perkataan Ibu : “Obatmu ada pada semangatmu,”

Satu perkataan Dokterku : “Obat ini cuma 50 persen 25 persen lingkungan 25 persen semangatmu,”

Satu perkataan Mas Wis : “Nek loro ra usah dirasake ben ra loro,”

Perkataan yang wajar karena masih muda waktu itu.

Udah ah…. antrian dulu…

Purworejo, 14 Januari 2019

**Iseng ditulis pada antrian RS duduk manis. Depan Poli Dalam I :)) sementara di Poli Ortopedi Pak Dr Febrilian nya masih bedah operasi “dokter romantis”

Hitungan Jarak Cinta


Hitungan Jarak Cinta

Karya : Hang

Mengitung jarak dan tetesan bensin yang keluar. Dan menghitung jarak dorong motor jika kehabisan bensin. Itu gunanya jarak memisahkan kita Say….

Begini uraiannya : hitung adalah langkah. Bensin adalah daya. Jika daya habis maka dorongan (cinta kasih sayang) kamu yang menguatkan oleh sebab menggantikan daya alternatif lewat mimpi-mimpi dan bayang-bayang yang nyata.

Hidup adalah daya dorongan. Tanpa dorongan mana ada kehidupan. Tumbuh itu dorongan.

Tahun lalu aku pernah mendorong motor karena kehabisan bensin plus tidak berhitung. Terbilang malu ndak berani mau utang duluan padahal doaku udah komat-kamit terus saat pertemuan itu. Tahun pun terulang bedanya malah dapat kenalan kayaknya cocok buat judul tulisan. Ini hoax. Jangan percaya.hahaha

Misal kuberikan judul “tak semini pom cintaku pada dunia,” kurang liberal dan kapitalisme apa pikiranku kayak gitu. Untung mau diutangi walau dalam wajah yang meragukan. Maklum udah malam helm tak lepas ketahuan rambut gondrong. Dengan memohon akhir angcir pulang rumah dan balik lagi beri uang. Dan hujan pun jadi hiasan malam itu. Apa komentar Mbaknya? “Wah jadi basah ya,” jigur batin ku. Kalau hujan basah kalau cinta ndak bakal jauh-jauh.

Ketimbang tahun lalu. Ucapin salam. Salaman. Mohon maaf. Etika banget. Jaraknya masih 10 kman lebih banget. Kemarin si cuma 4 km kalau nekat si bisa. Paling lemas sampai rumah.

Tahun salahnya cuma satu kepercayaan diri terlalu tinggi. Padahal batin dan logika berkata “Ini habis bensin ntar lho,” lain waktu pun berkata “Namanya lapar perlu makan,” dua hal yang bentrok dan akibatnya aku kenyang tapi malamnya aku dorong motor. Sempat duduk dijok motor seberapa waktu siapa tahu ada yang membantu dorong ya. Tapi makin ditunggu makin tak mampu kuat dinginnya malam. Merinding apalagi gelap-gelapan. Hanya sorot lampu lalu lalang motor mobil jadi teman perpaduan sepi. Dekat kuburan pula.

Dah gitu aja….

Tapi makasih ya mbak tahun ini dan tahun kemarin mas atas bantuan bensinnya. Moga barokah. Kalian memang karyawan dan pemilik toko tapi hatimu milik Tuhan. Soal nama biar aku yang tahu. hahahaha 😁

Purworejo, 13 Januari 2019