Rahim Bukan Tempat Bermain-main


Rahim Bukan Tempat Bermain-main

Karya : Hang

Desa itu hanya rahim dari kita untuk berkembang dewasa. Sedangkan kota itu tempat jelajahan saat kita dewasa.

Rahim itu harus diberikan gizì untuk berkembang dengan baik agar tidak heran, tidak kaget saat menelaah sesuatu.

Kita menilai rahim dan tempat jelajahan itu sama saja. Konyolnya sekarang tidak ada paham perbedaan antara rahim dan jejalahan.

Lebih parahnya rahim akan dijadikan jelajahan. Gila. Manusia tidak lagi hormati rahim hanya saja selalu rindu ingin untuk menikmatinya. Kemudian jadi tempat jelajahan.

Kota dan desa akan disamaratakan pikirannya. Desa tidak lagi berekonomi sebagai perdesaan tapi semi kota. Toko-toko mart menjamur membuktikan fakta itu ada. Toko-toko desa lama-lama melayani diriya sendiri.

Emang masih ada tapi bandingannya kecil dan ada juga pasar ditengah desa, orang jualan sayur yang keliling tapi kecil. Tetap saja mart antara kebutuhan sekaligus penjajah juga. Fungsi masing ambang-ambang. Seperti kotoran bau tapi bisa jadi pupuk yang menyuburkan.

Harapannnya desa tetap jadi rahim dan kota jadi jelajahan bermain kita. Desa ya desa. Kota ya kota. Tetaplah begitu. Itulah harus dipertahankan.

Tubuh manusia itu bertumbuh ada maksimal. Tapi tubuh pikiran itu bertumbuh tanpa maksimal suka-suka mau dititik berapa angkanya. Begitu jadi perbuatan maka akan terjenggal oleh hukum dan norma apalagi agama lebih juga budaya.

#WaraWiriHariIni

Purworejo, 18 Februari 2019

Iklan

Membedah Berbeda Pilihan


Membedah Berbeda Pilihan

Karya : Hang

CEO BL beda jalan pilihan. Itu dia lah aku sama ortu aja beda pilihan gaya tidur biasa aja. Selera makan kami beda. Pilihan politik kadangkala sama beda pun juga pernah.

Nanti kalau berbeda gini ujungnya pada etika sopan santun. Sekalian aja kamu harus tanya ortumu pilihan politiknya apa terus ikuti jangan beda takutnya jadi trending topic tu #UninstalJadiAnak istri nurut sama suami tu. Jangan beda nanti #UninstalJadiIstri atau #NambahIstriLagi2019 lebih bahaya kalau ukuran berbeda aja tak boleh.

Tagar ganti presidem takut ceo beda pilihan geram shalat jumatan dipolitisir caleh bunuh diri dibelok-belokkan. Manusia macam apa gini ini.

Jika  akal dibendung maka berbahayalah negeri atas kekuasaan. Plin plan sudah terucap rakyat sudah tahu. Terus mau bertingkah apa lagi?

Huffttt

Semua akan lucu pada waktunya. Kita tawa sajalah…

#PurbaPolitik4titik0

#RevolusiJawabannya

Purworejo, 15 Februari 2019

Perjalanan Ahad


Perjalanan Ahad

Karya : Hang

Tiga tempat ku kunjungi kemarin hari Ahad. Seren kemudian ke utara dikit (rahasia) dan Telkom Kutoarjo.  Sebenarnya habis tempat pertama mau ke Bruno. Gagal belum ada kontak lancar. Apa yang menarik?

Di kunjungan yang kedua aku belajar apa itu kehidupan.

Beliau orang yang berpikir sederhana. Tidak ada yang mempersulit baginya dalam proses kehidupan. Bahkan untuk sebuah biaya kehidupan sehari. Enak untuk dijawabnya.

Keadaan rahim perempuan. Di pertigaan bangunan sekolah tinggi dan megah. Banyak siswa baru pulang sekolah. Terdapat tiga bocah anak jalanan. Ada yang ditindik hidungnya. Baju udah lusut, rambut rapi, baju sudah kumal. Sedangkan remaja perempuan. Kutafsir masih belasan mungkin umur-umur SMPan. Duduk dengan diam yang mungkin menahan kelaparan. Sedangkan dua remaja lelaki yang sibuk dengan jreng-jrengan gitar kecilnya.

Dan di Telkom Kutoarjo aku melihat rahim perempuan yang dibuahi dengan percintaan sedang diadu argumen siapa harus bertanggung jawab. Apakah iblis atau lelaki duduk di sebelahnya?

Sedangkan sekelompok muda-mudi rumit dengan tugasnya kuliahnya sedang sibuk mengcopas pasti artikel dari mana-mana. Terpenting jadinya tebal. Maka nilai jadi baik.

Ada dua orang muda yang serius dengan game online ketika kalah mengumpat. Seriusnya melebihi diujung sana soal percintaan.

Mereka sedang bercumbu. Bibirnya beradu argumentasi. Tidak pro zina itu kan hanya formalitas negara saja biar dianggap melindungi moralitas bangsa. Cek aja berapa banyak video yang berbugil ria, atau tanya jawab yang agak nakal. Yaudah di fesbuk deh banyak ratusan. Apakah ditangkapi? Menurutku bukan solusi. Solusi adalah potong jalannya untuk akses kesana. Dengan jalan pikiran terbuka benar-benar terbuka akan tetapi terfilter.

Besuk kemana lagi tanpa janjian. Pergi begitu saja.

Kutoarjo, 04 Februari 2019

Tiba-tiba Dendam Meradang


Tiba-tiba Dendam Meradang

Karya : Hang

Selama 60 menit dada ini berkecamuk soal pasar. Keriuhannya di pinggir jalan. Mencari pembalasan atas dendam-dendam yang bertumpukan. Mengendap dan berhenti total di angan pikiran.

Bila kuluapkan dengan sebilah pisau makan aku akan berlumpurkan darah. Bila kudiamkan ada dua halnya harus kulakukan yaitu diam lalu berhenti untuk dendam, diam lalu memaafkan walau tak minta.

Melupakan peristiwa paling pedih adalah mustahil. Tidakkah aku hanya manusia biasa. Emosionalku belum tertata. Tidak seperti gelapnya malam yang serentak gelap. Aku masih berwarna-warni. Bisa apa saja. Sesuka hati. Tidak melulu hitam pun putih. Bebas raya.

Dendam telah lama merayu untuk membunuhnya. Rencana mengawasi gerak-gerik semua terjelaskan. Namun sisi lain aku masih berpikir jernih soal akibat sebab, untung rugi. Manusia memang tidak boleh gegabah dalam mengelola amarah dendam. Perasaan dendam mematikan pola pikir yang sehat.

Keinginan membunuh atas nama dendam beberapa kali ia datang tiba-tiba. Oleh karena pikiran yang kosong. Lalu diwaktu lain tiba-tiba lupa akan peristiwa tersebut. Namun berbeda waktu peristiwa itu utuh teringat jelas dengan tingkah polanya yang menjijikkan sebagai sesama manusia.

Amarahku kepada dendam adalah sudah mendekati puncak kemudian turun dratis oleh kediamanķu tak mau tahu lagi. Sekarang aku agak tenang dan merasa menang oleh mengalah rasa dendam.

Tentu kemudian aku tak membunuhnya secara fisik tapi non fisik yang menghantuinya akan terus jadi hantu berat. Bergentayangan setiap ia mengingat.

Bagaimana membunuh dendam oleh karena amarah terhadap orang lain? Ya lupakan, diamkan, kalau tidak mampu baru serang fisik. Cara terakhir adalah cara buruk maka harus dihindari oleh yang masih berakal sehat. Menterapikan hati yang berdendam itu juga perlu. Mendekatkan kepada renungan hidup.

Cara mematikan rasa dendam itu memang dengan melakukan kegiatan mandi, nonton film, jalan-jalan.

Dendam itu tidak utuh hitam gelap tapi emang berat sekali untuk menerima atas perilakunya.Ia datang tiba-tiba kemudian pergi dengan hal yang sama.

Pisah adalah ungkapan terbaik untuk melepaskan dendam. Tubuh yang makin bertumbuh. Dendam akan makin layu, namun ingatan terus menajam.

Dendam kesumat namanya. Oke kali ini 2080 akankah soal pancasila, agama, moralitas masih jadi acuan untuk hidup. Dan bukan kebebasanlah dalam hidup untuk dirayakan bersama. Kemajuan teknologi memudahkan kita untuk berdendam.

Dendam paling mengerikan adalah dendam disaat video panas disandera pasangan yang belum sah kemudian tersebar emang betul pelakunya dipenjara beberapa tahun tapi dada detak jantung, pikiran dan tubuh panas itu telah tersebar.

Menjadi korbannya bukan hanya beberapa tahun sebagaimana hukuman pelaku tapi seumur hidup jadi kurungannya selama mengingat peristiwa.

Itu baru kasus dua sejoli yang saling cinta kemudian menjadi saling dendam. Kemudian diperbesarkan lagi kalau dendam itu berupa massa kepada penguasa. Kelak dendam itu akan berlipat-lipat ganda. Sebab tipuan muslihat apalagi yang hendak dilakukannya?

Semua kebanyakan massa sudah titik dendam ingin menggantikannya. Dan dengan kegugupan kegagapannya menjawab persoalan kini makin terjebak dalam lumpur-lumpur dendam.

Revolusi adalah jawaban untuk membersihkan dendam-dendam tersebut. Seolah malam yang gelap membenci pagi yang terang. Walau keduanya adalah kesatuan waktu tak mungkin dipisahkan.

Jika dendam masih berkecamuk di perputaran massa kali ini. Kemungkinan 2080 akan jadi jalan kenangan didalam pikiran-pikiran berakal sehat.

Kita merdeka belum lama. Dewasa sebuah negara tentu akan diuji terus menerus. Arah bangsa masih berubah-ubah sesuai kemauan kekuasaan.

Maka dendam yang baik adalah tidur. Menggantikan mimpi hitam putih dengan berwarna warni.

Purworejo, 03 Februari 2019

Sebuah Tugas


Sebuah Tugas

Karya : Hang

Tugas presiden itu mencerdaskan bangsa tapi juga bukan dengan pertanyaan kuis nama-nama ikan. Menyejahterakan bangsa tapi juga bukan dengan pembangunan tol yang ugal-ugalan tidak diperhitungkan fungsinya. :))

Itu kewajiban dari konstitusinya ;

-Mencerdaskan bangsa -Menyejahterakan bangsa

Jadi presiden tanpa mampu melaksanakan 2 hal itu. Ya kita tahu 5 tahun tidak akan membalikkan bumi bangsa secepat berkedip mata. Akan tetapi format langkah harusnya minimal seimbang dong pembangunan beton tanpa pembangunan otak. Hal demikian akan mengacaukan peradaban.

Minimal dicicil terus mana tontonan yang mencerdaskan? Semua kapitalisme diukur dengan kekayaan. Coba deh lihat sinetron kita pasti rumah-rumahnya bagus. Tapi masih aja selingkuh, ribut keluarga dll.

Dari pagi pukul 06.00 wib sampai balik lagi bagi dengan pukul yang sama. Berapa acara televisi yang mencerdaskan? Begitu juga sosmed. Isinya ya gitu-gitu saja. Lautan yang beraneka ragam ikan dan karang begitu juga sampahnya. Mirip.

Revolusi mental sudah pasti gagal. Nyatanya orang mabuk miras oplosan banyak. Politisi mabuk janji dan omongan juga tidak sedikit. Begitu juga agamawan makin gregetan dan gencar melawan dengan porsi lucu-lucannya.

Semua jadi tontonan infotaiment berubah politictaiment. Mau menghadapi peradaban manusia kedepan masih gini-gini aja? Ragu deh.

Rasa kemanusiaan saja dipermainkan. Ia jadi alasan tapi untuk menipu. Betapa bahayanya hal ini. Apalagi kalau memutuskan keputusan publik tapi tidak matang. Itu sangat berbahaya dan hanya jadi polemik saja.

Jadi presiden tanpa melaksanakan hal tersebut sudah inkonstitusional. Tidak taat pada konstitusi.

Purworejo, 02 Februari 2019

Gulingkan Presiden


Gulingkan Presiden

Karya : Hang

“Presiden harusnya cepat-cepat turun jabatan. Kita semua jadi bodoh bukan lagi nambah cerdas sebagaimana perintah konstitusi mencerdaskan bangsa telah gagal,”

“Makanya aku nikahnya sama kamu Pap. Biar cerdas. Anak-anak pun cerdas,”

“Apa yang diharapkan negara kalau didalamnya ada dua kelompok tak damai. Cebong dan kampret,”

“Cebong itu yang kecil mirip kecabah?”

“Itu sprema Mam,”

“Wah hoaks dong kayak kecabah tapi cairan,”

“Itu hoaks kalau pakai mata telanjang tapi pakailah kaca pembesar untuk melihat sebenar-benarnya,”

“Kayak informasi gitu harus jelas asal usulnya,”

“Iya gitu. Kayak milih jodoh. Makanya milih Mam asal usulnya jelas,”

“Mau ribut?”

“Ndak Mam yang cakep,”

#MamPap

Purworejo, 01 Februari 2019

Arti Golput di Mata Jomblo


Arti Golput di Mata Jomblo

Karya : Hang

Jangan takut jomblo itu adalah proses kehidupan begitu juga nikah dllnya.

Kemarin-kemarin semenjak isu bocar bocor soal apa kisi-kisi debat. Ya sudah golput adalah sebuah pilihan yang akan banyak dipilih. Apalagi ketidakpastian tingkah sudah dipertontonkan. Kurang akal apalagi? Kurang alasan apalagi?

Golput selalu ditakutkan oleh pertahana semakin banyak pilihan tersebut maka sedikit kemungkinan menang. Itu kayaknya jadi rumus. Makanya kalau ada yang “mengajak” golput orang-orang pertahana lebih marah-marah. Seperti mitos yang jadi hantu kelak jadi kenyataan.

Sekarang ini apa yang diharapkan? Keduanya tidak saling banting argumentasi di debat kemarin. Malahan emang hampir mirip cerdas cermat. Ini pukulan telak buat wasit.

Terus siapa yang bertanggung jawab jika pemilu banyak yang golput? Ya mereka yang jadi wasit. Punya ide untuk berbedat macam begitu. Dan dua kubu yang kurang mempertontonkan akal sehat tapi akal-akalan.

Hari ini ada aksi soal golput bukan pidana. Mau apa sekarang? Yang pemula akan tahu. Sifat pemula di acara pemilu baru ikut-ikutan belum kritis.

Sudah berapa kebatalan soal masalah publik atau pribadi yang terlanjur beredar? Mau kuhitung apa hitung sendiri. Huehuehue

#2019AkuAnakRevolusi
#NulisLagi

Purworejo, 31 Januari 2019