Negeri Ngeri, Filsafat

Bunga-bunga yang Berguguran


Bunga-bunga yang Berguguran

Karya : Hang

(Gambar diambil dari Pixabay)


“Jangan-jangan menikahmu bukan kasih sayang, cinta-cintaan tapi saling memanfaatkan,”

Aku jauh lebih menarik dengan pertanyaan “Kenapa si nikah yang atas nama Tuhan pun dipermainkan? Ada cerita cerai, nikah lagi, konflik, umbar aib dalam rumah tangga, saling menyalahkan.Kita tidak tahu esok kalau hari ini berhenti.

Beberapa hari yang lalu kita merasakan hari kasih sayang. Beberapa kaum warga negara menolak, ada pula yang asyik-asyikan saja. Makanya, jikalau Valentine bukan budaya asli kita maka ;Budaya kita ; hobi dalam penunggingan diantara semak-semak yang disimak kebanyakan orang-orang.

Dan entah siapa, apa, kenapa dan mengapa bisa terjadi belum juga terjawab. Selain itu ada banyak isu ekonomi yang menujam ke bawah.

Ditambah isu-isu keamanan, politik dan sosial yang terjadi maka akan menjadi kegelombang ombak kecil terus menerus membesar kian siap menghantam istana itu sendiri.

Ada kasus yang nerulang dalam puluhan tahun terakhir. Abrosi janin secara ilegal. Dalam waktu 21 bulan operasi sebuah klinik tanpa nama menggugurkan 900an janin bayi. Berita terheboh. Badan resmi PBB, MUI, DPR oh mungkin Presiden mau  ributin hal ini? Ndak bakalan. Angin kasus begini akan cepat berlalu.

Lebih panas dari virus Corona di Tiongkok. Ini adalah pembunuhan massal. Secara sadis dan kejam.

Dan masih banyak lelucon lainnya. Buronan yang disayembarakan dengan hape canggih, salah ketik pada sebuah pembahasan undang. Benarlah pembodohan sedang berkelanjutan.

Purworejo, 18 Februari 2020

Ceritaku, Filsafat, Negeri Ngeri

Anak Imut dan Tiga Bocah


Anak Imut dan Tiga Bocah

(Gambar diambil dari Pixabay)

Karya : Hang

Sore kemarin aku bergerak cepat melintasi jalanan desa-desa. Dan jalanan yang masih rusak memaksakkan untuk memelankan laju tanpa ampun aku menggebre kecepatan. Sebab mendung sudang memayungi sekitaran jalan. Lalu aku sampai tujuan di alun-alun yang belum jadi.

Aku jalan berkelilingi menemui wajah-wajah nan sepi. Ada yang sedang aduhai dengan pasangannya asyik mesra menggodai. Ada yang berlarian mengejar kesepiannya memanjakan diri. Ada yang wajah kosong tidak menatap apa-apa seperti sedang mengincar sesuatu. Ada juga yang sedang kebingungan memposekan diri gaya fotonya macam gimana.

Lanjutkan membaca “Anak Imut dan Tiga Bocah”
Ceritaku, Filsafat, Negeri Ngeri

Dendam Politik dibalik Peduli Lingkungan


Dendam Politik dibalik Peduli Lingkungan

(Gambar diambil dari Pixabay)

Karya : Hang

Masalah pembangunan yang ada di Monas dipermasalahkan bahkan istana dengan lantang perkeras suaranya. Partai pengusung presiden pun begitu. Bicara soal lingkungan. Bicara soal hutan. Hijau-hijauan. Sungguh mengejutkan sekali pola pikiran mereka peduli.

Namun konon banyak berita yang beredar bahwa lubang-lubang akibat tambang yang belum ditimbun lagi. Dijadikan hutan kembali itu telah memakan korban. Puluhan anak-anak meninggal dunia. Puluhan orang tua kehilangan anak-anak mereka.

Lalu sekarang mereka baru bicara begitu. Apalagi hutan asli sudah banyak berkurang alasannya untuk perkebunan sawit. Kerusakan alam kian luas sekali. Tapi hanya peduli setitik itu karena dendam politik masa lalu. Jangan-jangan untuk menutupi jembatan yang ambruk hanya waktu sehari setelah diresmikan. Kemana itu kasusnya? Hilang begitu saja.

Jika memang tak mengharapkan Monas untuk diperbaiki mengapa setelah 85 % hasilnya ada baru berbicara? Negara makin gawat jikalau pejabatnya main akal-akalan saja. Tutup kebohongan dengan serangan heboh.

Mau berapa tumbal peradaban yang akan dipersembahkan lewat kerusakan alam ini?

Purworejo, 31 Januari 2020

Ceritaku

Sebatas Bangunan Tua


Sebatas Bangunan Tua

Karya : Hang

(Gambar diambil dari Pixabay)

Raja KAS hari-hari ini bikin heboh di sebuah daerah Purworejo Jateng. Masalah realita sosial sebuah gambaran negara tidak sepenuhnya hadir dalam keadilan, sosial dan perut-perut yang masih kelaparan, atau kegagalan dalam mencerdaskan literasi. Ini sebatas opiniku yang memandangnya dengan sudut pandangnya berbeda.

Soal “iqro” bukan hanya sekadar membaca kata-kata berupa huruf melainkan sudah melampaui lompatan jauh sekali. Kita harus sadar membaca lingkungan. Maka jika manusia tidak mampu iqro akan sama sekali buta. Dapatnya hanya kebohongan saja yang kemudiam dihimpun lagi dan menyebarkan kembali. Dan ini sering terjadi.

Ini menjadi berbantahan balik pentingnya sekolah 9 tahun sebagaimana spanduk-spanduk yang dipasang di banyak sekolah dasar dan balai desa. Sebaliknya Presiden mengatakan hal lain “Bukan ijazah yang kita butuhkan tapi ketrampilan,” ini juga menjadi kenyataan yang pahit rasanya.

Purworejo ini menarik hutan pohon-pohonnya di dalam kotanya masih ada. Menyenangkan bagiku sendiri. Aku masih cinta hari ini kepada kota ini. Entah sekian tahun lagi.

Peristiwa heboh begini ada segi yang harus dipelajari menurutku ; bagaimana dia merekrutnya? apa yang dia janjikan? mengapa ada yang mau ikutan di dalamnya? Dan masih banyak peristiwa penipuan-penipuan lain yang jumlah korbannya ribuan kali. Ada apa dengan kita ini? Tergiurkah untuk cepat mendapatkan kekayaan harta? Atau bagaimana?

Orang ini sudah bermain lama dalam halaman pencarian Google misalkan kita akan mengakses masa lalunya. Bagaimana kasus-kasusnya dan kehidupan si Raja tersebut.

Harusnya pihak keamanan dalam waktu yang singkat tak berlarut-larut untuk menyelesaikan ini. Jangan sampai ada bentrokan fisik dan non fisik. Bagi yang akal waras tentu ini akan jadi bahan riset sosial bagi yang emosional jadi bahan hujatan di medsos.

Alih-alih cepat kaya malah kekayaannya disita negara. Lah mendingan ngaku kaya agar cuma pengakuannya yang disita bukan termasuk kayanya. Simpel kita kalau mau menertawakannya. Tertawalah selagi ada bahan tertawaan yaitu diri sendiri. Ketika aku membaca ada pengakuan seseorang sebagai rajanya dunia. Maka sejak itu aku percaya sejarah itu penting untuk dipelajari, ditulis kembali dan terus dibicarakan. Agar tidak putus cerita agar tetap original walau hal ini susah kecuali dilakukan atas kesepakatan bersama-sama.

Ia dijadikan raja kemudian menimbulkan kehebohan nasional. Utamanya jagad medsos karena kita sepakat hal itu sebuah keanehan. Kalau misalkan kita membaca berita anak bayi dibuang di selokan, sungai panjang, perselingkuhan hukum, politik dan cinta kasih yang membutakan. Banyak turut diam-diam saja. Kenapa? Kita telah sepakat juga hal demikian sudah “biasa” apa adanya.

Di Grup WA misalkan seseorang mengunggah foto mesum dengan blur tentunya. Kami meramaikan? Ya tentu dengan pertanyaan “mengapa diblur ciuman sepasang kekasih itu?” Maksud adminnya memberikan pelajaran agar tidak meniru. Bàik? Iya tapi kenapa ada yang tak sepakat juga. Sudut pandangnya berbeda.

Sama halnya apa rasanya jadi tetangga kerajaan itu? Pasti susah tidur terganggu rasa kesosialannya.

Purworejo, 14 Januari 2020

Ceritaku, Cerpen, Cinta, Tak Berkategori

Bu, Apakah Kau Menyiapkan Secangkir Teh Untukku?


Bu, Apakah Kau Menyiapkan Secangkir Teh Untukku?

Karya : Hang

(Gambar diambil dari Pixabay)

Rasanya sudah lama sekali aku meninggalkan rumah. Padahal baru sekitar tiga bulan yang lalu. Alhamdulillah, malam ini atas ijin Allah aku diperkenankan pulang. Tapi tak seperti biasanya, aku pulang tanpa mengabari ibu terlebih dulu.

Puncak malam telah lewat beberapa saat lalu ketika aku sampai. Dari luar, sepintas tak banyak yang berubah. Beberapa pot bunga tersusun rapi di teras. Sama seperti terakhir aku meninggalkan rumah ini. Bahkan bau cat pintu dan jendelanya masih bisa kucium. Aku sendiri yang mengecatnya. Dua hari sebelum hari raya.

Aku masih ingat. Sedikit lucu juga. Dulu waktu mau mengecat pintu dan jendela tersebut, aku dan ibu sempat berdebat menentukan warna apa yang cocok.

“Hijau lebih bagus,” kataku.

“Cokelat.” Ibu bersikukuh.

“Ya udah, pintunya hijau, jendelanya cokelat.” Aku menawarkan opsi.

Setelah melalui negosiasi alot sepanjang hari, akhirnya ibu mengalah. Padahal kalau dipikir-pikir, cokelat sepertinya lebih bagus. Warna hijau malah bikin rumah mirip markas salah satu partai politik.

Dulu tiap kali pulang dari kota, sehari sebelumnya aku selalu mengabari Ibu. Agar malamnya beliau tak perlu mengunci pintu. Jadi aku tak perlu membangunkannya untuk membukakan pintu. Tapi ibu pasti selalu menunggu. Semalaman terjaga. Menanti putra kesayangannya pulang. Padahal bus sampai di kampung sekitar jam 2 dini hari. Lalu begitu melihat putranya ini, beliau akan memelukku, menghujaniku dengan pelukan seolah aku anak kecil. Kadang terasa risih kalau disambut begitu. Meski diam-diam aku merindukannya juga ketika berada di kota metropolitan.

Secangkir teh hangat selalu ibu siapkan.

“Biar tambah tenaga. Pasti capek kan delapan jam di dalam bus,” kata ibu.

Apakah engkau menyiapkan secangkir teh itu untukku, Ibu?

Pelan sekali aku melangkah. Rupanya pintu tidak dikunci. Jangan sampai ibu terbangun. Beliau pasti kaget kalau melihat putranya ini. Ternyata di dalam juga tak banyak perubahan. Foto ibu dan almarhum bapak masih tergantung di ruang tamu-selalu di situ. Satu buah kursi panjang dan meja dari kayu jati hampir tak pernah bergeser dari ruang tengah. Di tempat inilah biasanya dulu ibu mengajariku mengerjakan PR dan mengaji.

Di depan kamarku persis, sepeda motor itu diparkir. Sepeda motor kesayangan bapak. Sepeda motor yang kemudian otomatis menjadi warisanku ketika bapak meninggal setahun lalu. Sepeda motor yang sama yang kupakai untuk mengantar ibu ke mana-mana. Ke acara pernikahan, pengajian, ke kelurahan, atau pun ke kota kecamatan untuk sekadar makan bakso berdua. Dan sepeda motor yang sama juga yang menjadi alasanku pergi meninggalkan rumah ini.

“Ibu mau jual motor Bapakmu,” kata ibu. Begitu tiba-tiba. Membuatku kaget. Itu dua hari sebelum hari raya, setelah aku selesai mengecat pintu dan jendela.

“Lho kenapa dijual? Ibu butuh duit buat lebaran?” tanyaku.

“Motor itu selalu membuat ibu inget Bapakmu,” jawab beliau parau.

“Jangan dijual, Bu. Itu peninggalan Bapak satu-satunya. Kalau Ibu mau jual, biar aku aja yang bayarin.”

Sore itu aku melihat Ibu menangis.

Bu, maafkan ananda… sungguh waktu itu tak ada niat untuk menyakiti hatimu, Bu. Seandainya bisa, takkan pernah keluar kalimat tersebut dari mulut yang hina ini. Aku menyesal sekali. Sepanjang sore hingga malam itu aku mendiamkan Ibu.

Pedih rasanya mengingat semua itu. Harusnya aku menurut saja kata ibu. Harusnya kujual saja sepeda motor itu. Meski itu peninggalan Bapak satu-satunya. Meski tak ternilai kenangan tentang Bapak bersama sepeda motor itu. Tapi apalah gunanya semua itu dibanding ridhomu, ooh Ibu. Toh itu cuma benda. Tak lebih. Sementara kenangan akan tetap hidup dalam hati kita. Dengan atau tanpa benda tersebut.

Bu, aku rindu sekali malam ini. Apakah kau menyiapkan secangkir teh untukku?

Perlahan aku masuk ke kamar ibu. Kosong. Pasti di kamarku. Pelan sekali kaki ini melangkah. Benar saja, ibu ada di kamarku. Dan… ya Allah, beliau tertidur di atas sajadah. Masih mengenakan mukena. Di bawah matanya masih ada bekas-bekas air mata. Sebuah foto berbingkai kecil didekapnya erat. Fotoku. Sementara di meja kecil di samping tempat tidur aku menatap secangkir teh yang masih utuh.

* * * * *
Malam itu usai berdebat dengan ibu agar tak menjual sepeda motor Bapak, aku keluar.

“Mau ke mana?” tanya ibu.

Aku tak menjawab.

“Jangan terlalu malam ya, Nak, pulangnya,” tambah beliau berpesan. “Dan hati-hati. Jangan ngebut.”

Baru sekitar setengah jam keluar, aku menyesal. Segera kuputar balik menuju rumah. Terbayang semua yang terjadi tadi. Juga wajah ibu yang kian menua. Tak seharusnya aku berlaku demikian. Aku bertekad pulang, minta maaf ke ibu, dan kalau sepeda motor ini harus dijual, akan kujual.

Naas, di pertigaan dekat rumah sebuah truk lebih dulu menyambutku. Aku mati malam itu. Membawa penyesalan sampai ke liang kubur. Tanpa sempat mencium kaki ibu.

-Tamat-

Cibubur, 19 Februari 2015

Filsafat, Negeri Ngeri

Jalan Masa Depan Daerah Ada di Tangan Muda Tanpa Lepas Gandengan Tangan Tua


Jalan Masa Depan Daerah Ada di Tangan Muda Tanpa Lepas Gandengan Tangan Tua

Karya : Hang

(Gambar diambil dari Pixabay)

Aku nulis tentang kepemimpinan daerah. Soalnya #Purworejo tahun depan ada pilkada.

Apa harapannya?

Simpel kalau aku. Tumbuhkan literasi, bangunkan toko-toko buku, wajibkan 1 perpustakaan di rumah, RT, Desa, sediakan tempat bermain-main yang bebas dan luas.

Di kota ini sudah tumbuh akan adanya anak jalanan, orang dengan gangguan jiwa yang suka jalan-jalan, ketidaktertiban orang-orang di jalanan raya, tempat wisata, dan kurang antusiasnya urun rembug anak muda.

Lanjutkan membaca “Jalan Masa Depan Daerah Ada di Tangan Muda Tanpa Lepas Gandengan Tangan Tua”
Filsafat

Dialog Bayang Kehidupan di Masa Depan


Dialog Bayang Kehidupan di Masa Depan

Karya : Hang

Dari Pixabay

Paling penting sekarang dilakukan manusia adalah diam pada porsi yang tidak diketahui dan bersuara pada hal yang benar-benar mengetahui, orang yang beruntung diakhir zaman itu bukan yang kaya raya harta atau miskin harta, wajah ganteng, cantik tapi tahu tempat, waktu dimana kau berada ; jika kaya maka kau akan tidak sombong jika miskin maka kau tidak menyerah kesimpulan sementaranya “jika” dan diikuti “maka” adalah rumusnya ~anak tidak lebih pintar dari orang tuanya soalnya anak kalah dengan pengalaman walau yang muda tidak akan terus berpikir soal masa lalu melainkan gerak untuk masa depannya, lalu kehidupan ini akan berakhir bagaimanakah itu tergantung manusianya sendiri bersikap terhadap sehari-harinya apakah dengan sikap-sikap yang amarah atas kegagalan ataukah sabar berhadapan dengan ujian hidup dan semua hal demikian akan berdampak serius–aku sangat kasihan sama orang-orang yang begitu terjebak pada tulisan olok-olokannya, ceramahnya udah terlanjur tersebar entah sebab aslinya begitu ataukah emang sedang dijahili orang yang mau membentur-benturkan umat agama lain orang memang bisa berpikir dan bersikap berbeda-beda tentu saja sebab bagaimana pun kapasitas mendengar dan menerima materi yang sangat sensitif saja akan dimaknai tidak sama kita ini hidup dalam berbeda-beda dengan sudut pandang yang sudah tidak karuan bedanya jadi hati-hatilah untuk bicara dan menulis~sedih itu berbalasnya di media sosial yang mungkin bisa dilihat oleh setiap generasi yang lalu bahkan masa depan aku bisa melihat kekerasan penyembelihan orang kepala yang terputus tanpa sensor sama sekali dan lain lainnya tentu kalian akan maksud setelah apa yang kutuliskan soal tanpa sensor bagian apa semua orang pernah melihatnya di zaman sekarang yang sudah terbuka sama sekali mencari musuh sangat gampang tinggal nge-tag orang di sosmednya, dan atau memberikan komentar sinisnya adu paduan yang jelas tiada akhir sebenarnya akan berakhir abadi sampai kita mati~renungkan itu akan menjadi jejak-jejak digital yang lebih susah dihapus daripada ingat aku pada mantan, sekali lagi jangan terjebak dalam pertengkaran di sosmed yang akan abadi soalnya dan bisa-bisa tertanam menetap dalam jiwa.

#SebuahUtas

Purworejo, 3 Desember 2019