Kuasa Kata Jilid Ke Sebelas


Kuasa Kata Jilid Ke Sebelas

Karya : Hang

Adzan berkumandang begitu cepat waktu ashar menghampiri hampir malam saja rasanya baru tadi mandi tidur sebentar.

Mendung membuat waktu begitu cepat saja. Hidup datar memang. Rasanya capek mengetik dari tadi soal kuasa kata.

Suara itu saling bersautan satu sama lainnya. Berlomba-lomba memanggil para agamawan untuk mengerjakan kewajibannya.

Sementara dalam dunia maya tidak ada waktu berhenti. Untuk apa pun tak diperingatkan.

Dibiarkan bebas waktu berlalu. Bahkan seluruh dua puluh jam dilacurkan didalamnya pun. Mereka para penyedia layanan sosial media tidak akan peduli.

Menjadi kendali sosial media adalah kita. Akan berkata berhenti sejenak maupun lama adalah kita.

Namun godaan kata-kata apalagi rayuan kekasih baru, postingan mantan-mantan dan gebetan yang kemarin berkenalan.

Rasanya pengen bercandaan terus walau waktu serasa sebentar saja. Padahal menatap layar tidak lebar ini sudah lama sekali.

Trauma  bisa dikirim lewat perkataan kita namun juga daripadanya motivasi biasanya akan bisa ditancapkan masuk dalam jiwa. Dengan mudah apalagi dengan lagu yang merdu sekali.

Utama jika yang memberikan motivasinya adalah yang mengharukan. Secara otomatis akan mengikuti keakuratanya. Untuk menanamkan lebih keyakinan dan menjaga kebugaran berpikiran.

Kesibukan seiring waktu ekosistem alam akan lekas rusak. Bisa oleh sebab kata jahat. Kondisi membaik.

Mengacu pada yang tidak perhatian. Kalau hati cidera maka ditanggung pembaca kata yang dilempar oleh kita. Maka membaca kata-kata dalam sosial media perlu ketenangan.

Jangan cepat penasaran dan wajib mengantisipasi masa depan yang menderita. Suatu kelak dilupakan dan hidup tidak sejahtera oleh akibat-akibatnya. Masa tua yang berbahagia.

Perlindungan daripada cidera terhadap pengobatan jika emosional ketika membaca kata bahkan puluhan kata. Menggapai rasa aman.

Perlu suatu perjuang yang penuh terpapar resiko. Menginsprirasi kita untuk menata kehidupan. Pada saat kita tidak mendapatkan prestasi daripada akibat perkataan.

Mengungsi untuk sesuap nasi yang dicari oleh para suaka dari luar negeri bahkan melacurkan diri untuk bertahan hidup. Mandi birahi nafsu bersama kita asalkan bayaran cocok.

Segala gaya di ranjang mau-mau saja dilakukan. Kalau sudah masalah perut apa daya orang lain akan diam dan tidak mampu berkata-kata selain prihatin.

Apalagi masih sebatas pecintaan seumur jagung muda. Belum ada ikatan sah agama dan negara. Tidur bersama di hotel bintang lima. Bahkan dalam kos-kosan sekalipun apabila nafsu sedang membara apinya akan membakar dimana tempat tidak akan perduli.

Terpenting terlampiaskan nafsu ranjangnya. Dan tertangkap bukti kuat alat kontrasepsi yang disediakan dalam dompet besar. Buka satu saja namun puluhan. Semacam persediaan yang emang disengaja.

Manusia begitu adalah dua tipe antara keterpaksaan melakukannya dan sudah jadi pekerjaan yang walau sudah disadari sebagai perbuatan hina. Kita melihatnya sebagai kejahatan sampah masyarakat.

Stigma perkataan kita akan pelacur emang menyedihkan. Wanita malam begitu banyak. Wanita bergadang ria pun banyak. Wanita yang terjebak bujuk rayu sosial media melakukan perselingkuhan pun tidak hanya sedikit yang berujung pembunuhan dan penceraian.

Belaku juga untuk para lelaki yang mudah mencari mangsa dalam sosial media. Postingan yang galau-galau pasti dalam incaran. Kemudian kita akan terus membujuk rayu hingga perkataan itu benar-benar merasuk dalam jiwanya.

Jika kemudian berhasil maka akan melakukan pemerasan dengan mudah lwat buaian kata-kata mesra dan nafsu birahi yang biasanya akan dibalas dengan menerima dengan lapang dada yang kemudian jadi alat ancaman. Selama itulah perempuan itu akan digunakan sebagai alat pemuas nafsu birahi.

Perkataan membawa emosional mengungkap kekesalannya. Selingkuh dengan kata. Isu perselingkuhan jalan dengan orang lain. Padahal sudah punya pasangan.

Ketahuan tidak mengaku. Awal mula pembunuhan diÄ·ata dengan perkataan yang lengkap dan tenang.

Apapun alasan berkata kita akan menghukum dan menjerat yang tak mungkin lagi terlepas seperti burung dalam sangkarnya.

Tidak menyangka sadis perubahan sikap menyebabkan akal tidak sinkronisasi. Alasan terkuat pembelaan kata pelaku keji adalah perselingkuhan.

Gagang cangkul penyebab tangan retak otak pecah. Apalagi kalau bukan penyebabnya adalah perkataan kita yang menyakitkan ditambah kemungkinan melakukan sibuk rayu  tidak lancar. Seks misalnya.

Seks adalah salah satu aktivitas yang bisa meredam kemarahan. Penyaluran seks akan menyehatkan sekaligus menyegarkan otak manusia. Jika dilakukan dengan benar yang begitu akan mendapatkannya.

Dikembang ke arah untuk persiapan-persiapan  penangkapan debat kata-kata diantara kita. Dengan tahu siapa siapa operasi target maka kita akan lebih mudah mempersiapkan perkataan yang tak gampang dibantah apalagi sanggah.

Terperangkap dan kemudian ditangkap akan masuk pada perkataan kita.

Asumsi kata-kata tergantung pada kita membacanya apakah dengan dalil agamawan apa opini ilmuwan yang hidup pada jaman dulu kala. Dua hal itu akan bisa mengakibatkan romantisme berbeda jauh dan tidak jauh. Dalam saat menyimpulkannya.

Purworejo, 23 Desember 2018

Iklan

Kuasa Kata Ke Sepuluh


Kuasa Kata Ke Sepuluh

Karya : Hang

Menulis adalah cara manusia menanam ranjau-ranjau dan jebakan nalar. Siapa yang terjebak maka dia yang akan terlena-lena. Mengangkasa terhembus terbang tinggi bagaikan para layang. Dan burung-burung yang bergembira menyuarakan untuk terpikirkan melakukan sesuatu.

Kita akan melihat air yang diam menjadi genangan yang kotor banyak menyebabkan masalah. Untuk itu berkatalah lewat perkataan-perkataan maka kita telah menyumbangkan pengursngan genangan berupa masalah. Sumbangan bonus daripadanya tersebut adalah ditunggu-tunggunya argumentasi yang cerdas.

Air yang bersih akan cepat digunakan sedangkan air yang kotor akan cepat ditinggalkan.  Begitu pula perkataan kata-kata kita. Akan disaring ketat oleh publik kecuali kita emang sepakat kata kotor juga suci dan tidak bermasalah jika diucapkan di arena publik tentu dengan ketentuan khusus.

Purworejo, 08 Desember 2018

Kuasa Kata Jilid Ke Sembilan


Kuasa Kata Jilid Ke Sembilan

Karya : Hang

Wakil rakyat emang harus pandai berkata. Beragumentasi membantah dan menunjukkan jalan yang benar terhadap jalan penguasa yang tersesat. Emang itu tugas utamanya. Kita akan kehabisan akal lewat kata kalau kritik seolah jadi sebuah kejahatan.

Bernafsu birahi saja sekarang kita harus berkata dengan mengajak cumbu perlu perkataan ajakan. Baik paksaan berupa kejahatan bahkan rayuan di atas ranjang pengantin muda maupun sudah tua berjenjang umur pernikahannya.

Selalu saja begitu. Kata bagi kita memang senjata untuk membantah perkataan yang lain kurang diakal.

Sekalipun keluar dari sang penguasa jika kata-katanya kacau. Maka mengkoreksi adalah hal kewajiban.

Purworejo, 08 Desember 2018

Kuasa Kata Jilid Ke Delapan


Kuasa Kata Jilid Ke Delapan

Karya : Hang

Iklan televisi adalah kuasa kata dimana semua bertujuan untuk menguasai nalar pemirsanya.

Kesediaan acara televisi dalam menayangkan keemosionalannya seseorang sedang bermasalah. Berikut itu adalah racun-racun perkataan yang terus dilancarkan kepada para kita yang menontonnya.

Memamerkan emosinya manusia-manusia lewat settingan cerita merupakan paling laris untuk ditunggu oleh kita. Ini sangat memprihatinkan yang sesungguhnya meracuni malah dinanti-nanti.

Sedang narasi kebaikan ditolaknya mentah hanya sebab kita menolak pemikirannya apa yang jadi penguasaan kata. Terhadap kita harus lekas pandai dalam memilah memilih siapa tontonan yang berkelas mutu dengan recehan berarti demi rating televisi.

Anehnya kita sangat menikmati tontonan tayangan televisi yang berisi hasil cerita daripada sebuah kejahatan yang diulang bagaikan cerita ulang.

Malah seolah jadi pembelajaran untuk cara-cara melakukan kejahatan. Bukan mencegah kejahatan. Rasa-rasanya begitu.

Purworejo, 08 Desember 2018

Kuasa Kata Jilid Ke Tujuh


Kuasa Kata Jilid Ke Tujuh

Karya : Hang

Kegiatan berkata-kata dilakukan sebagaian besar manusia emang untuk menguasai daya pikir yang lainnya. Baik untuk kebaikan dan untuk sekalipun keburukan semua adalah niatan hati.

 

Kita akan berlari sampai hayat  begitu pun peperangan kata tidak akan terhenti sampai literasi menjadi kebiasan hidup tiap hari. Mengelola perkataan dalam kehidupan untuk pembelajaran.

Sangat penting bagi semuanya mengetahui hal tersebut. Pernah berjuang bertatih-tatih latihan berkata-kata.

Menyapu sampah dijalanan mengumpulkan sekaligus membakarnya. Kita akan mendayu-dayu akan tetapi soal membaca dan mudah daripada untuk dibaca adalah kegiatan pikiran.

Banyak-banyak latihan. Dengan membaca buku sekaligus menonton lingkungan kehidupan. Penghidupan kata-kata tergantung pada kita menilainya.

Bisa saja kekurangan ada kelebihan bisa kembali bahwa kelebihanlah untuk menutupi kekuarangan. Bukankah manusia tugasnya menyapu kata buruk dan membakarnya.

Menjadi kan asap-asap itu menggunggung tinggi ke angkasa. Sebab ia adalah racun yang bisa masuk dalam tubuh mungil manusia.

Usang dalam usia yang telah akan usai. Hidup dalam kata disekitar kita banyak yang juara dalam kehidupan kalah dalam penyingkiran nasib-nasib yang ditentukan oleh  akan penilaian berbeda.

Pengurangan uang dibawa meja bahkan dibarter dengan pemuasan seks. Lewat kata sandi kita membaca bahwa ada koruptor bertransaksi. Di perhotelan berkelas sekaligus disediakan wanita penghiburnya. Berfoya-foya dua jam dalam mabuk jatah kata-kata rayuan kawan politik itulah jebakan.

 

Purworejo, 08 Desember 2018

Kuasa Kata Jilid Ke Enam


Kuasa Kata Jilid Ke Enam

Karya : Hang

Gambaran umpan kata dari lawan bicara harusnya dalam kondisi terperiksa lebih dahulu sebelum dibalas kemudian. Kata balasan kita akan menentukan daya nalar seberapa kuatnya.

Pernah tertipu oleh kata perkataan manusia. Terbuai rayuan. Dan sekejap tenggelam terpengaruh dalam nalar. Itu lah  kekuatan kuasa kata.

Caleg dan politisi semuanya menggunakan kuasa kata. Dan kita kalau tidak hati-hati maka akan terjebak dilumpur.

Tenggelam tanpa lagi bisa membedakan terang dan gelap. Kelihatannya semua indah di bola mata.

Rayuan cinta pun mematikan kita. Nalar jadi miring semua seakan tiada guna.

Bahkan nasehat agamawan tidak berguna lagi. Kuping tertutup nalar jadi busuk perilaku ikut-ikutan terkutuk.

Purworejo, 08 Desember 2018

Kuasa Kata Jilid Ke Lima


Kuasa Kata Jilid Ke Lima

Karya : Hang

Kata tak terbatas yang membatasi kita adalah cara pandang sudut untuk memahami perkataan kata-kata sebenarnya mau bilang nalar manusia memang tak terbatas tapi kebodohanlah yang membuat kebatasan.

Asalkan 1000 kata kemudian mampu 50 tulisan bisa jadi buku tebal. Cuma permainan dari sebuah (kata). Tergoda untuk menuliskannya. Kembali soal debat kata.

Lagi-lagi tersinggung karena tidak paham perkataan. Lewat kata-kata berdebat sepuluh jam berarti dengan justifikasi serangan pribadi. Kalau sudah tidak mampu menjawab perdebatan.

Terpojok dalam pendapat penggiringan opini satu-satu kesempatan adalah menyerang pribadi lawan. Itu rumus.

Makanya hindari manusia yang semacam ini. Dengan tidak terpancing umpan ikan-ikan berenang yang besar dan manis kelihatannya.

Padahal jebakan. Siap. Kita sudah nyerah deh emang ada demo yang diminta tapi demo masak di dapur pada acara lomba di televisi.

Kritik itu modelnya membedah masalah soal bangun membangun tergantung yang dikritik nyambung apa kagak. Kita emang masih terkungkung jika kritik harus membangun.

Tidak juga. Kritik itu harusnya mampu untuk meluruskan. Emang begitu dan tidak wajib berserta memaparkan solusinya. Tapi kalau diluruskan tetap berbelok kewajiban manusia adalah melepaskan kepemimpinannya.

Kalau ndak paham mau dikritik model apa ya percuma saja. Bisanya cuma ngancam nabokin, bikin takut lewat narasi hantu.

Kopi itu revolusi berpikir melek pikiran nalarnya. Ndak bakalan gampang tertipu narasi santun.

Itu kritik soal istilah. Demo itu apa? Dan dukung itu apa? Kita udah lucu belum apa masih nyinyir?

“Minta demo dukung” dalam sebuah judul berita padahal istilah itu tidak ada dalam kamus negara kecuali kuis televisi yang butuh dukungan. Ini tekanan kata-kata. Kalau masih ngeyel. Ya dungu.

Kita ini dalam sebuah demokrasi yang kadang isinya emang omong kosong doang. Dari omong kosong saja caleg bisa jadi, penjahat bisa menipu orang kaya dan berpendidikan. Semuanya sebab kuasa kata. Oleh mulut yang lincah bersilat lidah.

Purworejo, 08 Desember 2018