Kemanusiaan dan Televisi


 

Televisi-freepik
Televisi

Kemanusiaan dan Televisi

Karya : Hang

Televisi adalah alat imanjinasi yang setiap hari manusia hirup. Seperti nafas yang wajib jika tidak maka akan mati ketinggalan gosip artis. Maka dari itu banyak acara yang berimanjinasi buruk. Misalnya acara televisi yang hanya ingin memutuskan pacar saja kok sepertinya ribet sekali harus lewat pihak ketika. Membawa emosional segala dan ini memang disengaja agar menarik penonton. Serta membawanya kedalam alur cerita.

Sejarah itu kemurnian sejati tapi diangan-angankan lewat sebuah cerita. Maka ketika membaca sejarah keduanya adalah seiring seirama. Perpaduan yang amat dibutuhkan untuk kedua hal tersebut.

Kenangan dan angan adalah dua yang bercumbu di sebuah kemurnian. Rindu terperangkap dalam angan Kembali menuntun angan pada harap yang terbuang. Angan-angan dalam bayang merah putih kemerdekaan didepan mata direbut oleh kekosongan peradaban. Imanjinasi melahirkan kemurnian yang tak sempurna.

Malam beranjak dari senja. Sunyi yang bersembunyi daripada hirup pikuk negeri. Murni dan angan-angan menjadi lawan berikut harus berbalik jadi kawan. Seiring seirama lagu-lagu. Ruangan diantara ruang

Ujung kenapa kita harus wajib berilmu adalah supaya kita mampu berperikemanusiaan. Mengerti perbedaan ; menerima adanya perbedaan tanpa mengajak perkelahian.

Kalau ada orang berilmu lalu tidak mampu menerima perbedaan dan selalu mengajak perkelahian. Ilmumu tentang kemanusiaan runtuh begitu saja. Politik ujung tertinggi adalah kemanusiaan begitu juga agama.

Namanya kepala manusia tak terhingga perbedaan pun kesamaan. Kesamaan hanya waktu makan banyak ya kenyang, pas bercinta ya klimaks, pas tidak suka ya protes. Soal kemanusiaan menjadi rumah utama.

Sejarah panjang yang menjadi masalah adalah dunia kemanusiaan. Selalu mencari perbedaan dan memusuhinya. Tidak ada keromantisan dalam perbedaan.

Manusia memang bentuk-bentuk sosial. Ia memang mencari kesamaan dan menghindari perbedaan. Dalam lampau sejarah pun melakukan itu.

Perkelahian perbedaan itulah harusnya dimainkan dengan indah. Bukan yang menumpahkan darah dan ucapan kotor binatang di lantangkan di televisi. Ini memalukan, satu sisi mereka berilmu sisi lain melupakan rasa kemanusiaan.

Purworejo, 09 November 2018

Iklan

Rokok dan Dingin


Rokok dan Dingin

Karya : Hang

Sekarang curang rokoknya disembunyikan dibalik layar ketakutan candu. Kau benar-benar curang.

Aku tidak bisa candu pada rokok. Aku lebih candu pada dinginmu. 

Aku bisa merokok hari ini sebatang dan dilanjut bulan yang sama tahun berbeda sebatang lagi tapi ndak bisa menghilangkan dinginmu sedetik saja. 
Purworejo, 02 Januari 2017

Kir tan Cis Pel kai Dom


Kir tan Cis Pel kai Dom

Karya : Suhanggono
Parkir tanpa karcis ibarat ngencuk sama pelacur tanpa kondom. Sesuai keinginan tata logika kenikmatan berduanya.

Kalau karcis parkir itu diminta oleh pelanggan sama halnya pelacur meminta untuk memakai kondom si pelanggannya. Cuma beda logika pemakai dan permintaan.

Sayangnya pelanggan parkir itu kadang melupakan karcis dianggap tidak penting tidak seperti pelacur yang selalu taat dengan pemakaian kondom dianggap penting sekali. Logika kesehatan dan malas menyimpan kertas karcis. Beda padahal ditinjau dari ketaatan sama pentingnya. 

Begitulah karcis dan kondom. Soalnya aku pernah obrolan soal-soal kenapa si parkir tidak memberi karcis sebab si pelanggannya tidak meminta dan pelacur malah memwajibkan pakai kondom untuk si pelanggan. Logika kebiasaan aturan ketaatan.

#NulisLagi

Purworejo, 23 Desember 2017

Tanah Menangis


Tanah Menangis

Karya : Suhanggono

Jika duka ditangisi dan suka pun ditangisi Apalah arti kebahagian dan kesedihan

Bangunan kokoh tembok-tembok derita

Berdiri mencumbui malam-siang

Hujan angin bahkan senja dibalik kehijauan rumput pergunungan yang tersembunyi

Depan sungai besar mengular ditengah kota 

Banyak sampah plastik plembungan dan air liur ikan yang kawin

Gubuk reot bermandikan lumpur kehidupan

Deritanya tak begitu ketara 

Hanya mengejar sesuap nasi menyambung hidup
Riuh-riuh mulut beradu dipinggir kali

Tawar menawar diantara kegelapan malam

Sayur mayur hingga berapa harga sebuah matahari di musim hujan dingin 

Warkop ramai sekali dalamnya surga 

Ada togel ada judi ada nikmat kasur

Purworejo Kutoarjo 2017

Tanah Rata


Tanah Rata

Karya : Suhanggono

Pada akhirnya semua begitu 
Langit nampak biru berebutan putih

Mendung tak pekat cantik tak putih

Angin tampak diam pun daun tak melambai-lambai

Obrolan teras keras berteriak memanggil nama

Pintu kayu ia gedor-gedor berkali 

Dipikir ada razia sampah kamar ia didalam tetap tenang bersembunyi disunyian lalu sama-sama diamnya hilang

Tak lagi ada panggilan suara 

Hilang lenyap hanya ada rasa-rasa dendam 

Tipis setipis luapan udara hirup keluar masuk paru manusia

Sekarang semua berdiam diri berdiri dihadapan mayatmu mati beberapa saat lalu keracunan gas cinta 

Purworejo, Kutoarjo 2017

Oplosan Cinta


Oplosan Cinta

Karya : Suhanggono

Tidak ada cinta bagiku. Cinta hanya sebongkah tae kucing. Dikubur dalam butiran gunungan pasir yang akan mengeringkan bau kerinduan.

Cinta itu perasaan paling busuk. Sebusuk muslihat tipu menipunya. Cinta memang taek kucing.

Apakah manusia bisa mencintai tanpa berharap dicintai balik? 

Seperti malam yang diam terus berjalan tanpa menunggu kau ucapkan sayang ia tetap menyelimutimu dengan mimpi cinta. 

Mimpi. Hanya harapan yang membuat kematian manusia itu tertunda sebagaimana obat-obatan tidak menyembuhkan total hanya menunda tidak kembali sakit.

Purworejo, 16 November 2017

Oplosan Cinta


Oplosan Cinta

Karya : Suhanggono

Tidak ada cinta bagiku. Cinta hanya sebongkah tae kucing. Dikubur dalam butiran gunungan pasir yang akan mengeringkan bau kerinduan.

Cinta itu perasaan paling busuk. Sebusuk muslihat tipu menipunya. Cinta memang taek kucing.

Apakah manusia bisa mencintai tanpa berharap dicintai balik? 

Seperti malam yang diam terus berjalan tanpa menunggu kau ucapkan sayang ia tetap menyelimutimu dengan mimpi cinta. 

Mimpi. Hanya harapan yang membuat kematian manusia itu tertunda sebagaimana obat-obatan tidak menyembuhkan total hanya menunda tidak kembali sakit.

Purworejo, 16 November 2017