Angka Persen di Mata Netizen : Hoax Membangun


Angka Persen di Mata Netizen : Hoax Membangun 

Karya : Suhanggono

Masih heran kepada manusia yang super “bodoh” kenapa polling twitter saja dijadikan bahan diskusi bertubi-tubi panjang sekali.  Kemarìn malam iblis telpon dalam mimpi gelapku.

 “Kok imanjinasi kebodohan manusia sekarang melebihi iblis ya?” 

Maksudku polling itu kan hañya sekedar permainan angka tidak bisa dijadikan bahan diskusi logika. Dan tidak perlu dipikirkan secara serius. Baik polling pilkada-pilgub-pilpres. Akan banyak yang membuatnya dan pula yang membahasnya. Seolah data itu nyata dengan pada nantinya saat pencoblosan usai. 

Dan “bodoh” yang mempollingnya adalah wakil rakyat. Dia udah ketemu sekian mata kaki bahkan otak-otak pejabat tapi masih percaya polling gitu.
 Wah jan otak ayam ketinggal dibangku kuliah Om? 
Bodoh boleh tapi ndak segoblok itu. Hanya angka permainan kok dipercaya. Disembah bahkan jadi berita. Walah jan. Manusia kok pada aneh. Jadilah netizen berotak jangan berotot robot doang. 

Jadikan polling online itu sebagai hiburan saja tidak terlalu serius menanggapinya. Kepada pemilik berita agar memberikan konten yang mencerdaskan bukan membodohi publik dengan cara yang benar bodoh. 

Aku juga manusia yang meragukan survei kepuasan dll di televisi kecuali kata pengamat-pengamat yang melihat secara  kenyataan apa adanya. Tidak ada bumbu manis dan hoaxmembangun. *Eh
Purworejo, 8 Januari 2018

Iklan

Rokok dan Dingin


Rokok dan Dingin

Karya : Hang

Sekarang curang rokoknya disembunyikan dibalik layar ketakutan candu. Kau benar-benar curang.

Aku tidak bisa candu pada rokok. Aku lebih candu pada dinginmu. 

Aku bisa merokok hari ini sebatang dan dilanjut bulan yang sama tahun berbeda sebatang lagi tapi ndak bisa menghilangkan dinginmu sedetik saja. 
Purworejo, 02 Januari 2017

Tanah Menangis


Tanah Menangis

Karya : Suhanggono

Jika duka ditangisi dan suka pun ditangisi Apalah arti kebahagian dan kesedihan

Bangunan kokoh tembok-tembok derita

Berdiri mencumbui malam-siang

Hujan angin bahkan senja dibalik kehijauan rumput pergunungan yang tersembunyi

Depan sungai besar mengular ditengah kota 

Banyak sampah plastik plembungan dan air liur ikan yang kawin

Gubuk reot bermandikan lumpur kehidupan

Deritanya tak begitu ketara 

Hanya mengejar sesuap nasi menyambung hidup
Riuh-riuh mulut beradu dipinggir kali

Tawar menawar diantara kegelapan malam

Sayur mayur hingga berapa harga sebuah matahari di musim hujan dingin 

Warkop ramai sekali dalamnya surga 

Ada togel ada judi ada nikmat kasur

Purworejo Kutoarjo 2017

Tanah Rata


Tanah Rata

Karya : Suhanggono

Pada akhirnya semua begitu 
Langit nampak biru berebutan putih

Mendung tak pekat cantik tak putih

Angin tampak diam pun daun tak melambai-lambai

Obrolan teras keras berteriak memanggil nama

Pintu kayu ia gedor-gedor berkali 

Dipikir ada razia sampah kamar ia didalam tetap tenang bersembunyi disunyian lalu sama-sama diamnya hilang

Tak lagi ada panggilan suara 

Hilang lenyap hanya ada rasa-rasa dendam 

Tipis setipis luapan udara hirup keluar masuk paru manusia

Sekarang semua berdiam diri berdiri dihadapan mayatmu mati beberapa saat lalu keracunan gas cinta 

Purworejo, Kutoarjo 2017

Guru Gerimis


Guru Gerimis

Karya : Suhanggono

Guru adalah panutan tapi bukan berarti selalu benar. Dalam perilmuan selalu berubah mengikuti jamannya. Omongan guru hari kemarin belaku untuk jangka waktu tertentu atau bisa juga selamanya. Dulu guru pukul siswanya pakai garisan kayu panjang barangkali tidak apa-apa. Itu sebuah didikan agak tetap lurus jalannya. Sekarang bisa berurusan ke kantor polisi minimal masuk koran pagi. Dulu guru dicium tangannya sekarang banyak yang berani menantang berkelahi. Lah iya orang itu guru bela diri. 

Kalau soal guru “ihik” selalu menilai cewek ayu dengan 8 cowok 5. Rasanya banyak juga menjadi hal wajar dia lelaki dan tidak wajar sebab tidak suci dalam penilaian. Ayu “cantik” belum pernah aku melihat dinilai 5 walau ada juga yang suci penilainya. Tidak peduli apa adanya. 

Guru bilang goblok muridnya balas dasar asu. Itulah potret masa sekarang. Semua belaga preman. Dulu pas jadi mahasiswa bukan niat beramal jadi guru tapi jabatan dan uang. Aku pun pernah digoblokkan. Dan tertawa sebab kalau aku pinter gurunya ndak mengajar. Keenakan juga apes ndak dapat gaji. Goblok benar ya aku ini. Haus ilmu lewat kata-kata. 

Jangan salah yang mengasuh atas anak-anak yang salah asuh. Sebab mereka itu hanya pentransfer ilmu. Buka pembentuk akhlaq mau gimana kalau jiwa anak melawan dan tidak bisa ditembus dengan pengajaran guru. Makanya memang guru adalah pahlawan yang telah dilupakan. 

Murid sejati adalah murid yang tahu tujuan guru. Guru pembaca jiwa murid. Ia harus tahu bagaimana cara mendidik kepada jiwa cengeng, jiwa batu, jiwa api, jiwa tanah dll. Makanya guru-guru yang tua lebih ingin dihormati harus ada lelaku dalam pergaulan. Guru muda lebih gaul menempatkan dirinya. 

Katanya hari ini Hari Guru ya. Semua yang pernah berinteraksi adalah guru-guru. Dan pengalaman adalah guru sejati yang mahal pengajarannya. 

Hari Guru gerimis manis sembah sungkem.
Purworejo, 25 November 2017

Mall Purworejo Untuk Siapa?


Mall Purworejo Untuk Siapa?

Karya : Suhanggono

Modernisasi ekonomi memang tidak bisa dibendung. Adalah alamiahnya sudah pasar diubah jadi beton-beton. Namun kekumuhannya tetap saja dimana sama. Misal pasar Kutoarjo lantai kedua tidak maksimal untuk kiosnya orang memang malas untuk memutari ke atas. Tangganya sudah kumuh. Dilantai dua pun udah brantakan dan agak gelap. Potensial buat untuk ihik. 

Mudah-mudahan mall Purworejo tidak menjadi bencana ekonomi desa. Orang desa itu kalau ke pasar nawar ujung sana sampai sini milih yang tèrmurah. Kalau mall sudah paten. Tidak bisa tawar menawar. Tradisi ekonomi desa begini kelaķ akan hilang. Apresiasi desa-desa yang masih mempertahankan pasar tradisional. 

Modern boleh tidak juga dilarang tapi jangan sekali-kali menghilangkan ketradisionalan ekonomi. Tawar menawar adalah interaksi ekonomi desa yang harus dipertahankan. Sebagaimana sosial,politik, agama,kepercayaan ,hukum tradisional desa. 

Sekarang mulai terkikis ketradisionalnya desa mulai hilang. Dan menumbuhkan sifat-sifat perasaan kota yang suka terburu-buru. Mau kemana mau apa juga terburu-buru. Tidak bisa tenang dan pelan-pelan dalam menjalankannya.

Mall bagus untuk mengimbangi zaman. Jika diisi juga berbagai hal edukasi. Kalau isinya cuma barang-barang mewah inilah penjajahan halus. Mau menyediakan untuk orang kaya atau menghibur orang desa. Harus ada kejelasan. Contohlah Jogja ada wilayah kaya mall-mallnya tetapi tidak meninggalkan wilayah desanya pasar tradisionalnya yang masih bisa tawar menawarnya. 

Harus ada keseimbangan dalam apapun. Jika berat sebelah maka akan terjadi kebencanaan.

Purworejo, 15 November 2017

Tour Jogja Mengenang Kembali bagian Kedua


Tour Jogja Mengenang Kembali bagian Kedua

Karya : Suhanggono

Harusnya hanya sarana yang modern tapi rasa peka manusia tetap ndeso. Modern hanya akan jadi pengacau diantara kematian tradisional. Mall yang akan berdiri pasar tradisional pun berlari bertambah pasar online mengambang toko-toko pun tutup.

Air botol di terminal, warung tetangga aja beda jauh seribu rupiah. Aku melihat sepinya pembeli. Sebabnya salah satunya begitu. Giwangan warung minumannya banyak berjajar tapi pembelinya jarang. Selain memang terminalnya sepi. Barangkali sudah pada makmur lalu tidak menggunakan transportasi umum.

Kalau tradisional mati siap-siaplah kiamat. Jogja saja masih kayak hutan banyak perpohonan walau dekat dengan tengah kota. Mereka masih paham ndeso bukan hal ketinggalan zaman dan modern kemajuan zaman. Udara deso harus tetap dalam perkotaan besar salah satunya dengan perpohonan.

Membayangkan Purworejo yang lagi gemar bangun perumahan. Sawah berubah jadi perumahan. Mengajarkan keindividualisme. Mengajarkan sikap-sikap emosi kota bukan desa. Semua harus cepat tepat. Bahkan kampung-kampung tak lagi kelihatan kampungnya. Sudah jadi semi kota. Loe gue bahasanya. Ada Mbah tua membungkuk di pinggir jalan ngacir aja lewat tanpa permisi. Tidak ada saling sapa. Tidak ada. Sebab ia sudah digantikan oleh WA sosmed dll. Memang masih ada ngopi bareng. Sambil nyoret nomer togel HK atau Singapura.

Purworejo, 13 November 2017