Gila Samar Waras Samaran


Gila Samar Waras Samaran

Karya : Hang

Senin kemarin aku mengantarkan Ibu ke RS Umum di daerahku. Maka dengan semangat aku membawa alat tulis berupa kertas dan pulpen. Di sanalah menulis panjang sampai hampir habis lembaran itu. Ini hanya cuplikan sedikit atas tulisan yang muncul disana sebagai berikut :

“Aku bangga jadi orang gila karena pernah waras dan kau pun harus bangga jadi orang waras yang belum gila. Jadilah kita sama-sama berbangga tidak saling sombong diri,”

Aku sedih sekali waktu kemarin menuliskan ini. Seseorang lelaki dengan wajah kosong yang seumurku kira-kira harus ke kamar mandi Ibunya pun ikutan. :((

Dia hanya diam saja mengikuti Ibunya kemana pergi. Sementara yang bertanya nulis skripsi ya (lain orang) waktu aku oleh sebab hape kehabisan baterai tapi otakku masih pengen nulis. Kertas pulpen kujanjikan senjata andalan. Menulislah aku. Dari sekian orang hanya tangan aku yang sibuk di kertas menari-nari. Menjawab apa yang terjadi disekitarnya.

“Skripsi ya Mas?” Tanyanya

“Hah…. ndak kok,”

Tolehnya kertasku serta mematikan lamunanku baru beberapa kata padahal. Soalnya nulis diatas buku tebal lainnya.

Orang ini unik hapenya dibunyikan keras-keras lagu dangdutan mungkin kiriman lari WA Grup. Beberapa kali lagunya diputer. Tanpa peduli jadi perhatian. Orang-orang disekitar pun menoleh sejenak. Maklum televisi yang ada mati suri. Tidak nyala. Kalau pun nyala siapa peduli orang-orang sibuk dengan obrolannya. Sementara itu hapenya pun dibungkus plastik. Pikirku mungkin karena musim hujan. Aku hanya mereka-reka tidak tahu pasti.

Rambut kumisku yang urakan waktu aku berjalan pas datang pun dipandangnya mereka yang duduk dalam antrian. Kutakut dikira habis periksa jiwaku. Dalam penyamaran jadi orang waras itu susah lebih gampang nyamar jadi orang gila.

Lebih mendalami malahan. Karena kebebasan itu yang dirindukan orang-orang waras.

Salah satunya nemu perkataan itu. Sedihnya daku. Kalau duduk manis disana. Aku akan bawa kertas lebih banyak. Kemarin ketika kehabisan kertas pikiranku kalut. Tidak tenang pengen pergi beli kertas nanti ideku hilang berjeda lama.

Ternyata bukan kuburan yang angker tapi RS yang bikin bingung linglungku. Bingung laper soalnya pengen bakso Sukar kok jauh sekali di Kutoarjo.

😂

#NulisSiang

Purworejo, 21 Januari 2019

Iklan

Obat RS Imanjinasi dan Ilusi


Obat RS Imanjinasi dan Ilusi

Karya : Hang

Aku tidak tahu judul apa yang sebenarnya mau kutulis ini persoalan minum obat bertahun-tahun lamanya. Semenjak 2014 sampai 2016 aku obat-obatan terus. Tidak padat penuh tapi setahun lebih juja dihitung dengan benarnya aku lupa. Tapi kira begitu.

Disaat aku bosan minum dan terus sembunyi obat itu yang pada akhirnya ketahuan juga.
Sampai Ibu itu ngambek. Sebab Ibu itu paling manut Dokter. Obat selalu habis tetap waktu.

Soalnya mengapa aku bosan sebab aku melakukan tidak dengan senang dan masih ada serpihan jiwa yang tidak mau menerima. Sebenarnya aku juga perlu psikologi gagalnya perjalanan kemarin ada pengalaman pahit yang harus di telan dan dibawa ke otak untuk jadi perenungan diri.

Terang aku tidak takut disuntik belah tubuh. Aku dan lolos soal itu. Aku cuma takut dianggap kafir dipublik. Kalau dianggap gitu apalagi suwung. Haduh rontok mentalku. Dan penyembuhannya butuh diam setahun.

Tahun lalu aku bertemu dengan orang-orang hebat yang konsisten dalam kesosialannya. Selalu tunduk pada jalanNya. Beda denganku yang morat marit banyak alasannya. Ya soalnya aku kalau nekat fokus satu usahaku harus selesai.

Barangkali hanya ikut beberapa pertemuan. Dan utang pertemuan pun masih ada yang belum terlunasi. Ini jadi bayang-bayang yang menggelatung di mimpi. Berkali-kali monologku berkata segera bertemu lunasi pertemuan itu dan balik menulis. Biar agak tenang.

Tahun ini ada lomba novel aku selalu menantang diriku sendiri untuk ikutan. Minimal latihan menulisku lebih lentur. Tentu aku masih ada janji pada diri sendiri untuk jalan-jalan ke Bener, Kali Gesing, Pituruh, Bruno dan Pantai Gowok. Semoga lekas terlaksana. Kayaknya si nganggur tapi kok ya ada kegiatannya.

Satu perkataan Ibu : “Obatmu ada pada semangatmu,”

Satu perkataan Dokterku : “Obat ini cuma 50 persen 25 persen lingkungan 25 persen semangatmu,”

Satu perkataan Mas Wis : “Nek loro ra usah dirasake ben ra loro,”

Perkataan yang wajar karena masih muda waktu itu.

Udah ah…. antrian dulu…

Purworejo, 14 Januari 2019

**Iseng ditulis pada antrian RS duduk manis. Depan Poli Dalam I :)) sementara di Poli Ortopedi Pak Dr Febrilian nya masih bedah operasi “dokter romantis”

Asli Tipu Palsu


Asli Tipu Palsu

Karya : Hang

"Cinta itu bukan sifat hidup tapi imbuhan hidup.
 Seks itu bagian dari hidup bukan sifat dan imbuhan," (Hang)

Ada kabar polisi wanita asli ditipu tahanan polisi  sik ngaku-ngaku polisi pria. Tukar menukar vidoe/foto seronok. Kemudian dalam perjalanan diketahui juga selingkuh.

Kita ini ketinggalan sensasi. Sekarang sudah sampai Nudis (telanjang di rumah/wilayah), Eksib (pamer kemaluan di tempat umum). Termasuk kirim mengirimi foto/video. Bahkan ada grup-grupnya. Ini terbaru. Sekitaran 2017-2018.

Jamanku investigasi baru seks lewat telepon yang sekali ngomong 10ribu habis. Dan no hpnya terpajang jelas di koran-majalah dewasa. Kemudian muncul sosmed maka sensasinya bertambah teks seks, video seks dkknya. Bayarnya transfer bank, kirim pulsa.

Apa ada unsur nipu? Jelas ada, akun palsu aja kalau di kasih foto cewek ayu di ambil google. Terus masuk grup 18+ sejenis. Maka akan akan banyak yang kirim pertemanan/pesan “mesum”.

Ini 2010 awal-awal senang sok-sokan nulis seri inteljen bab remaja dan seks bebas. Di Purworejo sudah ada kasus pembuangan bayi, mesum pun ada, perselingkuhan tidak sedikit.

Sebenarnya gampang sekali cari grup-grup itu. Kalau revolusi mental benaran ada kenapa ini tidak terselesaikan gelombang sensasinya makin besar.

Banyak juga channel Youtube yang bahas seks dengan tanya jawab ke remaja-remaja. Penontonnya tidak sedikit. Pertanda bahwa bahasan seks emang terlaris dari jaman ke jaman utama jaman informasi terbuka.

Bagaimana dengan situs porno? Masih ada dan dapat diakses dengan cara-cara tertentu. Semua bisa dilakukan.

Jadi kesimpulanmya ibarat jalanan ada banya kotoran. Kita mau menghujatnya, menciuminya, atau membersihkannya. Semua adalah pilihan yang punya resiko dan akibat.

Utamanya kaum wanita harus tegak berdiri digaris halau pandu agama, akal sehat. Penting soal ini.

Purworejo, 04 Januari 2019

Teks Tanpa Hafalan


Teks Tanpa Hafalan

Karya : Hang

Aku lagi menyelidiki terhadap diri sendiri apa pengaruhnya bacaan teks pancasila terhadap perilaku pancasialis dengan senyumnya para koruptor di depan kamera televisi. Bukan itu saja sebenarnya segala tindakan manusianya.

Secara dulu kalau terlambat upacara bisa dihukum. Kalau salah tingkah upacara bisa dihukum. Menurut tidak pengaruh terhadap hal tersebut.

Pancasilais itu akan tercapai bukan oleh sebab hafalan teks. Tapi contoh perilaku, dan daya kritis siswa yang terus dibangun.

Misal gambar gunung lengkung masih sama saja berarti daya kritis tidak ada. Kalau warna hijau melulu berarti sama halnya daya kritis tidak ada.

Pancasila itu bukan soal teksnya tapi perilaku. Teks menjadi pengingat untuk berperilaku demikian bukan menjadi hafalan saja.

Terus siapakah di negeri ini berhak menyandang pancasilais? Rasa-rasanya belum ada semua masih merasa. Namun ketika datanganya perasaan “merasa” itu berarti cuma hasrat bukan yang sebenar-benarnya.
😃

Sebab merasa itu sifatnya.

Hahaha

Mencintai pun sifat ketika tak kau lamar-lamar. Artinya sifat bisa berubah kalau ada sifat lain yang ikut campuri atau menggodai.

Purworejo, 02 Januari 2019

Wajah Hukum Perilaku


Wajah Hukum Perilaku

Karya : Hang

Mengasyikkan diri dengan musik. Aku tidak peduli kata-katanya. Tapi aku peduli iramanya. Aku tidak peduli wajahmu tapi aku peduli perilakumu. Sebagai fiksi wanita adalah indah tapi seram sekali sebagai fakta kata seseorang. Standar kalimat pertama sampai akhir ada kesejajaran makna di dalamnya.

Lebih enak kalau kitapeduli pada perilaku manusia daripada fisik manusia. Menjadi manusia memandang dan bergulat dengan ide-ide. Suara yang tak berhenti total. Kebijakan negara akan menempatkan rakyat sebagai bahan perlawakan di layar kaca.

Penegakan hukum yang digantung-gantung selama dua belas jam dikalikan lima ratus lamanya sebagai penanda lampu merah terang untuk menghentikan. Ini bukan lagi darurat hukum tapi genting sudah gawat sekali. Keputusan hukum sampai sekarang masih tajam kebawah. Tidak ada yang peduli dan bersuara lantang untuk membela. Mengapa harus teriak-teriak di televisi baru menyadari ada kesalahan?

Kasus perlecehan seksual verbal dan fisik misalnya. Kampus dan sekolah bahkan jadi arena yang tidak lagi aman. Menjadi tempat ancaman bagi seseorang untuk dilecehkan daripada seksualitasnya. Tentu kasus demikian sudah lama sekali terjadi misal dalam angkutan umum; bus, kereta, bahkan di jalanan saat perempuan di gang sendirian saat itu pelecehan terjadi.

Melawan kejahatan ini memang butuh saling menggandeng tangan. Tidak juga perempuan kepada laki-laki semua harus saling paham dan mengerti satu sama lainnya. Sadar diri pada diri masing bisa jadi solusi. Utamanya menahan diri untuk melecehkan dan mengubarkan kenikmatan itu di ruang umum yang bisa mengundang perlecehan.

Hukum harus tegak siapa salah harus dihukum. Hukum harusnya tajam sekali pada kesalahan bukan pada pembenaran. Benar yang dicarikan kesalahannya. Dalam hal ini emang sosmed bahaya. Maka ketika mempostingkan apa harus dipikirkan dahulu apa akibatnya demikian.

Purworejo, 16 November 2018

Kemanusiaan dan Televisi


 

Televisi-freepik
Televisi

Kemanusiaan dan Televisi

Karya : Hang

Televisi adalah alat imanjinasi yang setiap hari manusia hirup. Seperti nafas yang wajib jika tidak maka akan mati ketinggalan gosip artis. Maka dari itu banyak acara yang berimanjinasi buruk. Misalnya acara televisi yang hanya ingin memutuskan pacar saja kok sepertinya ribet sekali harus lewat pihak ketika. Membawa emosional segala dan ini memang disengaja agar menarik penonton. Serta membawanya kedalam alur cerita.

Sejarah itu kemurnian sejati tapi diangan-angankan lewat sebuah cerita. Maka ketika membaca sejarah keduanya adalah seiring seirama. Perpaduan yang amat dibutuhkan untuk kedua hal tersebut.

Kenangan dan angan adalah dua yang bercumbu di sebuah kemurnian. Rindu terperangkap dalam angan Kembali menuntun angan pada harap yang terbuang. Angan-angan dalam bayang merah putih kemerdekaan didepan mata direbut oleh kekosongan peradaban. Imanjinasi melahirkan kemurnian yang tak sempurna.

Malam beranjak dari senja. Sunyi yang bersembunyi daripada hirup pikuk negeri. Murni dan angan-angan menjadi lawan berikut harus berbalik jadi kawan. Seiring seirama lagu-lagu. Ruangan diantara ruang

Ujung kenapa kita harus wajib berilmu adalah supaya kita mampu berperikemanusiaan. Mengerti perbedaan ; menerima adanya perbedaan tanpa mengajak perkelahian.

Kalau ada orang berilmu lalu tidak mampu menerima perbedaan dan selalu mengajak perkelahian. Ilmumu tentang kemanusiaan runtuh begitu saja. Politik ujung tertinggi adalah kemanusiaan begitu juga agama.

Namanya kepala manusia tak terhingga perbedaan pun kesamaan. Kesamaan hanya waktu makan banyak ya kenyang, pas bercinta ya klimaks, pas tidak suka ya protes. Soal kemanusiaan menjadi rumah utama.

Sejarah panjang yang menjadi masalah adalah dunia kemanusiaan. Selalu mencari perbedaan dan memusuhinya. Tidak ada keromantisan dalam perbedaan.

Manusia memang bentuk-bentuk sosial. Ia memang mencari kesamaan dan menghindari perbedaan. Dalam lampau sejarah pun melakukan itu.

Perkelahian perbedaan itulah harusnya dimainkan dengan indah. Bukan yang menumpahkan darah dan ucapan kotor binatang di lantangkan di televisi. Ini memalukan, satu sisi mereka berilmu sisi lain melupakan rasa kemanusiaan.

Purworejo, 09 November 2018

Bungkam


Bungkam

Karya : Hang

Bungkamlah mulut-mulut kami

Bungkamlah telinga-telinga kami

Ikatlah kaki dan tangan kami

Negeri ini sudah militerisasi

Apa-apa bikin janji

Jarang bukti yang penuh

Politisi berebutan nasi

Rakyat menonton negeri fiksi

Kembalikan negeri pada kami

Purworejo, 18 Oktober 2018