Kebodohan Dalam Sangkar Penonton Politik


Kebodohan Dalam Sangkar Penonton Politik

Karya : Suhanggono

Diskusi kebodohan itu kayak begini : 

A vs B tapi setelah sekian lama yang berdiskusi orang-orang sekitar A vs B untuk memancing orang-orang C D E F G H I…dst. 

Ada lagi : 

Menonton dengan kebodohan :

Ketika hanya sama menonton, sama tidak ada mengerti faktanya tapi saling debat apa yang ditontonkan dengan perdebatan yang bodoh. 

Terkadang orang hanya mengikuti jalan perkiraannya bukan logika yang nyata-nyata. Dan ini adalah akar pohon dari kepalsuan informasi yang berbuah HOAX. 

Soal mahar/uang politik itu ndak usah berdebat. Ayo tunjukkan mana si pesta rakyat tanpa bagi-bagi uang/kursi jabatan? 

Situ berani membantah sebab ada dua hal karena gobloknya ndak sembuh-sembuh dan tidak terupdate beritanya. 

Purworejo, 13 Januari 2018

Iklan

Angka Persen di Mata Netizen : Hoax Membangun


Angka Persen di Mata Netizen : Hoax Membangun 

Karya : Suhanggono

Masih heran kepada manusia yang super “bodoh” kenapa polling twitter saja dijadikan bahan diskusi bertubi-tubi panjang sekali.  Kemarìn malam iblis telpon dalam mimpi gelapku.

 “Kok imanjinasi kebodohan manusia sekarang melebihi iblis ya?” 

Maksudku polling itu kan hañya sekedar permainan angka tidak bisa dijadikan bahan diskusi logika. Dan tidak perlu dipikirkan secara serius. Baik polling pilkada-pilgub-pilpres. Akan banyak yang membuatnya dan pula yang membahasnya. Seolah data itu nyata dengan pada nantinya saat pencoblosan usai. 

Dan “bodoh” yang mempollingnya adalah wakil rakyat. Dia udah ketemu sekian mata kaki bahkan otak-otak pejabat tapi masih percaya polling gitu.
 Wah jan otak ayam ketinggal dibangku kuliah Om? 
Bodoh boleh tapi ndak segoblok itu. Hanya angka permainan kok dipercaya. Disembah bahkan jadi berita. Walah jan. Manusia kok pada aneh. Jadilah netizen berotak jangan berotot robot doang. 

Jadikan polling online itu sebagai hiburan saja tidak terlalu serius menanggapinya. Kepada pemilik berita agar memberikan konten yang mencerdaskan bukan membodohi publik dengan cara yang benar bodoh. 

Aku juga manusia yang meragukan survei kepuasan dll di televisi kecuali kata pengamat-pengamat yang melihat secara  kenyataan apa adanya. Tidak ada bumbu manis dan hoaxmembangun. *Eh
Purworejo, 8 Januari 2018

Tanah Rata


Tanah Rata

Karya : Suhanggono

Pada akhirnya semua begitu 
Langit nampak biru berebutan putih

Mendung tak pekat cantik tak putih

Angin tampak diam pun daun tak melambai-lambai

Obrolan teras keras berteriak memanggil nama

Pintu kayu ia gedor-gedor berkali 

Dipikir ada razia sampah kamar ia didalam tetap tenang bersembunyi disunyian lalu sama-sama diamnya hilang

Tak lagi ada panggilan suara 

Hilang lenyap hanya ada rasa-rasa dendam 

Tipis setipis luapan udara hirup keluar masuk paru manusia

Sekarang semua berdiam diri berdiri dihadapan mayatmu mati beberapa saat lalu keracunan gas cinta 

Purworejo, Kutoarjo 2017

Tour Jogja Mengenang Kembali bagian Kedua


Tour Jogja Mengenang Kembali bagian Kedua

Karya : Suhanggono

Harusnya hanya sarana yang modern tapi rasa peka manusia tetap ndeso. Modern hanya akan jadi pengacau diantara kematian tradisional. Mall yang akan berdiri pasar tradisional pun berlari bertambah pasar online mengambang toko-toko pun tutup.

Air botol di terminal, warung tetangga aja beda jauh seribu rupiah. Aku melihat sepinya pembeli. Sebabnya salah satunya begitu. Giwangan warung minumannya banyak berjajar tapi pembelinya jarang. Selain memang terminalnya sepi. Barangkali sudah pada makmur lalu tidak menggunakan transportasi umum.

Kalau tradisional mati siap-siaplah kiamat. Jogja saja masih kayak hutan banyak perpohonan walau dekat dengan tengah kota. Mereka masih paham ndeso bukan hal ketinggalan zaman dan modern kemajuan zaman. Udara deso harus tetap dalam perkotaan besar salah satunya dengan perpohonan.

Membayangkan Purworejo yang lagi gemar bangun perumahan. Sawah berubah jadi perumahan. Mengajarkan keindividualisme. Mengajarkan sikap-sikap emosi kota bukan desa. Semua harus cepat tepat. Bahkan kampung-kampung tak lagi kelihatan kampungnya. Sudah jadi semi kota. Loe gue bahasanya. Ada Mbah tua membungkuk di pinggir jalan ngacir aja lewat tanpa permisi. Tidak ada saling sapa. Tidak ada. Sebab ia sudah digantikan oleh WA sosmed dll. Memang masih ada ngopi bareng. Sambil nyoret nomer togel HK atau Singapura.

Purworejo, 13 November 2017

Tour Jogja Mengenang Kembali bagian Kedua


Tour Jogja Mengenang Kembali bagian Kedua

Karya : Suhanggono

Harusnya hanya sarana yang modern tapi rasa peka manusia tetap ndeso. Modern hanya akan jadi pengacau diantara kematian tradisional. Mall yang akan berdiri pasar tradisional pun berlari bertambah pasar online mengambang toko-toko pun tutup.

Air botol di terminal, warung tetangga aja beda jauh seribu rupiah. Aku melihat sepinya pembeli. Sebabnya salah satunya begitu. Giwangan warung minumannya banyak berjajar tapi pembelinya jarang. Selain memang terminalnya sepi. Barangkali sudah pada makmur lalu tidak menggunakan transportasi umum.

Kalau tradisional mati siap-siaplah kiamat. Jogja saja masih kayak hutan banyak perpohonan walau dekat dengan tengah kota. Mereka masih paham ndeso bukan hal ketinggalan zaman dan modern kemajuan zaman. Udara deso harus tetap dalam perkotaan besar salah satunya dengan perpohonan.

Membayangkan Purworejo yang lagi gemar bangun perumahan. Sawah berubah jadi perumahan. Mengajarkan keindividualisme. Mengajarkan sikap-sikap emosi kota bukan desa. Semua harus cepat tepat. Bahkan kampung-kampung tak lagi kelihatan kampungnya. Sudah jadi semi kota. Loe gue bahasanya. Ada Mbah tua membungkuk di pinggir jalan ngacir aja lewat tanpa permisi. Tidak ada saling sapa. Tidak ada. Sebab ia sudah digantikan oleh WA sosmed dll. Memang masih ada ngopi bareng. Sambil nyoret nomer togel HK atau Singapura.

Purworejo, 13 November 2017

Tour Jogja Mengenang Kembali bagian Pertama


Tour Jogja Mengenang Kembali bagian Pertama

Karya: Suhanggono

Terminal besar dan sepi penumpang. Terminal Giwangan namanya populernya di Jogjakarta. Namun tampaknya sudah bermodernsasi. Tampak pula alat yang berbunyi sensitif terhadap benda mencurigakan sudah terpasang. Dari dulu memang sepi. Dan yang berbeda tidak ada petugas menarik uang retribusi karcis masuk ke terminal. Baru beberapa bulan ke sasar di Jogja masih ditarik. Sekarang tidak. 
Dibanding stasiunnya yang selalu ramai. Barangkali tarif bus kota antar provinsi sedikit otoriter. Misalkan dalam perjalanan Pendowo-Giwangan tarifnya 20ribuan tanpa ac tetapi memang agak bagus dalamnya dan ramai padat penumpangnya. Sekembalinya dari Giwangan-Pendowo malah hanya 15ribuan. Sepi penumpang dan perjalanannya agak terburu-buru. Sopirnya mengebut dan kadang pula melambat. Dalam telponnya terdengar suara keluh kesah. “Alon-alon nang Gamping penumpang’e elek,”. Banyak cerita waktu berangkat kita disaksikan pemandangan goib yaitu berbauan durian yang membuat sedikit penumpang dan kernet bus seolah mabuk durian. Memang disepanjang jalan Pendowo-Krendetan apalagi Bagelan itu buah durian jadi paling seksi baunya. 
Cara penjualan jeruk itu yang di bus bukan hal baru terjadi namun ini sudah hampir menjadi tradisi. Atau bisa dikatakan adalah hiburan. Mereka menjual berdasarkan jumlah butiran buahnya bukan beratnya. Walau harga tetap 10ribuan jumlah butirannya bisa 10-15 diakhir-akhir penjualannyan. Untuk keabsahan ini entahlah. Sebab diwaktu pulang tadi ada yang juga jual begitu namun jumlahnya hanya 8 walau harga 10ribuan. Nipu bukan? Entahlah. Atau sedekah lewat amplop yang dibagi-bagi untuk diisikan uang seikhlasnya dengan cerita yang amat menyedihkan. 

Dalam bus kota…..

Cewek itu duduknya seperti cowok kedua pahanya di pisahkan dan masih berbalut rok panjang sampai mata kakinya. 

Aku pikir ini adalah khas jaman telanjang. Aku melirik matanya dan berdiam ke bawah lalu ke ujung dadanya naik ke wajahnya berbalut jilbab putih yang kurang sempurna. Sebab rambutnya masih terlihat. Ia sedang memgobrol dengan mbah perajin bunga hias hotel, restoran dari dialog mereka berdua yang saling padang beradu mata dan mulut mengoceh-oceh diantara kesepian bus yang terus menggerus meninggal pangkalan aku tahu kalau setiap hari mbah tersebut dari magelang selalu pulang pergi ke jogja. Hebat benar menurutku. Terus untungnya berapa ya sayang tidak ada obrolan itu dan aku tidak tertarik ikut menimbrung. Masih fokus akan dan terus bertanya kemana bus ini berlabuh. 

Tour Jogja… bersambung ya…

Purworejo, 10 November 2017

Pil Pil Pait


Pil Pil Pait

Karya : Suhanggono

Bagi mereka kecurangan sudah jadi nafas. Jadi ini sangat rentan kecurangan. Kebiasaan yang mendaging dalam diri. Ada awalan buruk tidak mungkin diakhiri baik.Dalam sebuah perjalanan yang panjang. Waspadalah. 

Kalau ditanya apa ini pesta rakyat kurasa bukan ini tak ubahnya pesta curang. Jangan salahkan kalau ada para wakil rakyat “sakti” anti dihukum. Salahkan yang memilihnya. Sesuai kesepakatan suara terbanyak adalah sebuah kemenangan pilihan. 

Kalau demonya empat belas juga mahasiswa kurasa akan ambrol itu kekuasaan. Tapi kerugiannya pun akan ambrol itu ekonomi. Jadi arena apa untuk melawan harus dipikirkan matang-matang. 

Purworejo, 22 Oktober 2017