Angka Persen di Mata Netizen : Hoax Membangun


Angka Persen di Mata Netizen : Hoax Membangun 

Karya : Suhanggono

Masih heran kepada manusia yang super “bodoh” kenapa polling twitter saja dijadikan bahan diskusi bertubi-tubi panjang sekali.  Kemarìn malam iblis telpon dalam mimpi gelapku.

 “Kok imanjinasi kebodohan manusia sekarang melebihi iblis ya?” 

Maksudku polling itu kan hañya sekedar permainan angka tidak bisa dijadikan bahan diskusi logika. Dan tidak perlu dipikirkan secara serius. Baik polling pilkada-pilgub-pilpres. Akan banyak yang membuatnya dan pula yang membahasnya. Seolah data itu nyata dengan pada nantinya saat pencoblosan usai. 

Dan “bodoh” yang mempollingnya adalah wakil rakyat. Dia udah ketemu sekian mata kaki bahkan otak-otak pejabat tapi masih percaya polling gitu.
 Wah jan otak ayam ketinggal dibangku kuliah Om? 
Bodoh boleh tapi ndak segoblok itu. Hanya angka permainan kok dipercaya. Disembah bahkan jadi berita. Walah jan. Manusia kok pada aneh. Jadilah netizen berotak jangan berotot robot doang. 

Jadikan polling online itu sebagai hiburan saja tidak terlalu serius menanggapinya. Kepada pemilik berita agar memberikan konten yang mencerdaskan bukan membodohi publik dengan cara yang benar bodoh. 

Aku juga manusia yang meragukan survei kepuasan dll di televisi kecuali kata pengamat-pengamat yang melihat secara  kenyataan apa adanya. Tidak ada bumbu manis dan hoaxmembangun. *Eh
Purworejo, 8 Januari 2018

Iklan

Kir tan Cis Pel kai Dom


Kir tan Cis Pel kai Dom

Karya : Suhanggono
Parkir tanpa karcis ibarat ngencuk sama pelacur tanpa kondom. Sesuai keinginan tata logika kenikmatan berduanya.

Kalau karcis parkir itu diminta oleh pelanggan sama halnya pelacur meminta untuk memakai kondom si pelanggannya. Cuma beda logika pemakai dan permintaan.

Sayangnya pelanggan parkir itu kadang melupakan karcis dianggap tidak penting tidak seperti pelacur yang selalu taat dengan pemakaian kondom dianggap penting sekali. Logika kesehatan dan malas menyimpan kertas karcis. Beda padahal ditinjau dari ketaatan sama pentingnya. 

Begitulah karcis dan kondom. Soalnya aku pernah obrolan soal-soal kenapa si parkir tidak memberi karcis sebab si pelanggannya tidak meminta dan pelacur malah memwajibkan pakai kondom untuk si pelanggan. Logika kebiasaan aturan ketaatan.

#NulisLagi

Purworejo, 23 Desember 2017

Logika Ngawur


Logika Ngawur

Karya : Suhanggono

Konfĺik agama lebih mudah untuk meracuni logika persatuan dan kesuatu suatu wilayah sedangkan menghancurkannya beri saja kenikamatan terlarang logika mereka pasti kelak akan hancur bertubi-tubi. Tidak dipungkiri sosmed melalui hp adalah kenikmatan utama di jaman ini setelah tempat tidur, ngepup di wc, makan didepan televisi dll. Padahal untuk berinteraksi sosial secara langsung akan renggang. Gara-gara tulisan yang dikatakan terlalu berat berkomentari si A dan dikau pendukung setia B. Padahal sama-sama tidak mengenal lebih jauh hanya sekedar nonton televisi, baca koran online yang kebenarannya masih perlu diselidiki kembali secara berkala. Dan sebenarnya opini publik kan sah saja asal santun sopan tetap dijaga. 
Logika kampus-sekolah-sosial masyarakat adalah tiga hal berbeda sama sekali. Logika kampus dimana tugas-tugas memadati pemìkiran mahasiswanya. Mahasiswanya ditekan pikirannya sedemikian rupa untuk berlogika. Kadang ada candaannya yang seru itu kalau ada politiknya yaitu bercerita tentang isu-isu kekinian negara dan bangsa. Memang harus mahasiswa tahu akan keadaan menit ke menit tidak boleh mahasiswa ketinggalan informasi terkini. Haram hukumnya bagi kelogikaan kampus. 

Logika sekolah lebih sederhana. Ia mereka aku kamu kalian hanya seorang pemain yang sedang belajar. Dengan buku-buku lks yang tidak mahal tapi wajib dibeli. Dan akhirnya hanya jadi kertas lusut disobek menjadi pesawat terbang atau kapal-kapalan. Soal-soal suka lawan jenis. Termasuk dalam hal meneliti diri sendiri, lawan jenis, lingkungan sosial. Itulah permainan logika sekolah yang kuno sedangkan modern kebanyakan gaya. Misal tawuran, motoran ngebut, mboncengan cewek tiga, pelukan di pantai/taman. Gaya logika sekolah sudah terkini. Dulu masih tuker-tukeran lewat bluetooth hp jadulan. Sekarang bikin grup WA untuk melakukan hal yang sama dengan lebih modern. Ada juga malah aksinya itu direkam rekan sendiri dan bodohnya bangga disebarkan dengan sengaja/tidak sengaja. Logika apa ya yang bisa diterima ketika sebenarnya adalah aib itu sengaja disebarkan? Misal banyak kasus gara-gara putus cinta, diselingkuhi eh videonya tersebar. Kan sudah bunuh diri moralnya eh kubur sendiri nama baiknya. 

Satu lagi logika masyarakat. Mereka-mereka yang bertetangga saling membantu dan cemburu sosial. Satunya bilang anaknya sudah beli lima mobil satunya lagi bilang anaknya pegawai negeri semua. Satu gosipin kok itu tidak tahu kerjanya apa punya mobil. Logika-logika curiga, cemburu, benci dll menumpuk jadi satu. Soal-soal sederhana saja sampai kebangsaan dan kenegaraan. Akan menjadi sindir-sindiran sampai ditulis pada sosmed padahal yang disindir adalah ia tidak sama sekali punya sosmed. Logika ini memang agak menjijikkan. Senggolan dikit sudah bacok-bacokan tidak lagi memakai logika tapi serangan perasaan jiwa yang mendalam. 
#NulisLagi