Hitungan Jarak Cinta


Hitungan Jarak Cinta

Karya : Hang

Mengitung jarak dan tetesan bensin yang keluar. Dan menghitung jarak dorong motor jika kehabisan bensin. Itu gunanya jarak memisahkan kita Say….

Begini uraiannya : hitung adalah langkah. Bensin adalah daya. Jika daya habis maka dorongan (cinta kasih sayang) kamu yang menguatkan oleh sebab menggantikan daya alternatif lewat mimpi-mimpi dan bayang-bayang yang nyata.

Hidup adalah daya dorongan. Tanpa dorongan mana ada kehidupan. Tumbuh itu dorongan.

Tahun lalu aku pernah mendorong motor karena kehabisan bensin plus tidak berhitung. Terbilang malu ndak berani mau utang duluan padahal doaku udah komat-kamit terus saat pertemuan itu. Tahun pun terulang bedanya malah dapat kenalan kayaknya cocok buat judul tulisan. Ini hoax. Jangan percaya.hahaha

Misal kuberikan judul “tak semini pom cintaku pada dunia,” kurang liberal dan kapitalisme apa pikiranku kayak gitu. Untung mau diutangi walau dalam wajah yang meragukan. Maklum udah malam helm tak lepas ketahuan rambut gondrong. Dengan memohon akhir angcir pulang rumah dan balik lagi beri uang. Dan hujan pun jadi hiasan malam itu. Apa komentar Mbaknya? “Wah jadi basah ya,” jigur batin ku. Kalau hujan basah kalau cinta ndak bakal jauh-jauh.

Ketimbang tahun lalu. Ucapin salam. Salaman. Mohon maaf. Etika banget. Jaraknya masih 10 kman lebih banget. Kemarin si cuma 4 km kalau nekat si bisa. Paling lemas sampai rumah.

Tahun salahnya cuma satu kepercayaan diri terlalu tinggi. Padahal batin dan logika berkata “Ini habis bensin ntar lho,” lain waktu pun berkata “Namanya lapar perlu makan,” dua hal yang bentrok dan akibatnya aku kenyang tapi malamnya aku dorong motor. Sempat duduk dijok motor seberapa waktu siapa tahu ada yang membantu dorong ya. Tapi makin ditunggu makin tak mampu kuat dinginnya malam. Merinding apalagi gelap-gelapan. Hanya sorot lampu lalu lalang motor mobil jadi teman perpaduan sepi. Dekat kuburan pula.

Dah gitu aja….

Tapi makasih ya mbak tahun ini dan tahun kemarin mas atas bantuan bensinnya. Moga barokah. Kalian memang karyawan dan pemilik toko tapi hatimu milik Tuhan. Soal nama biar aku yang tahu. hahahaha 😁

Purworejo, 13 Januari 2019

Iklan

Percakapan Si Liberal di Pasar 


Percakapan Si Liberal di Pasar

Karya : Hang

Aku bersyukur punya Ibu yang berteknologi tinggi. Ia hanya menikmati teknologi televisi sms dan telepon. Selebihnya numpang teknologi. Sekarang sekali telpon anaknya atau cucunya pulsa 10ribu habis dibabat kapitalisme.

Terus kemarin pas bungkus “kado” Ibu nanya sambil senyam-senyum wajah meledeki. Agak curiga dan senang.

“Kui nggo sopo, cewek iya?”

“Hahahaha,”

Bisanya cuma tertawa. Lalu kembali tidur. Ternyata cuma mimpi buruk soal jodoh.

Membayangkan cewek “itu” jika jilbab lebar rok sampai bawah kaki. Melantai. Terus disuruh ke sawah. Pasti tak maulah. Aku? Waduh mending tak buatin bikin puisi daripada ke sawah. Aku tak berpanas-panasan.

Kayaknya aku jadi generasi sawah dan kebun yang terakhir di rumah. Tidak ada lagi setelahku atau bahkan aku. Aku akan membalikkan bahwa petani itu tidak baik buat masa depan. Semacam pikiran Ibu yang selalu berharap anaknya jadi pegawai negeri.

Harapan itu wajar saja kehidupan yang jadi pengalamannya sangatlah susah. Di jaman yang serba tradisional. Jangan telepon motor saja di perdesaan cuma satu dua orang yang punya. Kini? Setiap rumah hampir punya. Bahkan dibela-belain kredit utangan.

Motor sudah jadi barang seperti pakaian. Kebutuhan tak tergantikan. Luar biasa bukan kemajuannya. Tentu seluasku memandang begitu entah dipelosok Kalimantan, Sulawesi, Sumatra, Papua terjangkau kreditan motor atau tidak. Jalanan pun mungkin masih tanah.

Oiya jaman SMA aja di daerahku masih ada yang belum teraliri listrik. Ya itu rumah kawanku sendiri. Namun, dengan sikap santai tekunnya ia mengubah diri yang tadinya menaiki sepeda ontel kemudian berlanjut menjadi motor. Tentu aku tak jauh menindaklanjuti itu kreditan atau cash bayarnya.

Sikap tenang kawanku ini tidak pernah juara kelas bahkan sekolah. Biasa-biasa saja. Tapi luar biasa sikap terhadap lingkungan dan kehidupannya. Soal Tuhan? Dia rajin-rajin ngambek kalau pas rajin ya duduk di shaf depan kalau ngambek kabur ke warung sebelah sekolah ngopi-ngopi daripada beribadah.

Kawanku ini sudah bekerja sebagai pengantar barang satu toko ke toko lain. Daripada aku yang mengaku pengangguran “liberal”. Dia lebih baik rumahnya sudah ada televisi yang menghibur anaknya dan keluarga besarnya. Aku tertinggal jauh. Perjuanganmu tidak akan berkhianat terhadap hasil.

Sekali waktu kita bertemu ia bertanya selayaknya kawan lama. Biasalah pertanyaan pada umumnya.

“Kerja ning endi Hang?”

Aku yang masih nganggur “liberal” tersenyum kecut. “Nganggur dong,” masih menunjukkan jawaban mesranya.

“Wis nikah?”

“Nek nikah aku ra bakal nganggur ngerjain bojone,”

“Hahahhahaha,”

Kawanku ini tertawa seperti hantu kapitalisme yang menakut-nakuti liberalisme. Tanpa jeda. Ia paham maksudku dan itulah maksudku. Kemudian kami bercerita mengelana buana di masa lalu kepada harapan masa yang akan datang. Selayaknya doa-doa manusia.

“Pengen punya anak,” kataku.

“Ndang nikah,”

“Kapan-kapan ketika nganggurku pensiun aku akan nikahi cewek-cewek,”

“Lho kok cewek-cewek berarti jamak lebih dari satu?”

“Harapan,”

“Ra usah neko-neko. Cewek gelem berarti wujud tipuan mu berhasil,”

“Hahahahaha berarti dirimu pernah kutipu?”

“Hahahahaha,”

Kami mengenang mengenal matahari sebagai semangat hidup dan rembulan sebagai pengantar tidur. Mimpi. Aku akan mewujudkannya harapan kedepan tersebut.

Pasar Grabag, 11 Januari 2019



 

Pancasila Lupa Ingat Kadangkala


Pancasila Lupa Ingat Kadangkala

Karya : Hang

Rasanya sudah mati itu pancasila. Hahaha aku masih tidak percaya akan pancasila yang masih hidup. Bukan berarti aku anti pancasila. Indikasinya terakhir kita melihat meme di sosmed berseru-seruan dan tak merasa salah akan melecehkan perempuan bareng-bareng. Soal 80 juta yang akhir-akhir ini menghadirkan meme yang menjijikkan.

Secara teks, visual pun sering. Bahkan mereka yang mengatakan “Saya Indonesia Saya Pancasila,” sama halnya punya SIM belum tentu tidak melanggar lalu lintas, punya buku nikah yang poin-poin larangan pada penikahan pun tak terlanggar selingkuh misalnya.

Jadi pancasila sudah dikubur dalam sedalam-dalamnya oleh orang-orang sok-sokan membelanya padahal khianat dalam praktek kehidupan. Ya memang hidup harus lentur tidak tegang setegang malam pengantin. Aku paham tapi seharus mulutmu yang kau ucapkan sejajar dengan perilakumu.

Aku? Kalau aku kan ndak pernah ucapkan saya pancasila saya indonesia. Jadi bagiku pancasila itu dijalankan bukan untuk berkata-kata. Jika dikatakan itu cuma gombalan.

Kadangkala sebel juga ya guyonan seks 80 juta tersebut. Guyon ya guyonan tanpa melecehkan perempuan juga secara lanjutan. Terus apa bedanya dengan mereka. Pada-pada maksiat.

Dan ini memang sosmed milik orang tidak waras akan benar jika kita terus-terusan melanggengkan gini. Mari stop.

Masak orang pancasila melecehkan perempuan?

Purworejo, 12 Januari 2019

Teks Tanpa Hafalan


Teks Tanpa Hafalan

Karya : Hang

Aku lagi menyelidiki terhadap diri sendiri apa pengaruhnya bacaan teks pancasila terhadap perilaku pancasialis dengan senyumnya para koruptor di depan kamera televisi. Bukan itu saja sebenarnya segala tindakan manusianya.

Secara dulu kalau terlambat upacara bisa dihukum. Kalau salah tingkah upacara bisa dihukum. Menurut tidak pengaruh terhadap hal tersebut.

Pancasilais itu akan tercapai bukan oleh sebab hafalan teks. Tapi contoh perilaku, dan daya kritis siswa yang terus dibangun.

Misal gambar gunung lengkung masih sama saja berarti daya kritis tidak ada. Kalau warna hijau melulu berarti sama halnya daya kritis tidak ada.

Pancasila itu bukan soal teksnya tapi perilaku. Teks menjadi pengingat untuk berperilaku demikian bukan menjadi hafalan saja.

Terus siapakah di negeri ini berhak menyandang pancasilais? Rasa-rasanya belum ada semua masih merasa. Namun ketika datanganya perasaan “merasa” itu berarti cuma hasrat bukan yang sebenar-benarnya.
😃

Sebab merasa itu sifatnya.

Hahaha

Mencintai pun sifat ketika tak kau lamar-lamar. Artinya sifat bisa berubah kalau ada sifat lain yang ikut campuri atau menggodai.

Purworejo, 02 Januari 2019

Masa Lalu Selalu Salah di Masa Depan


Masa Lalu Selalu Salah di Masa Depan

Karya : Hang

Masa lalu akan selalu salah kalau dipikirkan dan dibanding dengan masa depan secara terus menerus. Tidak ada majunya ketika terus menerus menyalahkan masa lalu. Hidup itu ada pada masa depan bukan masa lalu.

Masa lalu tersebut adalah perjalanan waktu. Masa depan akibat daripada kepergian dari masa lalu. Buah ada akibat pohon yang ditanam pada masa lalu. Pilihannya ketika buah itu matang. Ia dimakan atau ia akan dibuang membuarkan jatuh tanah kotor. Dan membusuk.

Masa depan menjadi upaya perjajaran daripada waktu di masa lalu. Ketika masa lalu dipersalahkan terus menerus ini menjadi bukti kekalahan daripada menghadapi masa depan.

Masa lalu harus menjadi data belajar untuk menghadapi masa depan. Dengan mempersiapkan apa-apa yang bisa untuk menjadi senjata di masa depan

Berlaku untuk semua hal.

Purworejo, 24 Desember 2018

Kuasa Kata Jilid Ke Sebelas


Kuasa Kata Jilid Ke Sebelas

Karya : Hang

Adzan berkumandang begitu cepat waktu ashar menghampiri hampir malam saja rasanya baru tadi mandi tidur sebentar.

Mendung membuat waktu begitu cepat saja. Hidup datar memang. Rasanya capek mengetik dari tadi soal kuasa kata.

Suara itu saling bersautan satu sama lainnya. Berlomba-lomba memanggil para agamawan untuk mengerjakan kewajibannya.

Sementara dalam dunia maya tidak ada waktu berhenti. Untuk apa pun tak diperingatkan.

Dibiarkan bebas waktu berlalu. Bahkan seluruh dua puluh jam dilacurkan didalamnya pun. Mereka para penyedia layanan sosial media tidak akan peduli.

Menjadi kendali sosial media adalah kita. Akan berkata berhenti sejenak maupun lama adalah kita.

Namun godaan kata-kata apalagi rayuan kekasih baru, postingan mantan-mantan dan gebetan yang kemarin berkenalan.

Rasanya pengen bercandaan terus walau waktu serasa sebentar saja. Padahal menatap layar tidak lebar ini sudah lama sekali.

Trauma  bisa dikirim lewat perkataan kita namun juga daripadanya motivasi biasanya akan bisa ditancapkan masuk dalam jiwa. Dengan mudah apalagi dengan lagu yang merdu sekali.

Utama jika yang memberikan motivasinya adalah yang mengharukan. Secara otomatis akan mengikuti keakuratanya. Untuk menanamkan lebih keyakinan dan menjaga kebugaran berpikiran.

Kesibukan seiring waktu ekosistem alam akan lekas rusak. Bisa oleh sebab kata jahat. Kondisi membaik.

Mengacu pada yang tidak perhatian. Kalau hati cidera maka ditanggung pembaca kata yang dilempar oleh kita. Maka membaca kata-kata dalam sosial media perlu ketenangan.

Jangan cepat penasaran dan wajib mengantisipasi masa depan yang menderita. Suatu kelak dilupakan dan hidup tidak sejahtera oleh akibat-akibatnya. Masa tua yang berbahagia.

Perlindungan daripada cidera terhadap pengobatan jika emosional ketika membaca kata bahkan puluhan kata. Menggapai rasa aman.

Perlu suatu perjuang yang penuh terpapar resiko. Menginsprirasi kita untuk menata kehidupan. Pada saat kita tidak mendapatkan prestasi daripada akibat perkataan.

Mengungsi untuk sesuap nasi yang dicari oleh para suaka dari luar negeri bahkan melacurkan diri untuk bertahan hidup. Mandi birahi nafsu bersama kita asalkan bayaran cocok.

Segala gaya di ranjang mau-mau saja dilakukan. Kalau sudah masalah perut apa daya orang lain akan diam dan tidak mampu berkata-kata selain prihatin.

Apalagi masih sebatas pecintaan seumur jagung muda. Belum ada ikatan sah agama dan negara. Tidur bersama di hotel bintang lima. Bahkan dalam kos-kosan sekalipun apabila nafsu sedang membara apinya akan membakar dimana tempat tidak akan perduli.

Terpenting terlampiaskan nafsu ranjangnya. Dan tertangkap bukti kuat alat kontrasepsi yang disediakan dalam dompet besar. Buka satu saja namun puluhan. Semacam persediaan yang emang disengaja.

Manusia begitu adalah dua tipe antara keterpaksaan melakukannya dan sudah jadi pekerjaan yang walau sudah disadari sebagai perbuatan hina. Kita melihatnya sebagai kejahatan sampah masyarakat.

Stigma perkataan kita akan pelacur emang menyedihkan. Wanita malam begitu banyak. Wanita bergadang ria pun banyak. Wanita yang terjebak bujuk rayu sosial media melakukan perselingkuhan pun tidak hanya sedikit yang berujung pembunuhan dan penceraian.

Belaku juga untuk para lelaki yang mudah mencari mangsa dalam sosial media. Postingan yang galau-galau pasti dalam incaran. Kemudian kita akan terus membujuk rayu hingga perkataan itu benar-benar merasuk dalam jiwanya.

Jika kemudian berhasil maka akan melakukan pemerasan dengan mudah lwat buaian kata-kata mesra dan nafsu birahi yang biasanya akan dibalas dengan menerima dengan lapang dada yang kemudian jadi alat ancaman. Selama itulah perempuan itu akan digunakan sebagai alat pemuas nafsu birahi.

Perkataan membawa emosional mengungkap kekesalannya. Selingkuh dengan kata. Isu perselingkuhan jalan dengan orang lain. Padahal sudah punya pasangan.

Ketahuan tidak mengaku. Awal mula pembunuhan diķata dengan perkataan yang lengkap dan tenang.

Apapun alasan berkata kita akan menghukum dan menjerat yang tak mungkin lagi terlepas seperti burung dalam sangkarnya.

Tidak menyangka sadis perubahan sikap menyebabkan akal tidak sinkronisasi. Alasan terkuat pembelaan kata pelaku keji adalah perselingkuhan.

Gagang cangkul penyebab tangan retak otak pecah. Apalagi kalau bukan penyebabnya adalah perkataan kita yang menyakitkan ditambah kemungkinan melakukan sibuk rayu  tidak lancar. Seks misalnya.

Seks adalah salah satu aktivitas yang bisa meredam kemarahan. Penyaluran seks akan menyehatkan sekaligus menyegarkan otak manusia. Jika dilakukan dengan benar yang begitu akan mendapatkannya.

Dikembang ke arah untuk persiapan-persiapan  penangkapan debat kata-kata diantara kita. Dengan tahu siapa siapa operasi target maka kita akan lebih mudah mempersiapkan perkataan yang tak gampang dibantah apalagi sanggah.

Terperangkap dan kemudian ditangkap akan masuk pada perkataan kita.

Asumsi kata-kata tergantung pada kita membacanya apakah dengan dalil agamawan apa opini ilmuwan yang hidup pada jaman dulu kala. Dua hal itu akan bisa mengakibatkan romantisme berbeda jauh dan tidak jauh. Dalam saat menyimpulkannya.

Purworejo, 23 Desember 2018

Kuasa Kata Ke Sepuluh


Kuasa Kata Ke Sepuluh

Karya : Hang

Menulis adalah cara manusia menanam ranjau-ranjau dan jebakan nalar. Siapa yang terjebak maka dia yang akan terlena-lena. Mengangkasa terhembus terbang tinggi bagaikan para layang. Dan burung-burung yang bergembira menyuarakan untuk terpikirkan melakukan sesuatu.

Kita akan melihat air yang diam menjadi genangan yang kotor banyak menyebabkan masalah. Untuk itu berkatalah lewat perkataan-perkataan maka kita telah menyumbangkan pengursngan genangan berupa masalah. Sumbangan bonus daripadanya tersebut adalah ditunggu-tunggunya argumentasi yang cerdas.

Air yang bersih akan cepat digunakan sedangkan air yang kotor akan cepat ditinggalkan.  Begitu pula perkataan kata-kata kita. Akan disaring ketat oleh publik kecuali kita emang sepakat kata kotor juga suci dan tidak bermasalah jika diucapkan di arena publik tentu dengan ketentuan khusus.

Purworejo, 08 Desember 2018