Wajah Hukum Perilaku


Wajah Hukum Perilaku

Karya : Hang

Mengasyikkan diri dengan musik. Aku tidak peduli kata-katanya. Tapi aku peduli iramanya. Aku tidak peduli wajahmu tapi aku peduli perilakumu. Sebagai fiksi wanita adalah indah tapi seram sekali sebagai fakta kata seseorang. Standar kalimat pertama sampai akhir ada kesejajaran makna di dalamnya.

Lebih enak kalau kitapeduli pada perilaku manusia daripada fisik manusia. Menjadi manusia memandang dan bergulat dengan ide-ide. Suara yang tak berhenti total. Kebijakan negara akan menempatkan rakyat sebagai bahan perlawakan di layar kaca.

Penegakan hukum yang digantung-gantung selama dua belas jam dikalikan lima ratus lamanya sebagai penanda lampu merah terang untuk menghentikan. Ini bukan lagi darurat hukum tapi genting sudah gawat sekali. Keputusan hukum sampai sekarang masih tajam kebawah. Tidak ada yang peduli dan bersuara lantang untuk membela. Mengapa harus teriak-teriak di televisi baru menyadari ada kesalahan?

Kasus perlecehan seksual verbal dan fisik misalnya. Kampus dan sekolah bahkan jadi arena yang tidak lagi aman. Menjadi tempat ancaman bagi seseorang untuk dilecehkan daripada seksualitasnya. Tentu kasus demikian sudah lama sekali terjadi misal dalam angkutan umum; bus, kereta, bahkan di jalanan saat perempuan di gang sendirian saat itu pelecehan terjadi.

Melawan kejahatan ini memang butuh saling menggandeng tangan. Tidak juga perempuan kepada laki-laki semua harus saling paham dan mengerti satu sama lainnya. Sadar diri pada diri masing bisa jadi solusi. Utamanya menahan diri untuk melecehkan dan mengubarkan kenikmatan itu di ruang umum yang bisa mengundang perlecehan.

Hukum harus tegak siapa salah harus dihukum. Hukum harusnya tajam sekali pada kesalahan bukan pada pembenaran. Benar yang dicarikan kesalahannya. Dalam hal ini emang sosmed bahaya. Maka ketika mempostingkan apa harus dipikirkan dahulu apa akibatnya demikian.

Purworejo, 16 November 2018

Iklan

Kemanusiaan dan Televisi


 

Televisi-freepik
Televisi

Kemanusiaan dan Televisi

Karya : Hang

Televisi adalah alat imanjinasi yang setiap hari manusia hirup. Seperti nafas yang wajib jika tidak maka akan mati ketinggalan gosip artis. Maka dari itu banyak acara yang berimanjinasi buruk. Misalnya acara televisi yang hanya ingin memutuskan pacar saja kok sepertinya ribet sekali harus lewat pihak ketika. Membawa emosional segala dan ini memang disengaja agar menarik penonton. Serta membawanya kedalam alur cerita.

Sejarah itu kemurnian sejati tapi diangan-angankan lewat sebuah cerita. Maka ketika membaca sejarah keduanya adalah seiring seirama. Perpaduan yang amat dibutuhkan untuk kedua hal tersebut.

Kenangan dan angan adalah dua yang bercumbu di sebuah kemurnian. Rindu terperangkap dalam angan Kembali menuntun angan pada harap yang terbuang. Angan-angan dalam bayang merah putih kemerdekaan didepan mata direbut oleh kekosongan peradaban. Imanjinasi melahirkan kemurnian yang tak sempurna.

Malam beranjak dari senja. Sunyi yang bersembunyi daripada hirup pikuk negeri. Murni dan angan-angan menjadi lawan berikut harus berbalik jadi kawan. Seiring seirama lagu-lagu. Ruangan diantara ruang

Ujung kenapa kita harus wajib berilmu adalah supaya kita mampu berperikemanusiaan. Mengerti perbedaan ; menerima adanya perbedaan tanpa mengajak perkelahian.

Kalau ada orang berilmu lalu tidak mampu menerima perbedaan dan selalu mengajak perkelahian. Ilmumu tentang kemanusiaan runtuh begitu saja. Politik ujung tertinggi adalah kemanusiaan begitu juga agama.

Namanya kepala manusia tak terhingga perbedaan pun kesamaan. Kesamaan hanya waktu makan banyak ya kenyang, pas bercinta ya klimaks, pas tidak suka ya protes. Soal kemanusiaan menjadi rumah utama.

Sejarah panjang yang menjadi masalah adalah dunia kemanusiaan. Selalu mencari perbedaan dan memusuhinya. Tidak ada keromantisan dalam perbedaan.

Manusia memang bentuk-bentuk sosial. Ia memang mencari kesamaan dan menghindari perbedaan. Dalam lampau sejarah pun melakukan itu.

Perkelahian perbedaan itulah harusnya dimainkan dengan indah. Bukan yang menumpahkan darah dan ucapan kotor binatang di lantangkan di televisi. Ini memalukan, satu sisi mereka berilmu sisi lain melupakan rasa kemanusiaan.

Purworejo, 09 November 2018

Kebodohan Dalam Sangkar Penonton Politik


Kebodohan Dalam Sangkar Penonton Politik

Karya : Suhanggono

Diskusi kebodohan itu kayak begini : 

A vs B tapi setelah sekian lama yang berdiskusi orang-orang sekitar A vs B untuk memancing orang-orang C D E F G H I…dst. 

Ada lagi : 

Menonton dengan kebodohan :

Ketika hanya sama menonton, sama tidak ada mengerti faktanya tapi saling debat apa yang ditontonkan dengan perdebatan yang bodoh. 

Terkadang orang hanya mengikuti jalan perkiraannya bukan logika yang nyata-nyata. Dan ini adalah akar pohon dari kepalsuan informasi yang berbuah HOAX. 

Soal mahar/uang politik itu ndak usah berdebat. Ayo tunjukkan mana si pesta rakyat tanpa bagi-bagi uang/kursi jabatan? 

Situ berani membantah sebab ada dua hal karena gobloknya ndak sembuh-sembuh dan tidak terupdate beritanya. 

Purworejo, 13 Januari 2018

Rokok dan Dingin


Rokok dan Dingin

Karya : Hang

Sekarang curang rokoknya disembunyikan dibalik layar ketakutan candu. Kau benar-benar curang.

Aku tidak bisa candu pada rokok. Aku lebih candu pada dinginmu. 

Aku bisa merokok hari ini sebatang dan dilanjut bulan yang sama tahun berbeda sebatang lagi tapi ndak bisa menghilangkan dinginmu sedetik saja. 
Purworejo, 02 Januari 2017

Kir tan Cis Pel kai Dom


Kir tan Cis Pel kai Dom

Karya : Suhanggono
Parkir tanpa karcis ibarat ngencuk sama pelacur tanpa kondom. Sesuai keinginan tata logika kenikmatan berduanya.

Kalau karcis parkir itu diminta oleh pelanggan sama halnya pelacur meminta untuk memakai kondom si pelanggannya. Cuma beda logika pemakai dan permintaan.

Sayangnya pelanggan parkir itu kadang melupakan karcis dianggap tidak penting tidak seperti pelacur yang selalu taat dengan pemakaian kondom dianggap penting sekali. Logika kesehatan dan malas menyimpan kertas karcis. Beda padahal ditinjau dari ketaatan sama pentingnya. 

Begitulah karcis dan kondom. Soalnya aku pernah obrolan soal-soal kenapa si parkir tidak memberi karcis sebab si pelanggannya tidak meminta dan pelacur malah memwajibkan pakai kondom untuk si pelanggan. Logika kebiasaan aturan ketaatan.

#NulisLagi

Purworejo, 23 Desember 2017

Tanah Menangis


Tanah Menangis

Karya : Suhanggono

Jika duka ditangisi dan suka pun ditangisi Apalah arti kebahagian dan kesedihan

Bangunan kokoh tembok-tembok derita

Berdiri mencumbui malam-siang

Hujan angin bahkan senja dibalik kehijauan rumput pergunungan yang tersembunyi

Depan sungai besar mengular ditengah kota 

Banyak sampah plastik plembungan dan air liur ikan yang kawin

Gubuk reot bermandikan lumpur kehidupan

Deritanya tak begitu ketara 

Hanya mengejar sesuap nasi menyambung hidup
Riuh-riuh mulut beradu dipinggir kali

Tawar menawar diantara kegelapan malam

Sayur mayur hingga berapa harga sebuah matahari di musim hujan dingin 

Warkop ramai sekali dalamnya surga 

Ada togel ada judi ada nikmat kasur

Purworejo Kutoarjo 2017

Guru Gerimis


Guru Gerimis

Karya : Suhanggono

Guru adalah panutan tapi bukan berarti selalu benar. Dalam perilmuan selalu berubah mengikuti jamannya. Omongan guru hari kemarin belaku untuk jangka waktu tertentu atau bisa juga selamanya. Dulu guru pukul siswanya pakai garisan kayu panjang barangkali tidak apa-apa. Itu sebuah didikan agak tetap lurus jalannya. Sekarang bisa berurusan ke kantor polisi minimal masuk koran pagi. Dulu guru dicium tangannya sekarang banyak yang berani menantang berkelahi. Lah iya orang itu guru bela diri. 

Kalau soal guru “ihik” selalu menilai cewek ayu dengan 8 cowok 5. Rasanya banyak juga menjadi hal wajar dia lelaki dan tidak wajar sebab tidak suci dalam penilaian. Ayu “cantik” belum pernah aku melihat dinilai 5 walau ada juga yang suci penilainya. Tidak peduli apa adanya. 

Guru bilang goblok muridnya balas dasar asu. Itulah potret masa sekarang. Semua belaga preman. Dulu pas jadi mahasiswa bukan niat beramal jadi guru tapi jabatan dan uang. Aku pun pernah digoblokkan. Dan tertawa sebab kalau aku pinter gurunya ndak mengajar. Keenakan juga apes ndak dapat gaji. Goblok benar ya aku ini. Haus ilmu lewat kata-kata. 

Jangan salah yang mengasuh atas anak-anak yang salah asuh. Sebab mereka itu hanya pentransfer ilmu. Buka pembentuk akhlaq mau gimana kalau jiwa anak melawan dan tidak bisa ditembus dengan pengajaran guru. Makanya memang guru adalah pahlawan yang telah dilupakan. 

Murid sejati adalah murid yang tahu tujuan guru. Guru pembaca jiwa murid. Ia harus tahu bagaimana cara mendidik kepada jiwa cengeng, jiwa batu, jiwa api, jiwa tanah dll. Makanya guru-guru yang tua lebih ingin dihormati harus ada lelaku dalam pergaulan. Guru muda lebih gaul menempatkan dirinya. 

Katanya hari ini Hari Guru ya. Semua yang pernah berinteraksi adalah guru-guru. Dan pengalaman adalah guru sejati yang mahal pengajarannya. 

Hari Guru gerimis manis sembah sungkem.
Purworejo, 25 November 2017