Perjalanan Ahad


Perjalanan Ahad

Karya : Hang

Tiga tempat ku kunjungi kemarin hari Ahad. Seren kemudian ke utara dikit (rahasia) dan Telkom Kutoarjo.  Sebenarnya habis tempat pertama mau ke Bruno. Gagal belum ada kontak lancar. Apa yang menarik?

Di kunjungan yang kedua aku belajar apa itu kehidupan.

Beliau orang yang berpikir sederhana. Tidak ada yang mempersulit baginya dalam proses kehidupan. Bahkan untuk sebuah biaya kehidupan sehari. Enak untuk dijawabnya.

Keadaan rahim perempuan. Di pertigaan bangunan sekolah tinggi dan megah. Banyak siswa baru pulang sekolah. Terdapat tiga bocah anak jalanan. Ada yang ditindik hidungnya. Baju udah lusut, rambut rapi, baju sudah kumal. Sedangkan remaja perempuan. Kutafsir masih belasan mungkin umur-umur SMPan. Duduk dengan diam yang mungkin menahan kelaparan. Sedangkan dua remaja lelaki yang sibuk dengan jreng-jrengan gitar kecilnya.

Dan di Telkom Kutoarjo aku melihat rahim perempuan yang dibuahi dengan percintaan sedang diadu argumen siapa harus bertanggung jawab. Apakah iblis atau lelaki duduk di sebelahnya?

Sedangkan sekelompok muda-mudi rumit dengan tugasnya kuliahnya sedang sibuk mengcopas pasti artikel dari mana-mana. Terpenting jadinya tebal. Maka nilai jadi baik.

Ada dua orang muda yang serius dengan game online ketika kalah mengumpat. Seriusnya melebihi diujung sana soal percintaan.

Mereka sedang bercumbu. Bibirnya beradu argumentasi. Tidak pro zina itu kan hanya formalitas negara saja biar dianggap melindungi moralitas bangsa. Cek aja berapa banyak video yang berbugil ria, atau tanya jawab yang agak nakal. Yaudah di fesbuk deh banyak ratusan. Apakah ditangkapi? Menurutku bukan solusi. Solusi adalah potong jalannya untuk akses kesana. Dengan jalan pikiran terbuka benar-benar terbuka akan tetapi terfilter.

Besuk kemana lagi tanpa janjian. Pergi begitu saja.

Kutoarjo, 04 Februari 2019

Iklan

Wasit di Sebuah Pernikahan


Wasit di Sebuah Pernikahan

Karya : Hang

Pertandingan kemarin hari kamis malam jumat membuat berpikir andaikata dalam sebuah pernikahan pun ada seorang wasitnya yang begitu. Ini hanya ilustrasi sederhana agar gampang berpikir dan nyambung dalam sama-sama menganalisa. Supaya tidak berat. Politik akan menyenangkan jika dibawakan dengan ilustrasi yang asyik. Oleh sebab si jomblo pengen nikah makanya aku akan mengajak berpikir dengan gambaran sebuah pernikahan. Dari pencarian calon pendamping.  Hingga hari H dan sdikit akal yang nakal malam pertamanya.

Mencari calon pendamping duduk bersama dalam masa yang tak mengenal waktu. Tentu banyak pertimbangan dari kondisi perwajahan kesehatan keuangan hingga paling penting kewarasan yang semua dibungkus dalam kesatuan persatuan agama.

Kuliah berotak bukan rasa doang ibaratnya menikah tuan rumah menyediakan makanan bukan sibuk menawarkan dahulu satu-satu ke rumahnya soal makanan kepada undangan. Apa makanan? Acara tertutup apa terbuka?

Udah makin bermodel beda. Modal pun beda.

Modal pikiran adalah modal utama. Kewarasan. Kesehatan. Baru keuangan segala-galanya.

Kalau perlu sama undangan rapat dahulu. Lebih gilanya kalau perlu sama calon pengantin rapat gaya sini sunu sono. Gaya miring? Tegak? Berdiri?

Yang rapat itu harusnya pikiran tuan rumah utama bukan yang disekitarnya. Disekitarnya itu cuma ngangguk-ngangguk sama melaksanakannya.

Akibat salah pikiran tu ya begini. Terdengar lucu.

Coba bayangkan tuan rumah adalah wasit bahkan calon hanya bisa memasukkan ide liarnya bukan pemutus tegak ide tersebut.

Tapi wasit itu harusnya melayani undangan tamu yang berbeda pikiran. Pusinglah. Dan pasti akan kacau acaranya. Belum malam pertama udah pingsan berulang kali

Kalau wasit udah ada aturan buat wasit bagaimana tinggal tegakkan. Jangan lagi nanya setuju apa tidak setuju. Apalagi kalau tìdak ada bocoran soal dianggap akan mempermalukan salah satunya. Kan menggelikan hasilnya. Hanya hora huru tidak jelas.

Apa hasilnya pertandingan kemarin? Gagal. Tidak mengerucut dari apa yang sudah dibahas berulang-ulang di televisi. Kuangggap kosong ide kosong pertandingan. Dan kemunduran logika dalam pembantaian pikiran. Adanya tukar tambàh pikiran. Tukar tambah retorika saja.

Purworejo, 24  Januari 2019

Sebuah Sila


Sebuah Sila

Karya : Hang

Kemanusiaan yang adil dan beradab

Tetiba ingat kalimat tersebut.
Yang setia belum tentu cinta.
Yang cinta tak tentu setia.
Hidup emang gitu tipis-tipis perilakunya.

Purworejo, 24 Januari 2019

Kebebasan Dalam JalanNya


Kebebasan Dalam JalanNya

Karya : Hang

Hari-hari ini kita dikejutkan dengan kebebasannya ustadz ABB di tahun politik seperti ini. Pak Yusril yang mengabarkan itu telah meluas. Kemudian daripada itu analisanya pandangan-pandangan publik masih negatif. Mengatakan ini hanya aji mumpung memanfaatkan momentum agar terlihat masih peduli terhadap ulama. Banyak aktivis anti terorisme masih diam untuk sementara waktu dalam mengkritik akan hal ini berbeda kalau momentum yang lainn-lainnya. Publik harus curiga dan memang begitu harusnya.

Bagaimana pun stigma teorisme terhadap ustadz ABB masih mengingan-ingan di bumi Indonesia. Serta di bagian bumi lainnya. Seperti AS, Australia dan lain-lainnya. Bagaimana menjelaskan ini semua?

Dan apalagi Ustadz menolak tanda tangan setia pada pancasila. Sebuah pembelajaran persoalan konsisten. Emang dasar yang kuat tidak akan mudah tumbang oleh apapun. Ia sudah menancapkan ke tubuh yang lebih dalam sedalam-dalamnya. Bukan hanya pikiran saja hati dan perilakunya tetap konsisten lurus.

Kalau alasannya kemanusiaan bagaimana dengan mereka yang salah tangkap? Penjara yang penuh hingga berkali melihat bentrokan karena akan menjenuhkan jiwa raga pikiran? Bagaimana juga perilaku istimewa dalam penjara yang masih ada? Walau demikian sudah diketahui masyarakat luas belum ada perbaikan yang sangat berarti. Berubah saja tidak.

Jadi apakah percaya ini bukan soal politik? Walau demikian dibantah panjang suasana di publik terus-menerus menganalisa dan mengatakan demikian. Inilah efeknya kalau memimpin tapi tiada pemimpin seperti ilustrasinya Bang Dahnil di ILC. Semua bekerja saling memanfaatkan tidak sesuai aturan yang ada saja. Apa adanya. Tidak dibuat-buat dan mencari sudut kamera agar terlihat bagus dimata publik. Sekarang-sekarang ini makin terbaca dan basa basi terlihatnya.

Bagaimana nasib jejak digital yang mengatakan Saya Indonesia Saya Pancasila. Terhadap kokohnya pendapat ustadz ABB akankah melakukan perlawanan atau diam demi mendulang suara atau nasibnya sama hanya untuk kepentingan politik di waktu tertentu. Jadi momentum tertentu mengakui paling agamis lain waktu lagi mengakui paling pancasilais sesuai isu yang berkembang. Akankah hanya menjadi begitu?

Purworejo, 23 Januari 2019

Sebuah Kemajuan Cukup Kemunduran


Sebuah Kemajuan Cukup  Kemunduran

Karya : Hang

Robot seks sudah ada di luar negeri dan dipastikan ndak bisa bilang “Cukup…..,” karena masih bahasanya masih cinta lokal.

Kita sudah ketinggalan satu abad terhadap teknologi memuaskan kasur. Dan tabu pula.

Kita pelanggan prostitusi saja masih janggal berdebat berat untuk dihukum apa tidak? Astaga. Dan anehnya tidak tabu prostitusinya dibahas terus melulu kayak sinetron kejar tayang. Prihatin.Jangan pernah bilang cukup pada pasangan sebab itu hanya melegakan saja tapi tak pernah akan memuaskan.

sebuah tebakan ;

“Aku dua jam saja belum tentu puas. Kalau main berdua tapi sebenarnya asyik sendiri. Kurang melulu,”

“Obat kuatku tidak kelihatan tidak kuminum tidak kumakan. Ia sama sekali tak kelihatan sesakti apapun manusianya,”

“Apakah obat kuat dan pasangannya?”

“Obat kuatnya adalah Hape,”

“Pasangannya adalah sinyal hape,”

*Udah tak kasih kisi-kisi plus jawaban pula. Kurang baik apa pula aku ini.

#TebakanNegeriFiksi

Purworejo, 18 Januari 2019

Ketika Hanya Jutaan Makna Tingkah


Ketika Hanya Jutaan Makna Tingkah

Karya : Hang

Pendukung 02 minta Pak Joko ikhlas diganti Pak Bowo. Sebuah judul berita yang  Menteri Hub meminta ikhlas untuk menerima jika tarif pesawat naik.

Kekuatan sekalimat ini durasinya sama. Dua kali menunda share berita yang menggelitik akal sehat. Takut nyampah.hahaha nanti aku tulis saja ya blog.

Janji ulang. Kagak percaya gaji swasta guru 300ribuan. Hadeh Bapak bertahun-tahun kesana-kesini cuma ngasih pertanyaan nama-nama ikan si atau gimana? Kok sampai tidak tahu. Ngaku dipublik pula. Malu-maluin ah.

Guru, ojol dijanjiin ulang yang berulang. Tidak ada kasihannya. Selama ini tidak diperhatikan? Demo aja kabur melulu.

Jangan nonton berita televisi. Televisi itu emang rada-rada “nganu”. Beritanya agak tidak terbaharui. Pagi itu siang diulang malam itu lagi. Cuma kadang narasi narasumber berbeda. Tapi kalau topiknya sama. Bosen.

Kecepatannya terbaharui berita kalah dengan berita-berita online. Makanya salah satu televisi beritanya itu-itunya saja. Akan diserap orang tak baca berita online.

Menurutku ini taktik ya untuk keluarga yang hanya bisa akses televisi atau bisa akses berita televisi bisa online tapi malas membaca berita online.

Banyak keburukannya berita televisi bisa bertujuan untuk serangan salah satu pasangan pilihan. Tapi mau gimana lagi tidak mungkin semua dibahas di televisi pasti ada yang ndak dibahas soalnya ada pemodalnya pemiliknya.

Ibaratnya berita online sudah bahas huruf W berita teĺevisi masih di seputaran huruf J. Jauh sekali. Makanya kita harus tidak nurut pada keduanya. Harus berpikir ulang-ulang terus. Jangan terlalu kaku salah satunya. Dikombinasi dari berbagai sumber.

Ngakak boleh Pak? Aku muak cara-cara gini.

Tapi menurutku yang kupelajari kuliah soal produk dan distribusi. Paling penting muncul berita tersebar luas kalau nanti ada skandal baru misalnya tidak diakui organisasi resminya lagi selain kemarin itu ternyata modus caleg pakai kaos bola. Soal lain kagak dibahas sama media pendukungnya.hahaha soalnya itu caleg pemilik partai pemilik media.

Isu khilafah masih akan dibahas diwaktu-waktu tertentu. Walau penyelesaian emboh kapan. Terpenting heboh jadi berita tujuan agar tidak lupa. Kabar buruknya jadi hantu yang dibangkitkan terus menerus. Kabar baiknya bisa jadi kampanye memperluas yang tahu makin tahu yang belum tahu bisa cari tahu.

Pro kontra kan biasa saja. Kasus prostitusi artis pun sama. Kita akan dikaget-kagetkan kalau kamu kagetan tapi. Kasus korupsi masih menghiasi televisi. Kasus narkoba-terorisme akan sudah terbangun jadi monsterisasi. Hingga orang yang kritis ndak ada ruang.

Kalau kritis sama terorisme dengan model pandangan berbeda “agak membedah lebih dalam” malah dianggap kelompoknya. Agak bodoh si argumen gini tidak mampu beragumen balik dengan cerdik soalnya. Kasus hukum akan tiada adil pembunuhan karakter pembunuhan tubuh-tubuh tanpa berkeadilan yang sebenar-benarnya.

Saya indonesia saya pancasila
Saya pengangguran hiduplah hidup pada liberal.

Purworejo, 14 Januari 2019

Obat RS Imanjinasi dan Ilusi


Obat RS Imanjinasi dan Ilusi

Karya : Hang

Aku tidak tahu judul apa yang sebenarnya mau kutulis ini persoalan minum obat bertahun-tahun lamanya. Semenjak 2014 sampai 2016 aku obat-obatan terus. Tidak padat penuh tapi setahun lebih juja dihitung dengan benarnya aku lupa. Tapi kira begitu.

Disaat aku bosan minum dan terus sembunyi obat itu yang pada akhirnya ketahuan juga.
Sampai Ibu itu ngambek. Sebab Ibu itu paling manut Dokter. Obat selalu habis tetap waktu.

Soalnya mengapa aku bosan sebab aku melakukan tidak dengan senang dan masih ada serpihan jiwa yang tidak mau menerima. Sebenarnya aku juga perlu psikologi gagalnya perjalanan kemarin ada pengalaman pahit yang harus di telan dan dibawa ke otak untuk jadi perenungan diri.

Terang aku tidak takut disuntik belah tubuh. Aku dan lolos soal itu. Aku cuma takut dianggap kafir dipublik. Kalau dianggap gitu apalagi suwung. Haduh rontok mentalku. Dan penyembuhannya butuh diam setahun.

Tahun lalu aku bertemu dengan orang-orang hebat yang konsisten dalam kesosialannya. Selalu tunduk pada jalanNya. Beda denganku yang morat marit banyak alasannya. Ya soalnya aku kalau nekat fokus satu usahaku harus selesai.

Barangkali hanya ikut beberapa pertemuan. Dan utang pertemuan pun masih ada yang belum terlunasi. Ini jadi bayang-bayang yang menggelatung di mimpi. Berkali-kali monologku berkata segera bertemu lunasi pertemuan itu dan balik menulis. Biar agak tenang.

Tahun ini ada lomba novel aku selalu menantang diriku sendiri untuk ikutan. Minimal latihan menulisku lebih lentur. Tentu aku masih ada janji pada diri sendiri untuk jalan-jalan ke Bener, Kali Gesing, Pituruh, Bruno dan Pantai Gowok. Semoga lekas terlaksana. Kayaknya si nganggur tapi kok ya ada kegiatannya.

Satu perkataan Ibu : “Obatmu ada pada semangatmu,”

Satu perkataan Dokterku : “Obat ini cuma 50 persen 25 persen lingkungan 25 persen semangatmu,”

Satu perkataan Mas Wis : “Nek loro ra usah dirasake ben ra loro,”

Perkataan yang wajar karena masih muda waktu itu.

Udah ah…. antrian dulu…

Purworejo, 14 Januari 2019

**Iseng ditulis pada antrian RS duduk manis. Depan Poli Dalam I :)) sementara di Poli Ortopedi Pak Dr Febrilian nya masih bedah operasi “dokter romantis”