Rokok dan Dingin


Rokok dan Dingin

Karya : Hang

Sekarang curang rokoknya disembunyikan dibalik layar ketakutan candu. Kau benar-benar curang.

Aku tidak bisa candu pada rokok. Aku lebih candu pada dinginmu. 

Aku bisa merokok hari ini sebatang dan dilanjut bulan yang sama tahun berbeda sebatang lagi tapi ndak bisa menghilangkan dinginmu sedetik saja. 
Purworejo, 02 Januari 2017

Iklan

Tour Jogja Mengenang Kembali bagian Kedua


Tour Jogja Mengenang Kembali bagian Kedua

Karya : Suhanggono

Harusnya hanya sarana yang modern tapi rasa peka manusia tetap ndeso. Modern hanya akan jadi pengacau diantara kematian tradisional. Mall yang akan berdiri pasar tradisional pun berlari bertambah pasar online mengambang toko-toko pun tutup.

Air botol di terminal, warung tetangga aja beda jauh seribu rupiah. Aku melihat sepinya pembeli. Sebabnya salah satunya begitu. Giwangan warung minumannya banyak berjajar tapi pembelinya jarang. Selain memang terminalnya sepi. Barangkali sudah pada makmur lalu tidak menggunakan transportasi umum.

Kalau tradisional mati siap-siaplah kiamat. Jogja saja masih kayak hutan banyak perpohonan walau dekat dengan tengah kota. Mereka masih paham ndeso bukan hal ketinggalan zaman dan modern kemajuan zaman. Udara deso harus tetap dalam perkotaan besar salah satunya dengan perpohonan.

Membayangkan Purworejo yang lagi gemar bangun perumahan. Sawah berubah jadi perumahan. Mengajarkan keindividualisme. Mengajarkan sikap-sikap emosi kota bukan desa. Semua harus cepat tepat. Bahkan kampung-kampung tak lagi kelihatan kampungnya. Sudah jadi semi kota. Loe gue bahasanya. Ada Mbah tua membungkuk di pinggir jalan ngacir aja lewat tanpa permisi. Tidak ada saling sapa. Tidak ada. Sebab ia sudah digantikan oleh WA sosmed dll. Memang masih ada ngopi bareng. Sambil nyoret nomer togel HK atau Singapura.

Purworejo, 13 November 2017

Tour Jogja Mengenang Kembali bagian Kedua


Tour Jogja Mengenang Kembali bagian Kedua

Karya : Suhanggono

Harusnya hanya sarana yang modern tapi rasa peka manusia tetap ndeso. Modern hanya akan jadi pengacau diantara kematian tradisional. Mall yang akan berdiri pasar tradisional pun berlari bertambah pasar online mengambang toko-toko pun tutup.

Air botol di terminal, warung tetangga aja beda jauh seribu rupiah. Aku melihat sepinya pembeli. Sebabnya salah satunya begitu. Giwangan warung minumannya banyak berjajar tapi pembelinya jarang. Selain memang terminalnya sepi. Barangkali sudah pada makmur lalu tidak menggunakan transportasi umum.

Kalau tradisional mati siap-siaplah kiamat. Jogja saja masih kayak hutan banyak perpohonan walau dekat dengan tengah kota. Mereka masih paham ndeso bukan hal ketinggalan zaman dan modern kemajuan zaman. Udara deso harus tetap dalam perkotaan besar salah satunya dengan perpohonan.

Membayangkan Purworejo yang lagi gemar bangun perumahan. Sawah berubah jadi perumahan. Mengajarkan keindividualisme. Mengajarkan sikap-sikap emosi kota bukan desa. Semua harus cepat tepat. Bahkan kampung-kampung tak lagi kelihatan kampungnya. Sudah jadi semi kota. Loe gue bahasanya. Ada Mbah tua membungkuk di pinggir jalan ngacir aja lewat tanpa permisi. Tidak ada saling sapa. Tidak ada. Sebab ia sudah digantikan oleh WA sosmed dll. Memang masih ada ngopi bareng. Sambil nyoret nomer togel HK atau Singapura.

Purworejo, 13 November 2017

Tour Jogja Mengenang Kembali bagian Pertama


Tour Jogja Mengenang Kembali bagian Pertama

Karya: Suhanggono

Terminal besar dan sepi penumpang. Terminal Giwangan namanya populernya di Jogjakarta. Namun tampaknya sudah bermodernsasi. Tampak pula alat yang berbunyi sensitif terhadap benda mencurigakan sudah terpasang. Dari dulu memang sepi. Dan yang berbeda tidak ada petugas menarik uang retribusi karcis masuk ke terminal. Baru beberapa bulan ke sasar di Jogja masih ditarik. Sekarang tidak. 
Dibanding stasiunnya yang selalu ramai. Barangkali tarif bus kota antar provinsi sedikit otoriter. Misalkan dalam perjalanan Pendowo-Giwangan tarifnya 20ribuan tanpa ac tetapi memang agak bagus dalamnya dan ramai padat penumpangnya. Sekembalinya dari Giwangan-Pendowo malah hanya 15ribuan. Sepi penumpang dan perjalanannya agak terburu-buru. Sopirnya mengebut dan kadang pula melambat. Dalam telponnya terdengar suara keluh kesah. “Alon-alon nang Gamping penumpang’e elek,”. Banyak cerita waktu berangkat kita disaksikan pemandangan goib yaitu berbauan durian yang membuat sedikit penumpang dan kernet bus seolah mabuk durian. Memang disepanjang jalan Pendowo-Krendetan apalagi Bagelan itu buah durian jadi paling seksi baunya. 
Cara penjualan jeruk itu yang di bus bukan hal baru terjadi namun ini sudah hampir menjadi tradisi. Atau bisa dikatakan adalah hiburan. Mereka menjual berdasarkan jumlah butiran buahnya bukan beratnya. Walau harga tetap 10ribuan jumlah butirannya bisa 10-15 diakhir-akhir penjualannyan. Untuk keabsahan ini entahlah. Sebab diwaktu pulang tadi ada yang juga jual begitu namun jumlahnya hanya 8 walau harga 10ribuan. Nipu bukan? Entahlah. Atau sedekah lewat amplop yang dibagi-bagi untuk diisikan uang seikhlasnya dengan cerita yang amat menyedihkan. 

Dalam bus kota…..

Cewek itu duduknya seperti cowok kedua pahanya di pisahkan dan masih berbalut rok panjang sampai mata kakinya. 

Aku pikir ini adalah khas jaman telanjang. Aku melirik matanya dan berdiam ke bawah lalu ke ujung dadanya naik ke wajahnya berbalut jilbab putih yang kurang sempurna. Sebab rambutnya masih terlihat. Ia sedang memgobrol dengan mbah perajin bunga hias hotel, restoran dari dialog mereka berdua yang saling padang beradu mata dan mulut mengoceh-oceh diantara kesepian bus yang terus menggerus meninggal pangkalan aku tahu kalau setiap hari mbah tersebut dari magelang selalu pulang pergi ke jogja. Hebat benar menurutku. Terus untungnya berapa ya sayang tidak ada obrolan itu dan aku tidak tertarik ikut menimbrung. Masih fokus akan dan terus bertanya kemana bus ini berlabuh. 

Tour Jogja… bersambung ya…

Purworejo, 10 November 2017