Kir tan Cis Pel kai Dom


Kir tan Cis Pel kai Dom

Karya : Suhanggono
Parkir tanpa karcis ibarat ngencuk sama pelacur tanpa kondom. Sesuai keinginan tata logika kenikmatan berduanya.

Kalau karcis parkir itu diminta oleh pelanggan sama halnya pelacur meminta untuk memakai kondom si pelanggannya. Cuma beda logika pemakai dan permintaan.

Sayangnya pelanggan parkir itu kadang melupakan karcis dianggap tidak penting tidak seperti pelacur yang selalu taat dengan pemakaian kondom dianggap penting sekali. Logika kesehatan dan malas menyimpan kertas karcis. Beda padahal ditinjau dari ketaatan sama pentingnya. 

Begitulah karcis dan kondom. Soalnya aku pernah obrolan soal-soal kenapa si parkir tidak memberi karcis sebab si pelanggannya tidak meminta dan pelacur malah memwajibkan pakai kondom untuk si pelanggan. Logika kebiasaan aturan ketaatan.

#NulisLagi

Purworejo, 23 Desember 2017

Iklan

Tanah Menangis


Tanah Menangis

Karya : Suhanggono

Jika duka ditangisi dan suka pun ditangisi Apalah arti kebahagian dan kesedihan

Bangunan kokoh tembok-tembok derita

Berdiri mencumbui malam-siang

Hujan angin bahkan senja dibalik kehijauan rumput pergunungan yang tersembunyi

Depan sungai besar mengular ditengah kota 

Banyak sampah plastik plembungan dan air liur ikan yang kawin

Gubuk reot bermandikan lumpur kehidupan

Deritanya tak begitu ketara 

Hanya mengejar sesuap nasi menyambung hidup
Riuh-riuh mulut beradu dipinggir kali

Tawar menawar diantara kegelapan malam

Sayur mayur hingga berapa harga sebuah matahari di musim hujan dingin 

Warkop ramai sekali dalamnya surga 

Ada togel ada judi ada nikmat kasur

Purworejo Kutoarjo 2017

Tanah Rata


Tanah Rata

Karya : Suhanggono

Pada akhirnya semua begitu 
Langit nampak biru berebutan putih

Mendung tak pekat cantik tak putih

Angin tampak diam pun daun tak melambai-lambai

Obrolan teras keras berteriak memanggil nama

Pintu kayu ia gedor-gedor berkali 

Dipikir ada razia sampah kamar ia didalam tetap tenang bersembunyi disunyian lalu sama-sama diamnya hilang

Tak lagi ada panggilan suara 

Hilang lenyap hanya ada rasa-rasa dendam 

Tipis setipis luapan udara hirup keluar masuk paru manusia

Sekarang semua berdiam diri berdiri dihadapan mayatmu mati beberapa saat lalu keracunan gas cinta 

Purworejo, Kutoarjo 2017

Mall Purworejo Untuk Siapa?


Mall Purworejo Untuk Siapa?

Karya : Suhanggono

Modernisasi ekonomi memang tidak bisa dibendung. Adalah alamiahnya sudah pasar diubah jadi beton-beton. Namun kekumuhannya tetap saja dimana sama. Misal pasar Kutoarjo lantai kedua tidak maksimal untuk kiosnya orang memang malas untuk memutari ke atas. Tangganya sudah kumuh. Dilantai dua pun udah brantakan dan agak gelap. Potensial buat untuk ihik. 

Mudah-mudahan mall Purworejo tidak menjadi bencana ekonomi desa. Orang desa itu kalau ke pasar nawar ujung sana sampai sini milih yang tèrmurah. Kalau mall sudah paten. Tidak bisa tawar menawar. Tradisi ekonomi desa begini kelaķ akan hilang. Apresiasi desa-desa yang masih mempertahankan pasar tradisional. 

Modern boleh tidak juga dilarang tapi jangan sekali-kali menghilangkan ketradisionalan ekonomi. Tawar menawar adalah interaksi ekonomi desa yang harus dipertahankan. Sebagaimana sosial,politik, agama,kepercayaan ,hukum tradisional desa. 

Sekarang mulai terkikis ketradisionalnya desa mulai hilang. Dan menumbuhkan sifat-sifat perasaan kota yang suka terburu-buru. Mau kemana mau apa juga terburu-buru. Tidak bisa tenang dan pelan-pelan dalam menjalankannya.

Mall bagus untuk mengimbangi zaman. Jika diisi juga berbagai hal edukasi. Kalau isinya cuma barang-barang mewah inilah penjajahan halus. Mau menyediakan untuk orang kaya atau menghibur orang desa. Harus ada kejelasan. Contohlah Jogja ada wilayah kaya mall-mallnya tetapi tidak meninggalkan wilayah desanya pasar tradisionalnya yang masih bisa tawar menawarnya. 

Harus ada keseimbangan dalam apapun. Jika berat sebelah maka akan terjadi kebencanaan.

Purworejo, 15 November 2017

Prof Hukum Galau


Prof Hukum Galau

Karya : Suhanggono

Jika

Ya ya

Begigitulah kata Prof Hukum

Aku galau hal hukum

Aku risau hal hukum
Prof-prof jurusan hukum pada bingung

Para politisi merusak rel-rel hukum

Akademisi hukum sedang dikasih kuliah khusus

Pada kasus korupsi kali ini

Jangan dicampur baur 
Jika

Ya ya ya 

Hukum sama politik 

Air sama minyak

Sulit menyatu

Kalau pun satu hanya semu ilusi

Dagelan yang ada
Brantas korupsi adanya cuma dagelan

Nangkap seorang harus live televisi

Bawa nama Presiden buat perlindungan

Contoh dong mereka yang tidak tapi dipenjara

Tanpa menyulitkan tapi fakta akan terus terungkap
Ada pula kasus tanpa pengadilan

Anda salah tanpa diadili

Pokoknya salah

Jangan bantah ini perintah penguasa

Ada undang-undang 

Walau teriak-teriak menolak 

Ini perintah penguasa tidak boleh ditolak

Tolak tak bubarin pengajiannya

Jangan main-main sama pancasialis

Kamu tersesat sesat dan menyesatkan menyesatkan tidak pancasilais

Salahmu borok negeri ini kau bongkar

Jadinya penguasa pusing mengahapi
Ibarat anak muda 

Dipukulin dulu sampai remuk

Urusan salah benar

Urusan belakangan yang penting puasin dulu mukulinnya
Purworejo, 13 November 2017
*pancasilais harus dibahas panjang tidak bisa merasa paling berpancasila kalau bangga membubarkan pengajian. Polisi yang bisa menilai sebagai pihak hukum bukan ormas. Jangan bilang tidak suka kekerasan dirinya malah menggunakan kekerasaan.

Puisi Bebas


Puisi Bebas 

Karya Suhanggono
Lesbian ada
Homoan ada

Seks bebas banyak

Mau apa juga lautnya
Beragama sesuai agama dilarang brendel. Disesat-sesatkan. Ajaran agama dikoreksi. 

Lewat akal logika. Pengajian dibubarin. Dandutan dijagain. Jenggotan diterorisin. Rok mini diintipin. Akal dikadalin. Tuhan dicuekin. Agama hilang sendiri.
Sok yak bicara bla bla anti korupsi anti teroris anti kekerasan. Bicaranya asu. Bicara nganu. Segala cacian hafal. Padahal dia bli bli. Mabuk logikanya. Akalnya agak miring.
Perempuan sekarang ndak jual diri lagi. Tapi kepasrahan banget. Mau lihat model apa? Ada. Merem nemu, pakai televisi banyak, pakai internet gudangnya. Begitulah blu blu.
Lelaki ndak repot kalau soal maksiat. Tinggal tidur. Mimpi. Semua sesuai pesanan bayangan. Mau model apa banyak pilihan. Memang sudah kodratnya kali ya. Gampang nganu. 
Dan negara memang “sengaja” sediakan hal-hal maksiat. Itulah kebebasan. Ada negara kalau sudah meresahkan. Majulah pihak keamanan. Tanpa itu bebas. Mau upload iihihuhu bebas. Mau maen di taman apa lagi. Bebas dah. Demokrasi kok. Nyata tak dilarang.
Tapi kalau pas pemilu. Rayunya aduh romantis pisan. Janjinya melebihi mantan mau balikan. Malam jadi lautan mimpi. Busuk. Setelah jadi. Tinggal bungkam orang kritis dengan jabatan. Jika masih kritik tajam. Ya penjara. Gampang kan. 
Palingan cuma berhadapan dengan netizen. Sebulan dua bulan udah lupa. Aman.
#NulisSejenak

#TajamMenulis

#MalamMinggu

#BacaBuku

Kamar Penjara, 23 september 2017

Tuan dan Tuhan


Tuan dan Tuhan
Karya : Suhanggono
Tentang hidup yang dimahakan. Jauh dari sekelas dari mahasiswa. Sebab ia hanya siswa yang mengaku maha. Tuan itu menjadi Tuhan-tuhanya. Tunduk patuh akan perintah. Tidak berani membantah apalagi mengoreksi. Ia terlihat wajah sangar dan pengawalnya banyak. 
Tuhan ini tidak terlihat tapi dirasakan ada. Terasa jika engkau beriman. Beriman jika engkay taat dan patuh pada perintahnya. Wajah ada belakang depan kanan kirimu adalah Tuhan. Ia bisa menjelma apa saja bagi yang berpikir. “Surga atau neraka itu milik siapa? Aku berseru pada daun kelapa yang bergoyang sebab angin berhembus kencang. 
Tuan itu Tuhanku yang harus kupatuhi kutaati perkataannya. Jadi jika aku langgar pun tak jadi masalah buatku. Bahkan melawan tuan adalah sebuah keharusan yang tak boleh ditunda. 
Namun dikata apa sekarang terbalik antara tuan dan Tuhan. Jika tuannya malah ditaati seperti orang beriman taat dan patut. Jika TuhanNya malah dikoreksi tentang firman-firmanNya. Ayat-ayat suci kalah dengan perintah tuan-tuan.
Sampai-sampai semalam aku dibisiki malaikat “Aku ndak pernah bisa masuk kampus soalnya ada mahasiswa,” ketakutan untuk mencatat amal baik dan buruknya. Walau ketahuan mesum, nyontek, curang asal ktpmu mahasiswa punya ktm pasti aman. Kalau malaikatnya manusia gampang dipengaruhi. Sayangnya tidak.
“Tuhan itu malah tidak takuti. Udah cs ma gua. Siapa yang takut? Gua udah pesen surga. Loe mau surga ikut gua,” begitu ajakan tuan-tuan yang mengaku nabi utusan Tuhan.
Lain hal dan soal seorang berteriak lewat mulutnya yang hitam.
“Kalau firman Tuhan masih diperdebatkan. Gua pikir ini yang mau mendebatkan layak dipedang gorok lehernya sebab itu seperti bangkai daging yang mengaku segar,”
Sudut warung kopi seorang bergumam tentang pancasila yang diributkan di kotak ajaib berada dilangit atas meja.
“Hah kau ini pancasilais versi siapa? Palsu atau asli? Kira-kira malaikat menyanyakan pancasila atau keimanan ketaatan seseorang ya?”
Itu lah tuan kalau sudah diTuhankan. Dan Tuhan dianggap tuan (manusia).
Purworejo, 17 September 2017
*Cuplikan dari sebuah ide “Cerpen prosa Tuhan”