Tegang Tahan Lama


Tegang Tahan Lama

Karya : Hang

“4 tahun gini masih tegang lho Mam tapi ndak pernah dieksekusi ketegangan itu,”

“Pap beli obat kuat dimana tho segitu lama tegangnya?”

“Bukan tegang itunya tapi suasana politik negeri ini Mam,”

“Kirain itunya kalau lama begitu Mam yang susah,”

“Berarti selama ini ndak puas?”

“Puas lah sebagaimana puasnya elit politik membelah pecah keranjang ini Pap. Ini kok sempit ya kayaknya perlu keranjang baru,”

“Beli Mam beli sesuka dah modelnya. Asal kau senang Pap akan puas,”

“Manyun gitu tak ikhlas ya?”

“Ìkhlas Mam ikhlas mama,”

#MamPap

Purworejo, 27 Januari 2019

Iklan

Gila Samar Waras Samaran


Gila Samar Waras Samaran

Karya : Hang

Senin kemarin aku mengantarkan Ibu ke RS Umum di daerahku. Maka dengan semangat aku membawa alat tulis berupa kertas dan pulpen. Di sanalah menulis panjang sampai hampir habis lembaran itu. Ini hanya cuplikan sedikit atas tulisan yang muncul disana sebagai berikut :

“Aku bangga jadi orang gila karena pernah waras dan kau pun harus bangga jadi orang waras yang belum gila. Jadilah kita sama-sama berbangga tidak saling sombong diri,”

Aku sedih sekali waktu kemarin menuliskan ini. Seseorang lelaki dengan wajah kosong yang seumurku kira-kira harus ke kamar mandi Ibunya pun ikutan. :((

Dia hanya diam saja mengikuti Ibunya kemana pergi. Sementara yang bertanya nulis skripsi ya (lain orang) waktu aku oleh sebab hape kehabisan baterai tapi otakku masih pengen nulis. Kertas pulpen kujanjikan senjata andalan. Menulislah aku. Dari sekian orang hanya tangan aku yang sibuk di kertas menari-nari. Menjawab apa yang terjadi disekitarnya.

“Skripsi ya Mas?” Tanyanya

“Hah…. ndak kok,”

Tolehnya kertasku serta mematikan lamunanku baru beberapa kata padahal. Soalnya nulis diatas buku tebal lainnya.

Orang ini unik hapenya dibunyikan keras-keras lagu dangdutan mungkin kiriman lari WA Grup. Beberapa kali lagunya diputer. Tanpa peduli jadi perhatian. Orang-orang disekitar pun menoleh sejenak. Maklum televisi yang ada mati suri. Tidak nyala. Kalau pun nyala siapa peduli orang-orang sibuk dengan obrolannya. Sementara itu hapenya pun dibungkus plastik. Pikirku mungkin karena musim hujan. Aku hanya mereka-reka tidak tahu pasti.

Rambut kumisku yang urakan waktu aku berjalan pas datang pun dipandangnya mereka yang duduk dalam antrian. Kutakut dikira habis periksa jiwaku. Dalam penyamaran jadi orang waras itu susah lebih gampang nyamar jadi orang gila.

Lebih mendalami malahan. Karena kebebasan itu yang dirindukan orang-orang waras.

Salah satunya nemu perkataan itu. Sedihnya daku. Kalau duduk manis disana. Aku akan bawa kertas lebih banyak. Kemarin ketika kehabisan kertas pikiranku kalut. Tidak tenang pengen pergi beli kertas nanti ideku hilang berjeda lama.

Ternyata bukan kuburan yang angker tapi RS yang bikin bingung linglungku. Bingung laper soalnya pengen bakso Sukar kok jauh sekali di Kutoarjo.

😂

#NulisSiang

Purworejo, 21 Januari 2019

Naikkan Gaji Turunnya Daya Beli Warung Desa


Naikkan Gaji Turunnya Daya Beli Warung Desa

Karya : Hang

Semua gaji naik pun kalau perekonomian remek apa gunanya sayang.

Kira-kira pengaruh ndak sama Pasar Daerah Kota? Pasar loak? Mari lihat setelah ini.  Itu yang penting. Kalau gaji naik baik emang tapi uang itu muternya dimana? Di luar negeri apa dalam negeri. Di daerahnya apa daerah lain? Apa njuk warung tetangga akan laris?

Nah itu perputaran uang inilah. Kapitalisme jagoannya. Tapi tetap gagal. Dengan begini pembodohannya satu hal membuat jurang pisah kemiskinan kekayaan makin lebar.

Kalau hutang itu untuk produksi industrial. Tujuan hutang untuk itu ditanam kemudian tumbuh kembali dengan kemekaran. Kalau hutang bukan untuk usaha tapi makan itulah sebuah kesalahan fatal. Tapi namanya politik ya begitulah adanya bolak balik tutup sana sini yang penting cermin mantulnya kena dan terkenal peduli. Disorot kamera bagus.

Ada ndak pejabat yang habis jabat makin miskin. Visi misi kami pejabat di negeri Revolusi semakin lama menjabat semakin miskin dan rakyat makin kaya raya. Itu pengabdian bagi anak-anak Revolusi.

Perputaran ekonomi dari desa ke kota. Kini desa ke kota lain dari kota ke kota lain. Market saja menjamur itu kan pembunuh warung-warung.

#NulisMalam

Purworejo, 21 Januari 2019

Sebuah Rasa Lawan Logika Dalam Pemilihan


Sebuah Rasa Lawan Logika Dalam Pemilihan

Karya : Hang

Kemarin waktu beli mie ayam di sebuah tempat ada spanduk terlentang di atas jalanan aspal. Isinya soal ajakan ikutan pemilu; memilih pakai hati tambahannya golput bukan solusi. Gue curiga yang nulis ini jomblo-jomblo gitu.

Masalahnya gua kasih tahu ya bagaimana cara kita kenal program caleg daerah provinsi dan pusat bahkan presiden kalau ketemu aja kagak, salaman aja kagak, dikasih lembaran isinya program aja kagak. Kita terlalu difokuskan pada piplres soal pileg asal-asalan. Asal ada poster dipinggir jalan. Asal menang. Ya gitu-gitulah. Enakan dulu kampanye di alun-alun, dengarin orasi timses, minimal tahu jalan pikiran. Sekarang jalan rumahnya aja kagak paham. Hihihi

Jadinya nanti pasti milih kalau ndak ikut-ikutan, berdasarkan gosip-gosip tetangga, atau ada arahan-arahan orang tertentu yang dipercaya.

Jika hanya pakai hati ndak pakai opsi pilihan jalan pikiran itu sama saja situ milih pasangan asal lawan jenis, asal usul, pendidikan, subur apalagi agamanya kagak dipahami ya remuk kan? Rentan jeblos di tengah jalan. Mengenal saja tidak jaminan.

Mending golput adalah solusinya. Itu si akal-akalanku.

Kalau kita tak saling kenal dengan dekat bagaimana yakin akan saling percaya untuk mewakili nanti.

Tidak mengajak golput justru inilah masalah bersama. Kenapa caleg ini seolah-olah kupandang jadi alternatif kerja ya ada juga si yang benar-benar bekerja.

#NulisPagiHari

Purworejo, 18 Januari 2019

Percakapan Si Liberal di Pasar 


Percakapan Si Liberal di Pasar

Karya : Hang

Aku bersyukur punya Ibu yang berteknologi tinggi. Ia hanya menikmati teknologi televisi sms dan telepon. Selebihnya numpang teknologi. Sekarang sekali telpon anaknya atau cucunya pulsa 10ribu habis dibabat kapitalisme.

Terus kemarin pas bungkus “kado” Ibu nanya sambil senyam-senyum wajah meledeki. Agak curiga dan senang.

“Kui nggo sopo, cewek iya?”

“Hahahaha,”

Bisanya cuma tertawa. Lalu kembali tidur. Ternyata cuma mimpi buruk soal jodoh.

Membayangkan cewek “itu” jika jilbab lebar rok sampai bawah kaki. Melantai. Terus disuruh ke sawah. Pasti tak maulah. Aku? Waduh mending tak buatin bikin puisi daripada ke sawah. Aku tak berpanas-panasan.

Kayaknya aku jadi generasi sawah dan kebun yang terakhir di rumah. Tidak ada lagi setelahku atau bahkan aku. Aku akan membalikkan bahwa petani itu tidak baik buat masa depan. Semacam pikiran Ibu yang selalu berharap anaknya jadi pegawai negeri.

Harapan itu wajar saja kehidupan yang jadi pengalamannya sangatlah susah. Di jaman yang serba tradisional. Jangan telepon motor saja di perdesaan cuma satu dua orang yang punya. Kini? Setiap rumah hampir punya. Bahkan dibela-belain kredit utangan.

Motor sudah jadi barang seperti pakaian. Kebutuhan tak tergantikan. Luar biasa bukan kemajuannya. Tentu seluasku memandang begitu entah dipelosok Kalimantan, Sulawesi, Sumatra, Papua terjangkau kreditan motor atau tidak. Jalanan pun mungkin masih tanah.

Oiya jaman SMA aja di daerahku masih ada yang belum teraliri listrik. Ya itu rumah kawanku sendiri. Namun, dengan sikap santai tekunnya ia mengubah diri yang tadinya menaiki sepeda ontel kemudian berlanjut menjadi motor. Tentu aku tak jauh menindaklanjuti itu kreditan atau cash bayarnya.

Sikap tenang kawanku ini tidak pernah juara kelas bahkan sekolah. Biasa-biasa saja. Tapi luar biasa sikap terhadap lingkungan dan kehidupannya. Soal Tuhan? Dia rajin-rajin ngambek kalau pas rajin ya duduk di shaf depan kalau ngambek kabur ke warung sebelah sekolah ngopi-ngopi daripada beribadah.

Kawanku ini sudah bekerja sebagai pengantar barang satu toko ke toko lain. Daripada aku yang mengaku pengangguran “liberal”. Dia lebih baik rumahnya sudah ada televisi yang menghibur anaknya dan keluarga besarnya. Aku tertinggal jauh. Perjuanganmu tidak akan berkhianat terhadap hasil.

Sekali waktu kita bertemu ia bertanya selayaknya kawan lama. Biasalah pertanyaan pada umumnya.

“Kerja ning endi Hang?”

Aku yang masih nganggur “liberal” tersenyum kecut. “Nganggur dong,” masih menunjukkan jawaban mesranya.

“Wis nikah?”

“Nek nikah aku ra bakal nganggur ngerjain bojone,”

“Hahahhahaha,”

Kawanku ini tertawa seperti hantu kapitalisme yang menakut-nakuti liberalisme. Tanpa jeda. Ia paham maksudku dan itulah maksudku. Kemudian kami bercerita mengelana buana di masa lalu kepada harapan masa yang akan datang. Selayaknya doa-doa manusia.

“Pengen punya anak,” kataku.

“Ndang nikah,”

“Kapan-kapan ketika nganggurku pensiun aku akan nikahi cewek-cewek,”

“Lho kok cewek-cewek berarti jamak lebih dari satu?”

“Harapan,”

“Ra usah neko-neko. Cewek gelem berarti wujud tipuan mu berhasil,”

“Hahahahaha berarti dirimu pernah kutipu?”

“Hahahahaha,”

Kami mengenang mengenal matahari sebagai semangat hidup dan rembulan sebagai pengantar tidur. Mimpi. Aku akan mewujudkannya harapan kedepan tersebut.

Pasar Grabag, 11 Januari 2019



 

Antara Pemilu, Teror dan Keharusan Revolusi


Antara Pemilu, Teror dan Keharusan Revolusi

113423-OOVM7H-884
Hitam tak selalu putih.

Karya : Hang

Solusinya bukan pemilu tapi REVOLUSI. Indentitas segitu banyak tercecer di keranjang sampah. Sama saja menghina kita sebagai rakyat.

Berani yang menghina rakyat. Pas untuk di REVOLUSI bukan lagi PEMILU. Boros,membodohi. Payahnya sedikit yang mampu.

Kalau aku dianggap provokator? Emang. Mau apa?

Penulis itu semua tugasnya memprovokasi untuk masuk dalam dimensi tulisan. Emang rumusnya begitu.

Hidup sebagai manusia emang wajib dalam memprovokasi supaya mikir lebih luas dan dalam.

Percuma kita jadi manusia tapi diam saja diperkosa oleh kehinaan indentitas rakyatnya sendiri. Lanjutkan membaca Antara Pemilu, Teror dan Keharusan Revolusi

Naskah Novel


Naskah Novel

Karya : Hang

Barusan sekali buat pembukaan novelku. Oiya halamannya sudah melebihi target 300 halaman malah udah lebih tinggal dikikis dan diperbaiki dan kirim ulang untuk dibaca.

Naskah kemarin udah remuk di bantai sampai-sampai tidak berwajah oleh temanku. Tidak menarik katanya Mas jadi kuubah. Tidak total berubah tapi haluan arah cerita harus menarik. Naskahku perdana harus terbaik maka hati-hati menulisnya.

Dan butuh kritik sastra. Tanpa itu juga jadi percuma. Tidak membangun kebaikan ketika berkarya kembali.

Bukankah perubahan pandangan itu biasa dalam kehidupan. Mestinya kita mampu mendengarkan dan menimbang pendapat orang lain. Supaya tahu pasar apa suaranya yang laku saat ini.

Ternyata dalam perkembangan literasi naskah islami buat anak-anak jauh lebih laku saat ini. Naskah sastra novel laku juga si. Toh penggemarnya masing-masing.

Tulisan naskah terjelek itu bukan laku tidak laku tapi dipendam dalam nalar tak pernah dituliskan apalagi pula diterbitkan. Itu jelek.

Jadi sekurang-kurangna dalam hidup meninggalkan jejak lewat buku daripada pemikiran-pemikiran yang akan jadi butiran debu siang di kelas-kelas pemikiran kelak pada masanya.

Naskah ini curhatan tapi selalu dibantah oleh nalarku walau ini sebenar-benarnya memang curhatan. Dan berkali-kali aku mencoba membantahinya. Tidak berhasil. Kandungan fiksi dengan fisik akan kurahasiakan.

Jelas rombak merombak dalam naskah untuk mencari mata angin pembaca itu biasa saja. Lumrah dilakukan bukan hal special seorang penulis. Tapi ketika tulisan itu belum berakhir lalu di rombak itulah kesalahan.

Purworejo, 07 Desember 2018