Naskah Novel


Naskah Novel

Karya : Hang

Barusan sekali buat pembukaan novelku. Oiya halamannya sudah melebihi target 300 halaman malah udah lebih tinggal dikikis dan diperbaiki dan kirim ulang untuk dibaca.

Naskah kemarin udah remuk di bantai sampai-sampai tidak berwajah oleh temanku. Tidak menarik katanya Mas jadi kuubah. Tidak total berubah tapi haluan arah cerita harus menarik. Naskahku perdana harus terbaik maka hati-hati menulisnya.

Dan butuh kritik sastra. Tanpa itu juga jadi percuma. Tidak membangun kebaikan ketika berkarya kembali.

Bukankah perubahan pandangan itu biasa dalam kehidupan. Mestinya kita mampu mendengarkan dan menimbang pendapat orang lain. Supaya tahu pasar apa suaranya yang laku saat ini.

Ternyata dalam perkembangan literasi naskah islami buat anak-anak jauh lebih laku saat ini. Naskah sastra novel laku juga si. Toh penggemarnya masing-masing.

Tulisan naskah terjelek itu bukan laku tidak laku tapi dipendam dalam nalar tak pernah dituliskan apalagi pula diterbitkan. Itu jelek.

Jadi sekurang-kurangna dalam hidup meninggalkan jejak lewat buku daripada pemikiran-pemikiran yang akan jadi butiran debu siang di kelas-kelas pemikiran kelak pada masanya.

Naskah ini curhatan tapi selalu dibantah oleh nalarku walau ini sebenar-benarnya memang curhatan. Dan berkali-kali aku mencoba membantahinya. Tidak berhasil. Kandungan fiksi dengan fisik akan kurahasiakan.

Jelas rombak merombak dalam naskah untuk mencari mata angin pembaca itu biasa saja. Lumrah dilakukan bukan hal special seorang penulis. Tapi ketika tulisan itu belum berakhir lalu di rombak itulah kesalahan.

Purworejo, 07 Desember 2018

Iklan

Gembel Negeri Sendiri


Gembel Negeri Sendiri

Karya : Suhanggono

Aku jadi gembel di negeri sendiri yang kaya. Alam dan pemandangan indah. Sedangkan mereka orang asing menjadi tuan rumahku di negeriku ini. Apakah aku bersedih? Tidak sama sekali. Aku malah berketawa ria. Dan tanya pqda mereka. “Sampai kapan pun kau ambil kekayaan negeri ini aku tetap akan tertawa dan menganggap itu kaya rayanya milik negeri ini,”

Aku juga lihat ada gembel orang gila kagak waras yang payudaranya gondal-gandul berjalan. Ia perempuan yang mudanya sangat cantik di perdesaannya. Karena kerusuhan lalu diperkosa bergiliran. Apakah negeri ini mau juga sampai memandikannya? Membelikan BH? Membelikan CD? Membelikan pakaiannya? Mengembalikan kehormatan-kehormatan yang lama direnggut. Tentu tidak. Ini tontonan bagi orang lewat entah bayi yang baru lahir matanya masih merem sampai remaja yang berlibido seks tinggi dan mengulang memperkosanya. Tentu dimandikan, diberi makan, dan selanjutnya digilir. 

Pada semak-semak yang subur menjulang tinggi. Dan perempuan itu tetap tertawa walau ada air mata yang menetes. Sebenarnya ia tahu sedang diperkosa tapi diam saja karena percuma berteriak tidak ada yang peduli.

Orang-orang bicara agama sambil berliur-liur muncrat. Tapi lupa bahwa agama mengajarkan kekaleman,kebaikan,kesantaian. Banyak permasalahan yang sebenarnya sederhana. Sebab kekuasaanlah membuat tidak sederhana entah karena melindungi negeri dengan cara menjualnya. Dari pada diperangi lalu dijual saja.

Negeri yang kaya raya tetapi malah terlihat susah. Padahal tidak dalam keadaan genting gawat. Negeri ini cuma-cuma banyak cewek berbikini, video-video esek-esek banyak ditampilkan dalam bungkusan tayangan televisi. Seharusnya negeri peka sebelum ada pemerkosaan lain halnya ini. Malah dibiarkan pemuda-pemuda itu menghayati tayangan tersebut sampai nanti dampaknya ada. Barulah negara hadir dengan area hukum. 

Paham gini sesat. Demi katanya kebebasan terus apa-apa boleh saja. Harus negera kalau memang mau melindungi rakyat tidak harusnya setengah-setengah. Jangan bicara cinta saja dibubarkan. Gila ndak itu? Waras itu?

Purworejo, 23 Juli 2017

Sesat Sesaat Menyayat


Sesat Sesaat Menyayat

Karya : Hangsyamirku

Ketika sepi menghampiri

Aku sendiri bingung diri

Bertepi di jalanan setan
Sibuk mencari jadi diri

Hisap sabu tiap pagi
Menganggap berada dalam surga sendiri
Lupa diri akan orang tua

Bahkan segala-galanya

Aku jual ini itu tanpa peduli
Mendapatkan serbuk setan itu

Kuhisap hingga habis tubuh ini

Kurus tak lagi dikenali
Tuhan

Jika kau hidupkan kembali

Hamba minta waktu cium kaki ibu
Aku sesali jalan sesatkuAku tak mampu menahan diriHingga aku pun mati karena serbuk setan itu

Purworejo, 15 Desember 2016

Pojok Itu Gitu


Pojok Itu Gitu

Oleh : Hangsyamirku

Diam mengelana

Tersamar awan bersembunyi

Hujan turun rintih-rintih
Mendung ngandung petir

Ketar ketir rasanya

Hati bimbang
Pikiran berjalan

Hati tak tenang

Kalut maut akankah datang
Hari pun gelap  Lanjutkan membaca Pojok Itu Gitu

Hijau Raya


image

Hijau Raya

Oleh : Hangsyamirku

Rindu Rerumputan
Berkata dengan lembut
Hijaunya rumput makin hilang

Hilang tanpa jejak
Tanah coklat retak-retak
Pepohonan tumbang raya

Manusia bergetar ria
Mayat-mayat tertimbun tanah
Wajah peringatan dari Tuhan

Alam raya
Hijaunya daun makin coklat
Damailah tanam kembali

Purworejo, 07 Februari 2016

Kesepian


Kesepian

Karya : Hangsyamirku

Sepi berarti pasti sunyi
Biasanya gelap gulitap
Tanpa cahaya mengintip

Aku sendiri sudah biasa
Lalu berdiri sendiri untuk jadi luar bisa
Mati pun dikubur sendiri nantinya

Tak ada yang ada
Ada yang nyata ada
Berikut kembali tak ada

Benar-benar sepi tanpamu
Benar-benar sunyi tanpa ketawamu
Benar-benar ya memang benar sepi suasananya

Pagi hari terang benerang
Mentari sayup-sayup muncul
Memandangi wajah-wajah sepi

Purworejo, 24 Januari 2016