Gembel Negeri Sendiri


Gembel Negeri Sendiri

Karya : Suhanggono

Aku jadi gembel di negeri sendiri yang kaya. Alam dan pemandangan indah. Sedangkan mereka orang asing menjadi tuan rumahku di negeriku ini. Apakah aku bersedih? Tidak sama sekali. Aku malah berketawa ria. Dan tanya pqda mereka. “Sampai kapan pun kau ambil kekayaan negeri ini aku tetap akan tertawa dan menganggap itu kaya rayanya milik negeri ini,”

Aku juga lihat ada gembel orang gila kagak waras yang payudaranya gondal-gandul berjalan. Ia perempuan yang mudanya sangat cantik di perdesaannya. Karena kerusuhan lalu diperkosa bergiliran. Apakah negeri ini mau juga sampai memandikannya? Membelikan BH? Membelikan CD? Membelikan pakaiannya? Mengembalikan kehormatan-kehormatan yang lama direnggut. Tentu tidak. Ini tontonan bagi orang lewat entah bayi yang baru lahir matanya masih merem sampai remaja yang berlibido seks tinggi dan mengulang memperkosanya. Tentu dimandikan, diberi makan, dan selanjutnya digilir. 

Pada semak-semak yang subur menjulang tinggi. Dan perempuan itu tetap tertawa walau ada air mata yang menetes. Sebenarnya ia tahu sedang diperkosa tapi diam saja karena percuma berteriak tidak ada yang peduli.

Orang-orang bicara agama sambil berliur-liur muncrat. Tapi lupa bahwa agama mengajarkan kekaleman,kebaikan,kesantaian. Banyak permasalahan yang sebenarnya sederhana. Sebab kekuasaanlah membuat tidak sederhana entah karena melindungi negeri dengan cara menjualnya. Dari pada diperangi lalu dijual saja.

Negeri yang kaya raya tetapi malah terlihat susah. Padahal tidak dalam keadaan genting gawat. Negeri ini cuma-cuma banyak cewek berbikini, video-video esek-esek banyak ditampilkan dalam bungkusan tayangan televisi. Seharusnya negeri peka sebelum ada pemerkosaan lain halnya ini. Malah dibiarkan pemuda-pemuda itu menghayati tayangan tersebut sampai nanti dampaknya ada. Barulah negara hadir dengan area hukum. 

Paham gini sesat. Demi katanya kebebasan terus apa-apa boleh saja. Harus negera kalau memang mau melindungi rakyat tidak harusnya setengah-setengah. Jangan bicara cinta saja dibubarkan. Gila ndak itu? Waras itu?

Purworejo, 23 Juli 2017

Iklan

Kembali Nyanyian


Aku kembali tanpa nama. Dan pulang tanpa nama pula. Bersembahlah kalian kepada keyakinan kalian. Tanpa paksaan dari apa siapa dan kenapa. Bebas tekan

Sesat Sesaat Menyayat


Sesat Sesaat Menyayat

Karya : Hangsyamirku

Ketika sepi menghampiri

Aku sendiri bingung diri

Bertepi di jalanan setan
Sibuk mencari jadi diri

Hisap sabu tiap pagi
Menganggap berada dalam surga sendiri
Lupa diri akan orang tua

Bahkan segala-galanya

Aku jual ini itu tanpa peduli
Mendapatkan serbuk setan itu

Kuhisap hingga habis tubuh ini

Kurus tak lagi dikenali
Tuhan

Jika kau hidupkan kembali

Hamba minta waktu cium kaki ibu
Aku sesali jalan sesatkuAku tak mampu menahan diriHingga aku pun mati karena serbuk setan itu

Purworejo, 15 Desember 2016

Pojok Itu Gitu


Pojok Itu Gitu

Oleh : Hangsyamirku

Diam mengelana

Tersamar awan bersembunyi

Hujan turun rintih-rintih
Mendung ngandung petir

Ketar ketir rasanya

Hati bimbang
Pikiran berjalan

Hati tak tenang

Kalut maut akankah datang
Hari pun gelap  Lanjutkan membaca Pojok Itu Gitu

Hijau Raya


image

Hijau Raya

Oleh : Hangsyamirku

Rindu Rerumputan
Berkata dengan lembut
Hijaunya rumput makin hilang

Hilang tanpa jejak
Tanah coklat retak-retak
Pepohonan tumbang raya

Manusia bergetar ria
Mayat-mayat tertimbun tanah
Wajah peringatan dari Tuhan

Alam raya
Hijaunya daun makin coklat
Damailah tanam kembali

Purworejo, 07 Februari 2016

Kesepian


Kesepian

Karya : Hangsyamirku

Sepi berarti pasti sunyi
Biasanya gelap gulitap
Tanpa cahaya mengintip

Aku sendiri sudah biasa
Lalu berdiri sendiri untuk jadi luar bisa
Mati pun dikubur sendiri nantinya

Tak ada yang ada
Ada yang nyata ada
Berikut kembali tak ada

Benar-benar sepi tanpamu
Benar-benar sunyi tanpa ketawamu
Benar-benar ya memang benar sepi suasananya

Pagi hari terang benerang
Mentari sayup-sayup muncul
Memandangi wajah-wajah sepi

Purworejo, 24 Januari 2016

Merindumu


Merindumu

Karya : Hang

Dalam kegelapan kau laksana seperti bintang-bintang
Kau yang selalu dirindukan
Hiasan awan yang makin malam

Malam ini hujan
Cintaku menderasi hati seseorang
Pasti kau akan bertanya siapa dia?

Hayo siapa?
Tebak saja siapa?
Namanya siapa hayo?

Purworejo, 27 November 2015