Demokrasi di Tengah HTI, Ganti Presiden dan Tetap Presiden


Demokrasi di Tengah HTI, Ganti Presiden dan Tetap Presiden

Karya : Hang

Pokoknya ini ;
Salah HTI
Salah Turki

Pasti begitu narasi mereka yang kurang piknik, kurang baca. Persoalannya HTI kau sudah bubar jadi hantu ideologis yang paling seksi diabad ini tapi gentayangan itu di pikiran elit politik. Dibiarkan subur dalam rezim lalu dikubur di rezim ini. Eh muncul gerakan ganti presiden sebenarnya ndak keras-keras amat seperti halnya HTI jelas-jelas anti demokrasi. Eh malah dikaitan gerakan itu sudah menyatakan anti dimana-mana masih dianggap berideologi demokrasi. Ngeyel mereka. Kurang bahan, kurang mikir, kurang otak kalau ganti presiden ditunggangi HTI. Jadi akhir ini ide-idemu ditakuti sebab apa?

Dan apa yang terjadi terhadap pehadangan ganti presiden bahkan diskusi-diskusi itu tanda sebenarnya sedang panik. Argumentasi mereka lemah dan patah oleh uang dan kursi jabatan. Masak tak paham ini siapa?

Khilafah itu kata suci.

Tuanku berhenti membuat hantu paham. Bekerjalah sesuai dengan akal sehat. Kondisi sudah gawat. Bensin menguap jadi racun. Racun itu masuk dalam paru dan rupanya kau tak paham juga. Apa tidak dungu?

Orang yang ada di tetap presiden nampaknya bukan yang gemar berdiskusi tapi persekusi. Ketika diskusi saja di televisi gagal menyakinkan dengan asumsi buruknya. Makanya seorang yang sudah diberikan kursi jabatan. Dan dibiarkan menggemparkan jagat maya.

Ini tanda kelucuan saat mengurusi negara. Disaat tak diberi jabatan ia diam saja. Tapi ketika diberikan seketika koar-koar belanya mati-matian. Seolah jabatan itu selamanya kekuasaan tak bisa selamanya.

#BagiPagi

Purworejo, 02 September 2018

Iklan

Kebodohan Dalam Sangkar Penonton Politik


Kebodohan Dalam Sangkar Penonton Politik

Karya : Suhanggono

Diskusi kebodohan itu kayak begini : 

A vs B tapi setelah sekian lama yang berdiskusi orang-orang sekitar A vs B untuk memancing orang-orang C D E F G H I…dst. 

Ada lagi : 

Menonton dengan kebodohan :

Ketika hanya sama menonton, sama tidak ada mengerti faktanya tapi saling debat apa yang ditontonkan dengan perdebatan yang bodoh. 

Terkadang orang hanya mengikuti jalan perkiraannya bukan logika yang nyata-nyata. Dan ini adalah akar pohon dari kepalsuan informasi yang berbuah HOAX. 

Soal mahar/uang politik itu ndak usah berdebat. Ayo tunjukkan mana si pesta rakyat tanpa bagi-bagi uang/kursi jabatan? 

Situ berani membantah sebab ada dua hal karena gobloknya ndak sembuh-sembuh dan tidak terupdate beritanya. 

Purworejo, 13 Januari 2018

Angka Persen di Mata Netizen : Hoax Membangun


Angka Persen di Mata Netizen : Hoax Membangun 

Karya : Suhanggono

Masih heran kepada manusia yang super “bodoh” kenapa polling twitter saja dijadikan bahan diskusi bertubi-tubi panjang sekali.  Kemarìn malam iblis telpon dalam mimpi gelapku.

 “Kok imanjinasi kebodohan manusia sekarang melebihi iblis ya?” 

Maksudku polling itu kan hañya sekedar permainan angka tidak bisa dijadikan bahan diskusi logika. Dan tidak perlu dipikirkan secara serius. Baik polling pilkada-pilgub-pilpres. Akan banyak yang membuatnya dan pula yang membahasnya. Seolah data itu nyata dengan pada nantinya saat pencoblosan usai. 

Dan “bodoh” yang mempollingnya adalah wakil rakyat. Dia udah ketemu sekian mata kaki bahkan otak-otak pejabat tapi masih percaya polling gitu.
 Wah jan otak ayam ketinggal dibangku kuliah Om? 
Bodoh boleh tapi ndak segoblok itu. Hanya angka permainan kok dipercaya. Disembah bahkan jadi berita. Walah jan. Manusia kok pada aneh. Jadilah netizen berotak jangan berotot robot doang. 

Jadikan polling online itu sebagai hiburan saja tidak terlalu serius menanggapinya. Kepada pemilik berita agar memberikan konten yang mencerdaskan bukan membodohi publik dengan cara yang benar bodoh. 

Aku juga manusia yang meragukan survei kepuasan dll di televisi kecuali kata pengamat-pengamat yang melihat secara  kenyataan apa adanya. Tidak ada bumbu manis dan hoaxmembangun. *Eh
Purworejo, 8 Januari 2018

Kir tan Cis Pel kai Dom


Kir tan Cis Pel kai Dom

Karya : Suhanggono
Parkir tanpa karcis ibarat ngencuk sama pelacur tanpa kondom. Sesuai keinginan tata logika kenikmatan berduanya.

Kalau karcis parkir itu diminta oleh pelanggan sama halnya pelacur meminta untuk memakai kondom si pelanggannya. Cuma beda logika pemakai dan permintaan.

Sayangnya pelanggan parkir itu kadang melupakan karcis dianggap tidak penting tidak seperti pelacur yang selalu taat dengan pemakaian kondom dianggap penting sekali. Logika kesehatan dan malas menyimpan kertas karcis. Beda padahal ditinjau dari ketaatan sama pentingnya. 

Begitulah karcis dan kondom. Soalnya aku pernah obrolan soal-soal kenapa si parkir tidak memberi karcis sebab si pelanggannya tidak meminta dan pelacur malah memwajibkan pakai kondom untuk si pelanggan. Logika kebiasaan aturan ketaatan.

#NulisLagi

Purworejo, 23 Desember 2017

Logika Ngawur


Logika Ngawur

Karya : Suhanggono

Konfĺik agama lebih mudah untuk meracuni logika persatuan dan kesuatu suatu wilayah sedangkan menghancurkannya beri saja kenikamatan terlarang logika mereka pasti kelak akan hancur bertubi-tubi. Tidak dipungkiri sosmed melalui hp adalah kenikmatan utama di jaman ini setelah tempat tidur, ngepup di wc, makan didepan televisi dll. Padahal untuk berinteraksi sosial secara langsung akan renggang. Gara-gara tulisan yang dikatakan terlalu berat berkomentari si A dan dikau pendukung setia B. Padahal sama-sama tidak mengenal lebih jauh hanya sekedar nonton televisi, baca koran online yang kebenarannya masih perlu diselidiki kembali secara berkala. Dan sebenarnya opini publik kan sah saja asal santun sopan tetap dijaga. 
Logika kampus-sekolah-sosial masyarakat adalah tiga hal berbeda sama sekali. Logika kampus dimana tugas-tugas memadati pemìkiran mahasiswanya. Mahasiswanya ditekan pikirannya sedemikian rupa untuk berlogika. Kadang ada candaannya yang seru itu kalau ada politiknya yaitu bercerita tentang isu-isu kekinian negara dan bangsa. Memang harus mahasiswa tahu akan keadaan menit ke menit tidak boleh mahasiswa ketinggalan informasi terkini. Haram hukumnya bagi kelogikaan kampus. 

Logika sekolah lebih sederhana. Ia mereka aku kamu kalian hanya seorang pemain yang sedang belajar. Dengan buku-buku lks yang tidak mahal tapi wajib dibeli. Dan akhirnya hanya jadi kertas lusut disobek menjadi pesawat terbang atau kapal-kapalan. Soal-soal suka lawan jenis. Termasuk dalam hal meneliti diri sendiri, lawan jenis, lingkungan sosial. Itulah permainan logika sekolah yang kuno sedangkan modern kebanyakan gaya. Misal tawuran, motoran ngebut, mboncengan cewek tiga, pelukan di pantai/taman. Gaya logika sekolah sudah terkini. Dulu masih tuker-tukeran lewat bluetooth hp jadulan. Sekarang bikin grup WA untuk melakukan hal yang sama dengan lebih modern. Ada juga malah aksinya itu direkam rekan sendiri dan bodohnya bangga disebarkan dengan sengaja/tidak sengaja. Logika apa ya yang bisa diterima ketika sebenarnya adalah aib itu sengaja disebarkan? Misal banyak kasus gara-gara putus cinta, diselingkuhi eh videonya tersebar. Kan sudah bunuh diri moralnya eh kubur sendiri nama baiknya. 

Satu lagi logika masyarakat. Mereka-mereka yang bertetangga saling membantu dan cemburu sosial. Satunya bilang anaknya sudah beli lima mobil satunya lagi bilang anaknya pegawai negeri semua. Satu gosipin kok itu tidak tahu kerjanya apa punya mobil. Logika-logika curiga, cemburu, benci dll menumpuk jadi satu. Soal-soal sederhana saja sampai kebangsaan dan kenegaraan. Akan menjadi sindir-sindiran sampai ditulis pada sosmed padahal yang disindir adalah ia tidak sama sekali punya sosmed. Logika ini memang agak menjijikkan. Senggolan dikit sudah bacok-bacokan tidak lagi memakai logika tapi serangan perasaan jiwa yang mendalam. 
#NulisLagi

Tanah Menangis


Tanah Menangis

Karya : Suhanggono

Jika duka ditangisi dan suka pun ditangisi Apalah arti kebahagian dan kesedihan

Bangunan kokoh tembok-tembok derita

Berdiri mencumbui malam-siang

Hujan angin bahkan senja dibalik kehijauan rumput pergunungan yang tersembunyi

Depan sungai besar mengular ditengah kota 

Banyak sampah plastik plembungan dan air liur ikan yang kawin

Gubuk reot bermandikan lumpur kehidupan

Deritanya tak begitu ketara 

Hanya mengejar sesuap nasi menyambung hidup
Riuh-riuh mulut beradu dipinggir kali

Tawar menawar diantara kegelapan malam

Sayur mayur hingga berapa harga sebuah matahari di musim hujan dingin 

Warkop ramai sekali dalamnya surga 

Ada togel ada judi ada nikmat kasur

Purworejo Kutoarjo 2017

Tanah Rata


Tanah Rata

Karya : Suhanggono

Pada akhirnya semua begitu 
Langit nampak biru berebutan putih

Mendung tak pekat cantik tak putih

Angin tampak diam pun daun tak melambai-lambai

Obrolan teras keras berteriak memanggil nama

Pintu kayu ia gedor-gedor berkali 

Dipikir ada razia sampah kamar ia didalam tetap tenang bersembunyi disunyian lalu sama-sama diamnya hilang

Tak lagi ada panggilan suara 

Hilang lenyap hanya ada rasa-rasa dendam 

Tipis setipis luapan udara hirup keluar masuk paru manusia

Sekarang semua berdiam diri berdiri dihadapan mayatmu mati beberapa saat lalu keracunan gas cinta 

Purworejo, Kutoarjo 2017