Pilihan : Jumlah dan Kualitas


Pilihan : Jumlah dan Kualitas

Karya : Hang

Soal jumlah jadi inget dulu pas mau masuk sekolah indikasinya memilih jumlah siswa yang banyak. Pas SMP aku sempat daftar di MTs Jono. Kenapa? Alasannya muridnya banyak. Namun kemudian pindah ke Muhammadiyah sebelahnya yang jaraknya 50 meteran dari situ. Kenapa? Status sekolah tersebut yang menyebabkan aku disuruh pindah. Statusnya diakui sedangkan di SMP Muhammadiyah statusnya disamakan muridnya tidak banyak. Siswa perempuan hanya 5 yang seangkatan dan sisanya laki-laki. Tapi kalau pas ribut rame banget tidak kalah dengan sekolah yang siswanya banyak.

Pas SMA pun begitu aku memilih SMA Widya Kutoarjo untuk melanjutkan. Walau waktu itu aku sudah malas sekolah kembali. Rasanya capek kalau harus sembunyi di warung, masjid, mushola, perpustakaan dan koperasi untuk mengamankan diri dari bullying ketika ada. Memilih sekolah ini alasannya sama banyak murid. Lagi-lagi hanya melangkahkan kaki belum sempat duduk dan memberikan berkasnya. Berbeda waktu di MTs Jono berkasnya sudah diberikan tinggal beberapa syarat lagi sah jadi murid.

Lagi-lagi Muhammadiyah jadi pilihan sebab biar banyak pelajaran agamanya. Padahal kalau di pelajaran agama pasti banyak hafalan. Walau sudah pengalaman sebelumnya. Kalau tidak masih saudara dengan Guru SMP itu aku akan selalu bernilai buruk. Masih ingat waktu tes praktek shalat dan wudhu. Si Pak Guru langsung menilai tanpa mengulang lagi. Seadanya. Mataku sudah akan berair. Tanganku sudah basah kuyup. Waktu praktek shalat ada lucu-lucuannya. Dari yang menggunakan selarik kertas. Ditulis di tangan. Tentu alasannya tidak hafal. Ya kami emang tidak hafal seluruhnya.

Tapi di SMA itu aku diberikan kebaikan. Belajar dengan tertawa. Sudah berani terlambat masuk. Dan diusir guru dari kelas. Ditampar tangan guru. Ramai dalam kelas. Membaca puisi hingga berdrama. Berani bolos. Berani merokok. Habis di tampar pipinya terus dihukum shalat dua rakaat. Nulis cerita sepanjang tujuh halaman pakai tulisan tangan soal tidak ikut perkemahan. Dan tidak hafal lagu-lagu Muhammadiyah.

Dari pengalaman di bullying ke membully diri sendiri.

Jumlah siswa sekolah tidak menjadi soal tapi kualitas belajar menjadi pokok penting. Jangan lupa status sekolahnya tersebut apa.

Tapi entah kapan waktunya aku pernah ngucapin pengen kuliah tapi di Muhammadiyah juga pas sekolah SMA. Eh kejadian juga tanpa nyadar pernah ucap. Ketahuan lewat tulisan dibuku.

Mahasiswa begitu banyak ragam dan berbagai pemikiran.  Bayanganku jadi mahasiswa bakalan boleh gondrong.  Ternyata tidak boleh. Merokok saja ketahuan akan terancam dinilai E di mata kuliah keagamaan.

Padahal ya di sekolahku Muhammadiyah ada guru merokok dan berrambut agak panjang.

Tempat belajar mana pun paling asyik itu cuma di perpus. Godain tumpukan buku. Milih sepuluh buku yang dibaca satu buku halaman tengahnya atau koran. Yang penting baca.hahaha 

Mau cerita soal dua  pesuruh sekolah SMA tapi….. ndak jadilahbiarkan cerita itu mengendap di laptop. Aku ingat betul apa ceritanya.

Purworejo, 09 Desember 2018

Iklan

Gagap dan Gugup Menghadapi 212


Gagap dan Gugup Menghadapi 212

Karya : Hang

Kalau berkumpulnya raksasa masyarakat di lapangan segitu tertib. Maka niscaya itu menjadi peradaban yang perlu dibanggakan.

Ketika di Perancis sedang bergejolak demo berhari-hari. Demo soal kenaikan BBM. Padahal kalau dipikir BBM dikita pun naik.

Misal mau mereka bernakal ria maka kejadiannya tidak akan sedamai itu dan bisa saja lebih sebringas di Perancis.

Sebab ini bukan hanya soal naiknya BBM tapi keadialan sosial kesemuaannya.

Hukum, ekonomi, pendidikan, sosial bahkan lingkungan ada ketidakadilan yang terlihat jelas. Menganga terpisah jauh dari sebuah keadilan.

Massa segitu banyak kalau ada mau provokasi seratus orang saja seperti akan terbakar semangatnya. Dan istana pun tidak jauh dari tempat aksi tersebut. Toh itu tidak terjadi.

Provokasi perubahan emang ada tapi dengan jalan pemilu. Itu yang selalu di ucapkan bukan dengan makar misalnya.

Di kita bukan hanya itu soal keadilan dengan menurunkan massa saja masih dalam perdebatan sengit soal jumlah.

Agak lucu dan tidak bermutu dan bukan hal yang harus diributkan itu hanya soal angka. Terpenting itu adalah yang pesan kesan dibawa kemudian.

Apakah bom bali yang ngebom seratus orang sekaligus? Bom di jakarta berapa orang pelaku? Kan mereka lewat bom meledak itu memberikan pesan khusus pada dunia. Terlepas apa pesannya tersebut. Bahasan lain. Ini hanya dimisalkan. Maka dengan ini jumlah tidak lagi penting tapi pesan hasilnya lebih penting untuk dibahas.

Jangan terjebak dalam narasiku jika masih maka di nyatakan kau emang kubangan bodoh yang susah diajak berdialog.

Acara 212 sempat diragukan massa akan sebesarnya pada waktu yang sudah-sudah. Bahkan Pak JK (Wapres) dalam wawancara langsung di televisi pun mengatakan keraguan tersebut. Dan diikuti berbagai tokoh yang meragukan serta pengamat-pengamat lainnya.

Bahkan akan ada acara tandingan yang membuat seru. Analisa-anlisa nakal dibuat akan ada gesekan sebab sempat ada ancaman ingin membenturkan diri langsung dan videonya masih beredar dimana-mana utamanya sosial media.

Tapi semuanya telah dibuktikan gugup dan gagapnya menghadapi sebelum setelah acara berlangsung menandakan keraguan akan kekuatan gerakan sosial masyarakat itu sendiri dan mampu dipatahkan.

Maka jika yang selalu diperdebatkan adalah jumlah bukan isi pesannya itulah kegagapan dan kegugupan menerima hasil daripada aksi 212.

Apalagi media nasional tidak begitu mengblow up acara itu. Di Youtube saja yang menyiarkan langsung cuma ada tiga channel dan masing-masing di tonton cuma sampai 30ribuan.

Di televisi sedikit yang menyiarkan langsung. Hanya saja setelah acara baru ramai. Termasuk jumlah pesertanya diperdebatan.

Apa yang terjadi pada 212 adalah kekuatan tidak baru ternyata. Dalam sejarah dahulu juga sudah ada demo penistaan agama. Terjadi di tahun 1908.

Kemudian dari pada itu tahun politik sekarang adalah pemainan akal-akalan saja. Kalau tidak sabar dalam memainkan maka akan kejeblos sendiri di sebuah kubangan.

212 adalah kekuatan baru yang pasti diharapkan menjadi muara kekuatan politik untuk memilih salah satu paslon capres cawapres. Sudah barang tentu bukan pasangan satu.

Siapa yang gagap dan gugup menghadapinya akan gampang kalahkan. Gugup ketika melihatnya dan gagap menghadapi 212. Maka ketika salah langkah kemudian pertahana kalah. Maka kemudian ini tergantung daripada respon-respon yang akan dilakukannya mereka terhadap 212.

Purworejo, 07 Desember 2018

Wajah Hukum Perilaku


Wajah Hukum Perilaku

Karya : Hang

Mengasyikkan diri dengan musik. Aku tidak peduli kata-katanya. Tapi aku peduli iramanya. Aku tidak peduli wajahmu tapi aku peduli perilakumu. Sebagai fiksi wanita adalah indah tapi seram sekali sebagai fakta kata seseorang. Standar kalimat pertama sampai akhir ada kesejajaran makna di dalamnya.

Lebih enak kalau kitapeduli pada perilaku manusia daripada fisik manusia. Menjadi manusia memandang dan bergulat dengan ide-ide. Suara yang tak berhenti total. Kebijakan negara akan menempatkan rakyat sebagai bahan perlawakan di layar kaca.

Penegakan hukum yang digantung-gantung selama dua belas jam dikalikan lima ratus lamanya sebagai penanda lampu merah terang untuk menghentikan. Ini bukan lagi darurat hukum tapi genting sudah gawat sekali. Keputusan hukum sampai sekarang masih tajam kebawah. Tidak ada yang peduli dan bersuara lantang untuk membela. Mengapa harus teriak-teriak di televisi baru menyadari ada kesalahan?

Kasus perlecehan seksual verbal dan fisik misalnya. Kampus dan sekolah bahkan jadi arena yang tidak lagi aman. Menjadi tempat ancaman bagi seseorang untuk dilecehkan daripada seksualitasnya. Tentu kasus demikian sudah lama sekali terjadi misal dalam angkutan umum; bus, kereta, bahkan di jalanan saat perempuan di gang sendirian saat itu pelecehan terjadi.

Melawan kejahatan ini memang butuh saling menggandeng tangan. Tidak juga perempuan kepada laki-laki semua harus saling paham dan mengerti satu sama lainnya. Sadar diri pada diri masing bisa jadi solusi. Utamanya menahan diri untuk melecehkan dan mengubarkan kenikmatan itu di ruang umum yang bisa mengundang perlecehan.

Hukum harus tegak siapa salah harus dihukum. Hukum harusnya tajam sekali pada kesalahan bukan pada pembenaran. Benar yang dicarikan kesalahannya. Dalam hal ini emang sosmed bahaya. Maka ketika mempostingkan apa harus dipikirkan dahulu apa akibatnya demikian.

Purworejo, 16 November 2018

Kemanusiaan dan Televisi


 

Televisi-freepik
Televisi

Kemanusiaan dan Televisi

Karya : Hang

Televisi adalah alat imanjinasi yang setiap hari manusia hirup. Seperti nafas yang wajib jika tidak maka akan mati ketinggalan gosip artis. Maka dari itu banyak acara yang berimanjinasi buruk. Misalnya acara televisi yang hanya ingin memutuskan pacar saja kok sepertinya ribet sekali harus lewat pihak ketika. Membawa emosional segala dan ini memang disengaja agar menarik penonton. Serta membawanya kedalam alur cerita.

Sejarah itu kemurnian sejati tapi diangan-angankan lewat sebuah cerita. Maka ketika membaca sejarah keduanya adalah seiring seirama. Perpaduan yang amat dibutuhkan untuk kedua hal tersebut.

Kenangan dan angan adalah dua yang bercumbu di sebuah kemurnian. Rindu terperangkap dalam angan Kembali menuntun angan pada harap yang terbuang. Angan-angan dalam bayang merah putih kemerdekaan didepan mata direbut oleh kekosongan peradaban. Imanjinasi melahirkan kemurnian yang tak sempurna.

Malam beranjak dari senja. Sunyi yang bersembunyi daripada hirup pikuk negeri. Murni dan angan-angan menjadi lawan berikut harus berbalik jadi kawan. Seiring seirama lagu-lagu. Ruangan diantara ruang

Ujung kenapa kita harus wajib berilmu adalah supaya kita mampu berperikemanusiaan. Mengerti perbedaan ; menerima adanya perbedaan tanpa mengajak perkelahian.

Kalau ada orang berilmu lalu tidak mampu menerima perbedaan dan selalu mengajak perkelahian. Ilmumu tentang kemanusiaan runtuh begitu saja. Politik ujung tertinggi adalah kemanusiaan begitu juga agama.

Namanya kepala manusia tak terhingga perbedaan pun kesamaan. Kesamaan hanya waktu makan banyak ya kenyang, pas bercinta ya klimaks, pas tidak suka ya protes. Soal kemanusiaan menjadi rumah utama.

Sejarah panjang yang menjadi masalah adalah dunia kemanusiaan. Selalu mencari perbedaan dan memusuhinya. Tidak ada keromantisan dalam perbedaan.

Manusia memang bentuk-bentuk sosial. Ia memang mencari kesamaan dan menghindari perbedaan. Dalam lampau sejarah pun melakukan itu.

Perkelahian perbedaan itulah harusnya dimainkan dengan indah. Bukan yang menumpahkan darah dan ucapan kotor binatang di lantangkan di televisi. Ini memalukan, satu sisi mereka berilmu sisi lain melupakan rasa kemanusiaan.

Purworejo, 09 November 2018

Jumpa


Jumpa

Karya : Hang

Malam kujumpai senja kugenggam
Pagi kurindukan siang kupeluk
Giliran kembali senja kupandangi
Puisi sore kutorehkan

Perjumpaan

Dibaris lampu-lampu ujung sana
Terdapat bayi-bayi terluka
Bukan hanya luka namun kematian
Bisu-bisu memeluk waktu

Perjumpaan

Gedung digebuk peluru
Jalanan digempur rudal
Waktu-waktu dipersingkat tanpa diam dari ketakutan
Dunia melihat dunia diam pun marah

Perjumpaan

Bintang ujung galaksi
Petang kecil-kecil
Titik-titik menyebar

Purworejo, 25 Oktober 2018

Jalan Raya


Jalan raya;

Ketika sudut pandang berbeda
Ketika aku duduk maka kulihat lalu lalang kendaraan dan suaranya keras-keras
Ketika aku mengendarai dijalan raya aku iku merayakan dengan suara keras-keras
Ketika aku berjalan di pinggir jalan raya  berdengunglah telingaku akibat suara keras-keras

Jalan raya;

Tampak memanjang sorot lampu kepanjangan mata-mata
Ia ada mengawasi segala hal

Jalan raya;

Pemintas hitam terang lampu-lampu pinggir jalan

Kutoarjo,  16 Oktober 2018

Rokok dan Dingin


Rokok dan Dingin

Karya : Hang

Sekarang curang rokoknya disembunyikan dibalik layar ketakutan candu. Kau benar-benar curang.

Aku tidak bisa candu pada rokok. Aku lebih candu pada dinginmu. 

Aku bisa merokok hari ini sebatang dan dilanjut bulan yang sama tahun berbeda sebatang lagi tapi ndak bisa menghilangkan dinginmu sedetik saja. 
Purworejo, 02 Januari 2017