Perlecehan Seks Teks Dalam Sosmed


Perlecehan Seks Teks Dalam Sosmed

Karya : Hang

Perlecehan seksual itu tumbuh subur karena kadangkala kita bantu menyuburkannya bukan membendungnya. Mbak Via (Pendangdut) gaya baru itu menjadi korbannya. Dan ketika screenshoot itu diunggah masih banyak hantu-hantu netizen menyalahkan bahkan memojokkannya.

Ya perlu diketahui pula sebab banyak juga perempuan atau bahkan lelaki yang umbar auratnya di sosmed. Harusnya negara ataupun level orang tua terbuka mendampingi anak-anaknya. Mengawasi sekaligus menjaga hal dari kejahatan online.

Menemukan grup-grup seks itu sangatlah mudah sekali yang heran kenapa tak banyak terciduk? Aku awam tapi pengalamanku jauh lima ribu langkah dari orang awam. Tulisanku tahun 2011an di kompasiana yang sudah lebih dahulu mengupas sedikit hal. Dan terbukti nyata-nyata sekarang.

Menemukan transaksi seks pun sangat mudah. Tidak perlu waktu yang banyak. Cuma memang perlu kreatif dan akal inovasi yang bagus. Semua gampang menemukan. Zaman telanjang gini apa yang tak tertutupi?

Teknologi tidak mungkin disalahkan itu adalah peradaban dunia. Manusia harus mampu melewatinya. Hal yang harus diwaspadai selain paham radikalisme adalah salah paham tentang menikmati seks dalam konteks umur remaja.

Umur remaja waktu pelajaran Biologi saja ketika mempelajari bentuk kelamin. Ketawanya tujuh hari tujuh malam. Bukan karena bahasannya. Sebab sudah tahu duluan. Begitu laju keingintahuannya para remaja. Internet adalah dunia bebas yang bisa diakses. Kemurahannya menjadi tantangan mengendalikan. Kebebasan ini lah harus juga dibarengi logika-logika sehat agar tidak tersesat.

Bukan untuk menakut-nakuti aku ini akrab dengan hal hitam. Lebih akrab dari tidur gelap. Ideku dari 2011 lahirnya juga dari hal-hal itu. Dengan adanya sosmed sebenarnya menambah besar kran aliran deras kemasiatan. Cuma kita mau mengakui negara maukah melindungi dan pemilik sosmed mau berkomitmen untuk membrantasnya. Tiga hal ini harus kerja sama.

Perkembangan gaya hidup dipengaruhi kebosanan gaya tak berganti. Pelakor itu muncul karena gaya hidup. Begitu pula yang lainnya. Teknologi bisa dikendalikan manusia jika mau. Tapi manusia bisa dikendalikan teknologi jika lengah, tak waspada.

Anak-anak sekarang umur sd-smp-sma-kampus sudah harus berandroid dan berlaptop. Kemajuan pemikiran lewat teknologi harus didukung dan harus juga bersanding dengan pemikiran-pemikiran yang sehat.

#BagiAnalisa

***Selain tulisan itu yang ada dikompasiana masih ada beberapa juga yang bahasan sama.

***Konsen kita kadang terpecah sama keseksian kekerasaan (pembunuhan, perampokan, terorisme) dan lupa kasus-kasus seperti ini menurutku masuk ke sosial masyarakat.

***Bagaimana mencegah kalau negara tidak mau tegas. Sampai blow up seorang artis itu berarti sudah warning waspada.

***Bijaklah bersosmed biar IQ nambah bukan berkurang.

***Banyaklah baca buku dan berani melawan ketidakbenaran satu lagi jangan lupa bahagia dan tertawa.

 

Lanjutannya berikut beberapa link ke kompasiana :

https://www.kompasiana.com/radensuhanggono/ada-ada-saja-berseks-ria-tanpa-sentuh_551b41bb813311410f9de606

https://www.kompasiana.com/radensuhanggono/ada-porno-dalam-jejaring-sosial-bagian-1_552937466ea83439158b4593

https://www.kompasiana.com/radensuhanggono/ada-porno-dalam-jejaring-sosial-bagian-2-habis_55292512f17e611c418b45bc

Purworejo, 08 Juni 2018

Iklan

​Tes Emosi vs Tes Perawan


Tes Emosi vs Tes Perawan

Karya : Suhanggono

Membaca tweet siang ini agak ada di sebuah akun resmi berita nasional. Isi tentang tes perawan pada syarat pernikahan. Ide itu ada pada sebuah buku yang ditulis oleh seorang hakim. 

Berikut pandanganku dan terdapat bumbu nasihat embun pagi. Kebetulan selepas subuh hari mendung dan Bapak berbicara bab pernikahan. Sebabnya apa Beliau bicara ini. Lain waktu aku kupas. 😄😃😆

Perawan itu tidak penting. Lebih penting tes bagaimana emosi menghadapi perbedaan. Apa si kolerasinya keperawanan dengan tingkat perceraian dan KDRT. Tidak perlu juga. Emosi perempuan dan lelaki yang harus diperiksa. Siapkah secara mental untuk berumah tangga. Nikah itu gampang tinggal pesta-pesta. Lelaki perempuan mengaku cinta mencintai. Pergi ke KUA daftar sudah. Tapi semua akan lupa tujuannya apa? Doa dan harapan yang hanya semu.

Kenapa agama harus hadir dengan berbagai syarat ketat memilih jodoh. Juga ada dalam budaya hadir pula. Salah satu diteliti bibit bebet bobot. Bukan perawan. Walau itu sebuah pilihan. Nyatanya tetap “janda” malah lebih terdepan daripada yang belum nikah alias “perawan”. Sebab menurut gayanya sudah sama membingungkan. Perempuan sekarang itu sudah menghilangkan intim keperempuannya. Misal suara lembutnya, sifat pemalunya, lebih berani mengubar nafsu seksnya dan lain-lain.

Gaung suara perempuan sudah lebih terdengar daripada bledhek saat hujan. Padahal ia sedang berbicara dengan lelaki suaminya. Ribut di rumah tangga biasa soal ekonomi. Soal kekosongan dapur, kasih sayang dan kerapian rumah dan lain-lain.

Kasus terakhir perempuan yang dibunuh suaminya apa penyebabnya? Masih simpang siur sih tetapi dari keterangan-keterangan yang sudah beredar. Salah satunya adalah ekonomi. Emosi pas keributan rumah tangga harus dihadapi dengan bijak. Mengolahnya dengan sehat. Bumbu cinta tanpa emosi kurang sedap. Memang kalau sudah emosi lelaki atau perempuan suaranya agak kurang direm. Omongnya ceplas-ceplos seperti politisi yang lagi kampanye atas nama rakyatnya.

Anak adalah hadiah terbesar bagi sebuah keluarga. Ia dititipkan oleh Tuhan kepada yang dipercaya. Jikalau ada masalah dan ingin cerai/pisah. Maka pikirkan nasib anak-anaknya. Caranya mencegah adalah si suami mengingat masa indah bersama dengan istri dan sebaliknya. Dan jurus lain adalaj berpikirlah untuk anak-anak. Soalnya yang belum punya aja harus mendukun sana sini. Dan juga belum nikah aja pengen cepat nikah. Kau sia-sia. Apa-apa itu perlu didiskusikan. Kalau perlu orang ketiga ya tidak apa-apa. Syukur itu jadi rahasia keluarga. Luar rumah tidak ada yang tahu.

Kerja hasilnya untuk siapa? Anak-anak. Ya sudah si Ibu memikirkan anak juga si Bapak. Makan urusan dapur jangan juga disepelekan masalah ini. Fatalnya jika suami tak dimasakkan maka bekerja pun tidak nyaman.

Ingatlah suami itu ngemong anak mertua. Tidak kan dulu janjinya pada mertua itu menyenangkannya bukan memberikan kekerasan. Kan pada saat saling suka pasti dengan kata puisi yang indah. Tak mungkin dalam sebuah janji itu dikatakan: “Biarkan kalau nanti sudah menikah akan ku kupukuli,” rasanya tidak mungkin. 

Terpenting adalah menambahi sabar kalau belum sabar. Menambahi lebih sabar jika sudah sabar. Masalah itu dihadapi dan banyak hal orang berumah tangga pasti didapati masalah. Tengok dan keliling dilingkungan pasti yang lebih parah banyak. Banyak contoh kerumitan masalah. 

Kalau usulan tujuh tahun lalu ini di gaungkan lagi. Patutlah wajib ditolak keras.

*Nasihat ini diucapkan di pagi embun daun yang masih basah oleh Bapakku pernah muda dan aku belum pernah tua.

Purworejo, 10 September 2017

Asal Ide Anjing Tetangga


Asal Ide Anjing Tetangga

Karya : Suhanggono

Tulisan #AnjingTetangga itu sebenarnya kesebelan kuping mendengarkan terhadap perempuan dengan santai mengatai lelaki asu, bego, goblok dll. Jaman emansipasi kesejajaran lelaki perempuan sudah kebablasan diambang abnormal. Aku pertama dengar perempuan gini ya jaman esemae (SMA). Walau jaman  esempe (SMP) teman lelaki ngomongan celeng, asu dah biasa. Tapi perempuan waktu itu masih polos lugu walau galak. Seingatku tidak ada omongan gitu. 
Juga kadang mikir kalau agama sudah tidak menarik lagi. Tapi ngomongnya ahli agama masih bertuhan dan horornya pengen masuk surga. Lalu ribut siapa paling ahli agama. Padahal agama itu cuma satu rumus. Melaksanakan kewajibanNya dan memanusiakan manusia. Beres. Tanpa menawarnya sekarang ini manusia itu sedang tawar menawar dan mencari celah sesuai keinginan nafsu tapi ngaku beragama. 
Normalnya perempuan suaranya tidak sekeras lelaki kecuali pakai pengeras suara. Halus tidak kasar. Sekarang lelaki dan perempuan sama kerasnya dalam suara dan tindakan. Pelaku kejahatan sudah ada. Kalau kartini masih hidup dalam jaman sekarang bisa jadi geleng-geleng kepala. Menangisi keadaan jiwa-jiwa perempuan. 
Memang perempuan yang dilingkungan baik “keluarga konsen terhadap beragama” jauh lebih baik. Jauh lebih tertata. Minimal tertawanya tidak berbahak-bahak. Bukan hahahaha, huehueheue, wkwkwkwk tapi hiii. 
Pesan penting juga jangan cari pasangan di sosmed.hahaha
Salam #AnjingTetangga
Tulis cerpen lagi baca buku lagi

Purworejo, 04 Juli 2017

Dan Rumah Kembali


​Dan Rumah Kembali

Oleh : S. Hang

Melewati jalan mawar gang sembilan. Sebuah jendela rumah biasa terbuka kini semua pintu maupun jendelanya tertutup  rapat. Warnanya pudar tak berkilau seperti wajahmu kini mendung tanpa cahaya. Apa yang hendak kau cari?

Nafasku mengengah-engah cepat. Mengingat bahwa dikau mati di kubur dalam masa lalu yang kelam. Kanan jalan tetap di depan pintu sisi kirinya. Terdapat pot bunga layu tanpa senyum mekarnya seperti lampau yang layu. Emosi itu selalu tercatat lengkap dalam bayangan.

Tanah gunungan panjang terdapat nama yang kukenal. Terpampang jelas kenangan itu. Waktu berjalan hujan deras menyambut dalam sebuah kematian. Kecelakaan motor di ujung menuju gang tertabrak motor tertanggamu. Ia mabuk mengencangkan speedometer tak melihat dikau berjalan asal jalan dan bergas. Kau berdarah perutmu terurai di jalanan. Orang-orang menutupi tubuh itu dengan dedaunan pisang warna hijau muda. Polisi datang berseragam mengabarkan kepada keluargamu.

“Benar ini rumah Galih?” Tanya Pak Polisi.

“Benar ada apa ya?” Terkejutnya seorang perempuan berpakaian rapat sampai tanah.

“Gini Galih itu kecelakaan sekarang ia di rumah sakit Sanyata,” kabar Polisi.

Tanpa berbalas kata kembali ia hanya tertunduk dan memecah sunyi. Malam itu jadi kelabu pilu buat keluarganya. Istri yang dinikahi sepuluh tahun. Baru saja sebulan yang lalu hamil. Betapa sedihnya mendalam bahkan pingsan berkali sampai hari pemakamannya.

Purworejo, 30 Desember 2016

Coretan Adi


Coretan Adi
                           Hangsyamirku
       30-31 Maret 2016

Pagi menyapa sementara Adi masih bertapa di kamar tidurnya. Bermimpi dengan khayalan penuh. Langit terus membiru memisahkan yang putih. Mentari amat lambat pamerkan sinarnya.

“Adi….,” suara Ibu dari dapur kerasnya bukan main sampai mengaburkan mimpiku. “Bangun sudah siang ini. Antar Ibu ke pasar sekarang ya!” lanjutnya.

Sebuah perintah yang tak asing. Setiap bahan dapur habis. Maka harus rela ke pasar.

Masih hening.

Terkaget suara hentakan dari ujung sudut yang lama dikenal. Sambil membuka mata. Sayup-sayup membawanya ke alam sadar. Menengok arah kiri dimana jam dinding bulat berada. Jarum jam menunjukkan pukul 07.00 Wib. Matahari sudah menembus ke kaca genteng langit. Terang benerang luar biasa. Suasana makin membisu hanya terdengar bantah-bantahan televisi dalam angan-angan. Rupanya tontonan perdebatan semalam belum hilang. Masih saja ada dalam pikirannya. Terlalu memang seserius ini kan menananggapinya. Mereka berdebat buat kepentingan semata. Sedangkan aku hanya rakyat biasa yang dipusingkan dengan acara begini. Sebenarnya lebih tidak juga begitu menarik nonton paha-paha artis berjoget legak legok itu di acara televisi lain. Namun rasa semua acaranya memang membosankan.

“Tenyata sungguh sudah siang ya,” batin Adi mengomeli diri sendiri.  “Gara-gara bergadang ini,” lanjutnya

Hari minggu memang enak bermalas ria. Sehabis shalat subuh ya lanjutin mimpi kembali. Namanya juga anak sekolah sepekan penuh hanya dipaksa belajar terus menerus. Senin sampai sabtu jam belajar sehari penuh. Rasanya sangatlah jenuh. Malam minggu harus dihabiskan bersama kekasih, selingkuhan dll. Sedangkan aku hanya duduk bersama keluarga di ruang tamu yang ada televisinya. Benar sekali nonton tv. Bukan hal mudah jalan keluar rumah. Bukan tipe seperti itu. Tak gampang nongkrong di alun-alun kota. Lampu yang nyala remang-remang. Padahal teman-temannya banyak yang begitu. Namun prinsip keluarga tetap harus terjaga.

Adi melangkah kakinya pelan penuh irama. Turun dari tempat tidurnya. Merapikan apa-apa yang brantakan. Selanjutnya menuju kamar mandi yang harus melewati dapur dimana Ibunya berada.

“Kau ini bergadang pula bangun siang gini. Antar belanja ke pasar ya,” kata Ibu menatap mata dalam-dalam. “Kau mandi dulu sana.” terusnya.

Adi hanya menanggukkan kepalanya tanda setuju apa-apa yang dibilang Ibunya.

***

Selesai mandi wangi sudah badannya. Pakaiannya pun cukup rapi. Kaosan pendek dan celana panjang hitam favoritnya. Lalu mengeluarkan kuda besinya dari lorong gelap rumahnya. Dipanasi dahulu sebelum dipakai.

Suara motor mengerung-ngerung keras. Sambil dilap agar tetap mengkilap pikirnya. Tak lama hanya 10 menitan saja. Lalu seketika Ibunya pun mendatangi dengan menenteng tas belanjanya seperti biasa. Adi jadi tukang ojek.

Berangkatlah mereka berdua menelusuri lorong jalanan beton. Dibangun beberapa tahun yang lalu. Sekarang mulai rusak sana sini. Tak ada yang merawat. Entahlah tak tahu.

“Haduh anak sekarang ya kalau naik motor nggak tahu aturan. Nggak sadar blas apa kalau nyawanya satu!” maki Ibu yang duduk nyamping di belakang  atas jok terkaget mendadak anak abege mengebut naik motornya.

“Woi pelan-pelan woi,” timpal Adi teriaknya keras pada anak anak muda lain. Tetap melajukan kencang hilang tanpa memperdulikan protes orang.

Jalan hitam belokan tajam aspalan cukup ramai. Sebab jadi jalan alternatif anak-anak sekolah dari arah selatan menuju utara. Cukup ngeri memang mereka seperti jagoan. Mengegas mengeraskan suara knalpot motornya. Jalanan yang belum lama dibangun bahkan konon katanya belum juga diresmikan. Namun sudah berlubang sisi-sini jalannya.

“Hati-hati kau Di,” peringat Ibu sambil menepuk punggung anaknya. “Nyebrangnya tengok kanan kiri dulu.” tambahnya.

Melewati jembatan kali sempit. Hanya seukuran lebar becak saja yang mampu melewatinya. Panjangnya hanya beberapa meter namun itu sangat ramai ketimbang jembatan yang ada di selatan atau utaranya. Memang cukup pas kalau jadi alternatif.

Sesampainya di sudut sebrang pasar untuk memakirkan motor. Membiarkan Ibu untuk berkreasi belanja sedemikian lamanya. Sambil menunggu seperti biasanya. Selalu memaikan hpnya membuka sosmed biar terlihat sibuk.

“Tunggu kau saja disini ya,” kata Ibu turun dari motor. “Mau beliin apa?”
tambah tanyanya.

“Ndak ada Bu,” jawabnya lirih sambil mengantongi kunci motor dan mengambil handphone di saku celana panjangnya.

Zaman modern menambahkan keburukan soal komunikasi antar manusia. Hanya dengan hp mereka dialihkan kebiasaan sosialnya. Tadinya berbicara langsung lebih asyik. Sekarang cukup dimana saja asalkan ada fasilitas internet hp dan akun sosmed bisa menyapa. Kepada kawan yang dikenal dekat atau bahkan tidak sama sekali. Padahal aturan petunjuk sosmed jelas memberikan tipsnya agar menambahkan teman yang dekat saja. Dan banyak kasus kejahatan karena terperdaya hal yang sederhana. Foto ganteng, status romantis dll. Kasusnya berulang terus. Memang dampaknya bisa baik dan buruk. Baiknya bisa dagang secara gratis mencakup jaringan yang luas tak terbatas. Buruknya kadang menjadi tertunduk waktu-waktunya hanya untuk bersosial media melupakan dunia nyatanya.

Terenungkan hal itu Adi terus berdiam diri. Menatap hape layar sentuh yang lama terbeli. Sesekali melihat ke pandangan arah pasar yang hari itu cukup ramai. Bisa jadi memang alasan hari minggu semua ikut-ikutan belanja.  Pasar baru itu belum lama dibangun namun tak tertata rapi lapak pedagangnya. Harusnya bertingkah jadi bahu lahan parkir pun tak termakan juga. Suara riuh tawar menawar dagangan. Begitu juga obrolan sesama sopir angkutan atas kelangkaan penumpang. Alasanya memang cukup nyata dimana harga sebuah motor saja murah sekali. Mereka hanya mengandalkan jam sekolah dan para pedagang berangkat ke pasar. Selain itu hanya mondar mandir dijalanan menunggui di satu tempat cukup lama. Sambil menunggu angkutan lain datang muncul. Bila begitu tanda angkutan jalan begitu seterusnya.

Sayup-sayup sang Ibu muncul dari jauh disebrang jalan sana. Membawa beberapa belanjaan. Kanan kiri tangan sibuk menenteng kresek-kresek. Adi segera mendatanginya dan membantu membawakannya.

****
Dadu ini adalah teman sekolah Adi satu kelas. Siswa pindahan dari sekolah Graha Budi. Bahasa negatifnya kalau anak pindahan biasanya membawa virus lama entah jelek atau buruk.

Pagi nan cerah sekolah makin ramai. Siswa satu per satu muncul di kelasnya masih. Bel belum juga berbunyi seperti biasanya jam 07.00 Wib tepat tanda jam  belajar dimulai.

Adi walau punya motor tak semata-mata diizinkan untuk ke sekolah. Ada larangan bagi kedua orang tua. Sebab memang motor itu untuk kerja Kakaknya tiap hari sekaligus kadang digunakan anggota keluarga yang lain.
Seperti biasa hari-harinya diisi dengan angkutan umum. Fasilitas para siswa untuk berangkat ke sekolah. Duduk bersama berbagai macam asal sekolah. Ada yang berdiri, duduk dll. Bahkan sampai menggantung di sela pintu angkutan itu. Biasanya jam-jam mendekati waktu masuk sekolah. Berangkat jam segitu agar tak banyak waktu yang terbuang. Sekali turun dari angkutan jalan sebentar agak berlarian. Langsung menuju ke kelas.

“Huffftttt…. hampir saja terlambat,” kata Adi ke diri sendiri. Menatap bangku dan meja kelas paling depan belum terisi artinya belum ada guru yang masuk.

Melihat ada keanehan seorang asing. Belum pernah ketemu sebelumnya. Ia duduk di pojok sendiri sebelah kiri. Walau bangku dua ia sendirian.

Adi langsung duduk di depan paling kanan bersama sahabat nya satu meja. Jaka namanya teman akrabnya.

Menunggunya guru pasti riuh ricuh suara-suara siswa siswi makin ramai. Obrolan antar siswa entah makin tak jelas saja kata-katanya. Seperti halnya pasar apa saja ada obrolannya.

“Jak, tu ada anak baru ya?” Tanya Adi sambil mata mengarahkan ke seorang asing itu yang lagi terdiam saja menyesuaikan suasana.

“Heem,” jawab Jaka singkat. “Anak pindahan tu,” jelasnya.
                      
Tak sampai lanjutan pertanyaannya. Pak guru Faisal memasuki kelas Beliau guru Agama sekaligus wali kelasku. Mendadak sekelas merapatkan bibirnya. Tak ada satu pun ada suaranya.

“Baiklah anak-anak, hari ini kalian  tambah teman. Apakah kalian sudah kenalan?” Tanya Guru Faisal menatap mata seluruh siswanya.

#BelajarDialog