​Tes Emosi vs Tes Perawan


Tes Emosi vs Tes Perawan

Karya : Suhanggono

Membaca tweet siang ini agak ada di sebuah akun resmi berita nasional. Isi tentang tes perawan pada syarat pernikahan. Ide itu ada pada sebuah buku yang ditulis oleh seorang hakim. 

Berikut pandanganku dan terdapat bumbu nasihat embun pagi. Kebetulan selepas subuh hari mendung dan Bapak berbicara bab pernikahan. Sebabnya apa Beliau bicara ini. Lain waktu aku kupas. 😄😃😆

Perawan itu tidak penting. Lebih penting tes bagaimana emosi menghadapi perbedaan. Apa si kolerasinya keperawanan dengan tingkat perceraian dan KDRT. Tidak perlu juga. Emosi perempuan dan lelaki yang harus diperiksa. Siapkah secara mental untuk berumah tangga. Nikah itu gampang tinggal pesta-pesta. Lelaki perempuan mengaku cinta mencintai. Pergi ke KUA daftar sudah. Tapi semua akan lupa tujuannya apa? Doa dan harapan yang hanya semu.

Kenapa agama harus hadir dengan berbagai syarat ketat memilih jodoh. Juga ada dalam budaya hadir pula. Salah satu diteliti bibit bebet bobot. Bukan perawan. Walau itu sebuah pilihan. Nyatanya tetap “janda” malah lebih terdepan daripada yang belum nikah alias “perawan”. Sebab menurut gayanya sudah sama membingungkan. Perempuan sekarang itu sudah menghilangkan intim keperempuannya. Misal suara lembutnya, sifat pemalunya, lebih berani mengubar nafsu seksnya dan lain-lain.

Gaung suara perempuan sudah lebih terdengar daripada bledhek saat hujan. Padahal ia sedang berbicara dengan lelaki suaminya. Ribut di rumah tangga biasa soal ekonomi. Soal kekosongan dapur, kasih sayang dan kerapian rumah dan lain-lain.

Kasus terakhir perempuan yang dibunuh suaminya apa penyebabnya? Masih simpang siur sih tetapi dari keterangan-keterangan yang sudah beredar. Salah satunya adalah ekonomi. Emosi pas keributan rumah tangga harus dihadapi dengan bijak. Mengolahnya dengan sehat. Bumbu cinta tanpa emosi kurang sedap. Memang kalau sudah emosi lelaki atau perempuan suaranya agak kurang direm. Omongnya ceplas-ceplos seperti politisi yang lagi kampanye atas nama rakyatnya.

Anak adalah hadiah terbesar bagi sebuah keluarga. Ia dititipkan oleh Tuhan kepada yang dipercaya. Jikalau ada masalah dan ingin cerai/pisah. Maka pikirkan nasib anak-anaknya. Caranya mencegah adalah si suami mengingat masa indah bersama dengan istri dan sebaliknya. Dan jurus lain adalaj berpikirlah untuk anak-anak. Soalnya yang belum punya aja harus mendukun sana sini. Dan juga belum nikah aja pengen cepat nikah. Kau sia-sia. Apa-apa itu perlu didiskusikan. Kalau perlu orang ketiga ya tidak apa-apa. Syukur itu jadi rahasia keluarga. Luar rumah tidak ada yang tahu.

Kerja hasilnya untuk siapa? Anak-anak. Ya sudah si Ibu memikirkan anak juga si Bapak. Makan urusan dapur jangan juga disepelekan masalah ini. Fatalnya jika suami tak dimasakkan maka bekerja pun tidak nyaman.

Ingatlah suami itu ngemong anak mertua. Tidak kan dulu janjinya pada mertua itu menyenangkannya bukan memberikan kekerasan. Kan pada saat saling suka pasti dengan kata puisi yang indah. Tak mungkin dalam sebuah janji itu dikatakan: “Biarkan kalau nanti sudah menikah akan ku kupukuli,” rasanya tidak mungkin. 

Terpenting adalah menambahi sabar kalau belum sabar. Menambahi lebih sabar jika sudah sabar. Masalah itu dihadapi dan banyak hal orang berumah tangga pasti didapati masalah. Tengok dan keliling dilingkungan pasti yang lebih parah banyak. Banyak contoh kerumitan masalah. 

Kalau usulan tujuh tahun lalu ini di gaungkan lagi. Patutlah wajib ditolak keras.

*Nasihat ini diucapkan di pagi embun daun yang masih basah oleh Bapakku pernah muda dan aku belum pernah tua.

Purworejo, 10 September 2017

Iklan

Diterbitkan oleh

suhanggono

Aku adalah Manusia yang sedang menjadi pejalan dalam sebuah kehidupan. Blog ini aku buat ketika habis kecelakaan motor yang membuat down mental. Kejadian itu sekitar tahun 2014 bulan April. Aktivitas sekarang aku sedang menulis naskah-naskah.

2 tanggapan untuk “​Tes Emosi vs Tes Perawan”

    1. Kerumitan jika masing emosi akan berakibat fatal. Tapi kalau salah satunya panas dan yang lain dingin. Akan berakibat berbeda ketimbang duanya panas. Tapi tergantunh juga masalahnya apa hihihi… disitu aku mengingatkan dulu pas nglamar itu tujuan pasti baik, pas punya anak pasti apa-apa buat anak dan lain-lain. Selamat sore Mas Gusti makasih mampir dan responnya.

      Suka

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s