Puisi Bebas


Puisi Bebas 

Karya Suhanggono
Lesbian ada
Homoan ada

Seks bebas banyak

Mau apa juga lautnya
Beragama sesuai agama dilarang brendel. Disesat-sesatkan. Ajaran agama dikoreksi. 

Lewat akal logika. Pengajian dibubarin. Dandutan dijagain. Jenggotan diterorisin. Rok mini diintipin. Akal dikadalin. Tuhan dicuekin. Agama hilang sendiri.
Sok yak bicara bla bla anti korupsi anti teroris anti kekerasan. Bicaranya asu. Bicara nganu. Segala cacian hafal. Padahal dia bli bli. Mabuk logikanya. Akalnya agak miring.
Perempuan sekarang ndak jual diri lagi. Tapi kepasrahan banget. Mau lihat model apa? Ada. Merem nemu, pakai televisi banyak, pakai internet gudangnya. Begitulah blu blu.
Lelaki ndak repot kalau soal maksiat. Tinggal tidur. Mimpi. Semua sesuai pesanan bayangan. Mau model apa banyak pilihan. Memang sudah kodratnya kali ya. Gampang nganu. 
Dan negara memang “sengaja” sediakan hal-hal maksiat. Itulah kebebasan. Ada negara kalau sudah meresahkan. Majulah pihak keamanan. Tanpa itu bebas. Mau upload iihihuhu bebas. Mau maen di taman apa lagi. Bebas dah. Demokrasi kok. Nyata tak dilarang.
Tapi kalau pas pemilu. Rayunya aduh romantis pisan. Janjinya melebihi mantan mau balikan. Malam jadi lautan mimpi. Busuk. Setelah jadi. Tinggal bungkam orang kritis dengan jabatan. Jika masih kritik tajam. Ya penjara. Gampang kan. 
Palingan cuma berhadapan dengan netizen. Sebulan dua bulan udah lupa. Aman.
#NulisSejenak

#TajamMenulis

#MalamMinggu

#BacaBuku

Kamar Penjara, 23 september 2017

Iklan

Sopir


Sopir 

Karya : Suhanggono

Kedepan akan ada lautan sopir yang protes atas keberadaan lautan kendaraan online. Dan konflik perebutan wilayah penumpang sulit dihindari. Seharusnya mereka berpikir juga bahwa sikap-sikap biasa dalam transportasi tidak lagi cocok di jaman smartphone. Harus diakui dan memang itu adalah kenyataan. Sebaiknya mengikuti arus modern atau kelak ditinggalkan para penumpangnya. Tarif yang dipaksa mahal akan mencekik penumpangnya dan jika tak naik pun akan merugi sendiri. Benar-benar dipaksa akan dilema oleh keadaan.

Masalahnya juga perlu tahu berapa harga kendaraan pribadi yang bisa diangsur per bulan bahkan sekarang ada tawaran per hari. Itu juga jebakan dari diktator perekonomian. Sekali waktu dipaksa untuk memakai transportasi disamping itu malah harganya kendaraan murah meriah. 

Bahkan sebocah anak SMP malu untuk bersepeda ontel. Dan titipan sepeda tidak lagi penuh dengan sepeda ontel tapi motor orang tuanya. Dan orang tua itu membiarkan yang seharusnya pandai mengkoreksi mana benar dan salah. Mau diapa juga katanya demi anak akan dilakukan. Kebebasan ini harusnya distop jangan diterus-teruskan.

Palingan kendaraan umum yang bakal ramai adalah antar kota dan luar provinsi. Barangkali ini tak akan jadi soal. Tapi di dalam kota yang mungil ini kalau tidak pandai kesabarannya akan kacau. Belum tentu sekali tarikan akan penuh penumpang. Hanya waktu tertentu menjadi rebutan misal pada subuh hari yang ada para pedagang ke pasar, waktu sekolah baik pulang atau berangkat. Selain waktu-waktu itu harus pandai bergerak. Jumlah penumpang dan angkutan bahkan tidak seimbang. Kebanyakan angkutan yang dijalanan. Ketimbang penumpang yang menghentikannya. 

Dahulu ada kernetnya membantu menariki ongkos dari penumpang. Kini malahan sendirian hanya sopir seorang diri. Merangkap ya sopir ya kernet. Sebabnya akan jauh merugi jika hasil dibagi berdua dengan kernet. Hasilnya buat setoran dan makan keluarga saja pas-pasan. Bahkan ada lho gara-gara ini sopir jadi golput. Alasannya penumpang sepi, bensin naik, belanja dapur naik tapi gizi tak naik-naik. 

Purworejo, 19 September 2017

Tuan dan Tuhan


Tuan dan Tuhan
Karya : Suhanggono
Tentang hidup yang dimahakan. Jauh dari sekelas dari mahasiswa. Sebab ia hanya siswa yang mengaku maha. Tuan itu menjadi Tuhan-tuhanya. Tunduk patuh akan perintah. Tidak berani membantah apalagi mengoreksi. Ia terlihat wajah sangar dan pengawalnya banyak. 
Tuhan ini tidak terlihat tapi dirasakan ada. Terasa jika engkau beriman. Beriman jika engkay taat dan patuh pada perintahnya. Wajah ada belakang depan kanan kirimu adalah Tuhan. Ia bisa menjelma apa saja bagi yang berpikir. “Surga atau neraka itu milik siapa? Aku berseru pada daun kelapa yang bergoyang sebab angin berhembus kencang. 
Tuan itu Tuhanku yang harus kupatuhi kutaati perkataannya. Jadi jika aku langgar pun tak jadi masalah buatku. Bahkan melawan tuan adalah sebuah keharusan yang tak boleh ditunda. 
Namun dikata apa sekarang terbalik antara tuan dan Tuhan. Jika tuannya malah ditaati seperti orang beriman taat dan patut. Jika TuhanNya malah dikoreksi tentang firman-firmanNya. Ayat-ayat suci kalah dengan perintah tuan-tuan.
Sampai-sampai semalam aku dibisiki malaikat “Aku ndak pernah bisa masuk kampus soalnya ada mahasiswa,” ketakutan untuk mencatat amal baik dan buruknya. Walau ketahuan mesum, nyontek, curang asal ktpmu mahasiswa punya ktm pasti aman. Kalau malaikatnya manusia gampang dipengaruhi. Sayangnya tidak.
“Tuhan itu malah tidak takuti. Udah cs ma gua. Siapa yang takut? Gua udah pesen surga. Loe mau surga ikut gua,” begitu ajakan tuan-tuan yang mengaku nabi utusan Tuhan.
Lain hal dan soal seorang berteriak lewat mulutnya yang hitam.
“Kalau firman Tuhan masih diperdebatkan. Gua pikir ini yang mau mendebatkan layak dipedang gorok lehernya sebab itu seperti bangkai daging yang mengaku segar,”
Sudut warung kopi seorang bergumam tentang pancasila yang diributkan di kotak ajaib berada dilangit atas meja.
“Hah kau ini pancasilais versi siapa? Palsu atau asli? Kira-kira malaikat menyanyakan pancasila atau keimanan ketaatan seseorang ya?”
Itu lah tuan kalau sudah diTuhankan. Dan Tuhan dianggap tuan (manusia).
Purworejo, 17 September 2017
*Cuplikan dari sebuah ide “Cerpen prosa Tuhan”

Ilusi Pilihan


Ilusi Pilihan
Karya : Suhanggono
Ada yang bersembunyi

Ada yang bunyi

Ada yang berpindah rapat

Ada yang merapat ketat
Malam tetaplah gelap

Lampu di sebrang jalan mati

Engkau sembunyi mengawasi

Siapa-siapa yang mendatangi
Demokrasi kena penyakit ilusi 

Bebas memilih memang

Curiga mencurigai tetap

Brengsek bajingan memang
Ini soal mantan bukan pilihan lurah

Jika dikaitan wong ini hanya puisi

Jeritan kata dari seorang bajingan

Itulah aku lagi tiduran mimpi
Purworejo, 14 September 2017

​Jadi Sebenarnya Mauku Apa?


Jadi Sebenarnya Mauku Apa?
Karya : Suhanggono
Aku tidak bergairah hidup. Hidup cuma menumpang nafas tanpa makna. Menginginkan mati pun aku tidak. Jadi sebenarnya mauku apa? 
Tidak jelas serba salah. Ingin mati tapi takut kehilangan dunia juga ingin masih hidup selamanya tapi takut menghadapi dunia. Jadi sebenarnya mauku apa?
Aku marah ya marah sekali. Kenapa bisa begini banget jalan hidupku. Yakin seyakinnya sebenarnya bukan jalan takdir Tuhan pasti ada setan yang turun campur. Jadi sebenarnya mauku apa?
Jalanku lurus amat pun tidak belok. Kadang lurus kadang pula belok. Kira-kira begini namanya manusia harus banyak makhlum ya. Memandang benar salah sebagai cermin bukan lagi untuk menghakimi. Jadi sebenarnya mauku apa?
Punya rasa punya pendengaran tajam. Bahkan akal yang dikotori pemikiran buruk. Itu pasti salah ini pasti benar. Jadi sebenarnya mauku apa?
Lautan yang kulihat tak lagi berwarna biru. Ada kecoklat-coklatan. Pun wajah-wajah orang itu tak merasa kekurangan walau tak sama dengan manusia biasanya. Indah bisa membersamai. Kenangan. Jadi sebenarnya mauku apa?
Merayakan hujan dengan diam. Punggungku panas akhir-akhir ini. Entah kenapa barangkali setan yang menempeli sedang menggrogoti rasa imanku kepada Tuhan. Entahlah. Jelas aku marah jika dipaksa pulang tapi rindu dipaksa pulang. Jadi sebenarnya mauku apa?
Purworejo, 11 September 2017

​Tes Emosi vs Tes Perawan


Tes Emosi vs Tes Perawan

Karya : Suhanggono

Membaca tweet siang ini agak ada di sebuah akun resmi berita nasional. Isi tentang tes perawan pada syarat pernikahan. Ide itu ada pada sebuah buku yang ditulis oleh seorang hakim. 

Berikut pandanganku dan terdapat bumbu nasihat embun pagi. Kebetulan selepas subuh hari mendung dan Bapak berbicara bab pernikahan. Sebabnya apa Beliau bicara ini. Lain waktu aku kupas. 😄😃😆

Perawan itu tidak penting. Lebih penting tes bagaimana emosi menghadapi perbedaan. Apa si kolerasinya keperawanan dengan tingkat perceraian dan KDRT. Tidak perlu juga. Emosi perempuan dan lelaki yang harus diperiksa. Siapkah secara mental untuk berumah tangga. Nikah itu gampang tinggal pesta-pesta. Lelaki perempuan mengaku cinta mencintai. Pergi ke KUA daftar sudah. Tapi semua akan lupa tujuannya apa? Doa dan harapan yang hanya semu.

Kenapa agama harus hadir dengan berbagai syarat ketat memilih jodoh. Juga ada dalam budaya hadir pula. Salah satu diteliti bibit bebet bobot. Bukan perawan. Walau itu sebuah pilihan. Nyatanya tetap “janda” malah lebih terdepan daripada yang belum nikah alias “perawan”. Sebab menurut gayanya sudah sama membingungkan. Perempuan sekarang itu sudah menghilangkan intim keperempuannya. Misal suara lembutnya, sifat pemalunya, lebih berani mengubar nafsu seksnya dan lain-lain.

Gaung suara perempuan sudah lebih terdengar daripada bledhek saat hujan. Padahal ia sedang berbicara dengan lelaki suaminya. Ribut di rumah tangga biasa soal ekonomi. Soal kekosongan dapur, kasih sayang dan kerapian rumah dan lain-lain.

Kasus terakhir perempuan yang dibunuh suaminya apa penyebabnya? Masih simpang siur sih tetapi dari keterangan-keterangan yang sudah beredar. Salah satunya adalah ekonomi. Emosi pas keributan rumah tangga harus dihadapi dengan bijak. Mengolahnya dengan sehat. Bumbu cinta tanpa emosi kurang sedap. Memang kalau sudah emosi lelaki atau perempuan suaranya agak kurang direm. Omongnya ceplas-ceplos seperti politisi yang lagi kampanye atas nama rakyatnya.

Anak adalah hadiah terbesar bagi sebuah keluarga. Ia dititipkan oleh Tuhan kepada yang dipercaya. Jikalau ada masalah dan ingin cerai/pisah. Maka pikirkan nasib anak-anaknya. Caranya mencegah adalah si suami mengingat masa indah bersama dengan istri dan sebaliknya. Dan jurus lain adalaj berpikirlah untuk anak-anak. Soalnya yang belum punya aja harus mendukun sana sini. Dan juga belum nikah aja pengen cepat nikah. Kau sia-sia. Apa-apa itu perlu didiskusikan. Kalau perlu orang ketiga ya tidak apa-apa. Syukur itu jadi rahasia keluarga. Luar rumah tidak ada yang tahu.

Kerja hasilnya untuk siapa? Anak-anak. Ya sudah si Ibu memikirkan anak juga si Bapak. Makan urusan dapur jangan juga disepelekan masalah ini. Fatalnya jika suami tak dimasakkan maka bekerja pun tidak nyaman.

Ingatlah suami itu ngemong anak mertua. Tidak kan dulu janjinya pada mertua itu menyenangkannya bukan memberikan kekerasan. Kan pada saat saling suka pasti dengan kata puisi yang indah. Tak mungkin dalam sebuah janji itu dikatakan: “Biarkan kalau nanti sudah menikah akan ku kupukuli,” rasanya tidak mungkin. 

Terpenting adalah menambahi sabar kalau belum sabar. Menambahi lebih sabar jika sudah sabar. Masalah itu dihadapi dan banyak hal orang berumah tangga pasti didapati masalah. Tengok dan keliling dilingkungan pasti yang lebih parah banyak. Banyak contoh kerumitan masalah. 

Kalau usulan tujuh tahun lalu ini di gaungkan lagi. Patutlah wajib ditolak keras.

*Nasihat ini diucapkan di pagi embun daun yang masih basah oleh Bapakku pernah muda dan aku belum pernah tua.

Purworejo, 10 September 2017

Pembodohan Generasi Tua


Pembodohan Generasi Tua

Karya : Suhanggono

Nggak ngerti sama pikiran pembodohan generasi tua. 

Padahal sudah kuliahnya udah S2 lho. Ngeri tho. Merekomendasikan saja ngawurnya kayak gitu. Kebangetan banget. Seperti ada pelecehan. Masih pinter yang sekolahnya SMP. Ini fakta sudah hancur hampir tiada.

Kalau diinget ngilu banget. Rekomendasi kepada yang membutuhkan harusnya lebih baik. Ini sudah mau tutup kok jadi rekomendasi. Sekarang sudah tutup. Gila. 

Macam apa kalau gitu? 

Sekarang merasakan tho gimana turun followermu. Ini ulahmu karena memang dirasa kemahalan. 

Penolak lupa kejadian ini di lingkungan pendidikan. Ini akan menjadi sejarah kelak. Dan followermu akan turun terus. Percaya deh kalau tidak bisa berubah.
Purworejo, 09 September 2017