​Sebuah Kebisuan Penjara 


Sebuah Kebisuan Penjara 

Karya : Suhanggono

Aku ingin sekali meminjam emosinya malah ia tersenyum. “Pengurusnya saja bubar ya sudah,” begitu katanya senyum lebar kagak berubah padahal tidak bertemu sudah bertahun-tahun.

Tapi apakah ketika dilarang shalat terus tidak shalat? PILIHAN

Sampai kapan mereka diskusi ini? PILIHAN

Orang kalau masuk rumahku yang ikut aturanku. Tetangga kagak boleh ikutan mengatur. Proses berpikir. Pola pikir. Berakal kalau beragama. Kalau sudah baligh maka agama jadi PILIHAN yang melekat berlaku juga tingkah polanya. 

Apakah agama sebuah warisan atau pilihan?

Begitu kami berdiskusi kecil-kecilan di tempat gelap. Tidak ada lampu yang menyala. Tidak ada indentitas ormas seperti yang lalu. Kami hanya orang-orang sedang melakukan proses berpikir. 

Sebelumnya…. 

Sabtu ini hadir dengan angin begitu protes. Mendung memayung wilayah rumah. Kadang rintik hujan membuat ragu pergi. Pilihan…

Lalu….

Aku berjalan pada sebuah buku-buku yang banyak. Ada yang berbagai macam penulis. Luar negeri atau negeri sendiri. Serta juga berbagai macam penulisnya mengandung pemikiran berbeda-beda. Dengan macam sudut pandang. Pilihan….

Dan… 

Ketika aku mengendarai motor hari ini entah aku tidak stabil. Seperti ketenanganku sedanf diserang. Entah oleh siapa. Barangkali setan yang menghantui. Kecepatan 80/km kadang 40/km memainkan rem tangan dan kaki. Pilihan..

Akhirnya…

Memasuki ruang aku disambut beberapa orangn dua yang kenal dan sisanya belum kenal. Kami membuka bicara : Getar -getar acara ini sudah beberapa kali. Hanya saja aku baru bisa hadir sebelum ada halangan. Sebab temanya menarik. Ini PILIHAN aku untuk hadir walau terlambat. 

Acaranya…

Mengapa beragama? Kita tentu akan bertanya mengapa si kok shalat segala? Mengapa juga harus puasa? Kalau ndak melakukan kenapa memangnya?

Dari mana berasal?

Tujuan ke dunia apa? 

Setelah tiada dunia ngapain?

Islam adalah agama penutup bagi agama sebelumnya. Sejak agama islam itu ada? 

……..

Proses beragama ada kaitannya dengan berpikir dan bagaimana jika agama hanya dikatakan sebuah WARISAN. Kenapa?

Orang bisa berpindah agama kan melalui proses akal berpikir “memilih”. Dan beragama juga pun adalah proses berpikir “pilihan” bahkan jika mau tidak beragama pun bisa saja. 

Pemikiran melahirkan tiga anak pola

Komunis : tidak ada tuhan bebas dunia

Sekulerisme:percaya tuhan tapi tuhan kagak berhak mengatur kehidupan dunia bebas. Ada percaya surga neraka. 

Dan…..

..

.

..

..

..

……..

Apa hayo ketiganya? 

Diakhiri dengan tawa raya bergantian. Dan makan. Agar berisi. 

Mas jihad di palestina wajib?
Ruang gelap, 28 Juli 2017

Iklan

Catatan Mendung


Catatan mendung

Karya : Suhanggono

Sebut saja begitu supaya tidak sulit mengingatnya. Barangkali kamis ini mendung. Kusebut judulnya begitu. Memang rasanya mendung hampa dan tawar. Seminggu berjam-jam berĺalu ketika kau berkata. Ah tak perlu aku ucapkan lagi nanti kau pun tahu. Bagaimana rasa dan ungkapan sesungguhnya. 

Bait-bait kata seakan runtuh oleh kabarmu. Kabar baik untukmu dan tentu saja buruk bagiku. Namun semua harus berjalan tanpa kata tidak. Dengan bersama atau terpisah. Ah bagaimana bisa kalau aku masih memikirkan terus menerus. 

Meruap kedongkolanku sampai ubun-ubun. Anakku yang sudah agak remaja hanya mengintip peperangan ribut mereka. Di balik dinding kamar yang tertutup kain di pintu. Sesekali menutupi kuping dengan tanganku. Agar tak terdengar mereka ribut. 

Terlihat lelaki tua masih memukuliku berkata kasar. Tak karuan sampai-sampai kata binatang pun terucap. Lancar. 

“Bajingan,” kemarahan lelaki sesambil mengayunkan tamparan ke pipinya. “Kau selingkuh lagi dengan dia? Apa kau tak puas dan kapok?” Wajahnya memerah. Ganas. 

“Kau sibuk kerja,”  ia menangis  kesakitan memegang pipi kirinya. “Kau pikir akan senang dengan kemewahan ini tanpa kasih sayangmu,” tangisan perempuan itu memecah kesunyian.

“Sabar Tuan jangan ribut terus,” Mbok Tina menasehati. Mbok Tina pembantu kami semenjak perkawinan muda bahkan sebelum lahirnya jabang bayi ada yaitu anakku. 

Perempuan tua terus memeluknya memberikan ketenangan pada si tangis perempuan. Sebagai perempuan bisa saja ada koneksi saling merasakannya. Sakitnya ditampar lelaki. Dikasari lelaki. Makanya perempuan ini telah lama sendirian cerai dengan suaminya di desa. Dan sekarang menjadi pembantu bertahun. Serta tak menikah lagi. Trauma katanya. 

“Tapi kau sangat keterlaluan. Aku berikan semua kemewahan ini untukmu dan anak-anak,”  matanya mendelik. 

“Aku juga perlu layanan cinta batin lahir bukan  hanya diberikan hartamu,” sambil mengusap air mata. Berdiri tegak. “Aku akan pulang ke rumah orang tua saja biar kau bisa menikmati kekayaanmu ini. Anak-anak akan kubawa,” berjalan ke kamar dan langsung mempersiapkan koper besar berisi baju. 

Lelaki itu masih berdiri tak berbuat apa. Pikirnya akan percuma mencegahnya. Tidak akan gunanya. Lalu menghampiri obat-obatannya dan meminumnya. Di sofa tua yang baru saja dibelinya dengan harga jutaan. Langsung duduk di kursi sofa coklat. Menenangkan diri. Meminum obat penenang. 

****

“Ibu mau kemana?” Tanya remaja tanggung itu. Melihat Ibunya sibuk memasukkan baju ke koper.

“Ke rumah kakek-nenek kau ikut dengan Ibu siapkan bajumu,” mengelus lembut tangan anak itu.

****

Purworejo, 27 Juli 2017

Gembel Negeri Sendiri


Gembel Negeri Sendiri

Karya : Suhanggono

Aku jadi gembel di negeri sendiri yang kaya. Alam dan pemandangan indah. Sedangkan mereka orang asing menjadi tuan rumahku di negeriku ini. Apakah aku bersedih? Tidak sama sekali. Aku malah berketawa ria. Dan tanya pqda mereka. “Sampai kapan pun kau ambil kekayaan negeri ini aku tetap akan tertawa dan menganggap itu kaya rayanya milik negeri ini,”

Aku juga lihat ada gembel orang gila kagak waras yang payudaranya gondal-gandul berjalan. Ia perempuan yang mudanya sangat cantik di perdesaannya. Karena kerusuhan lalu diperkosa bergiliran. Apakah negeri ini mau juga sampai memandikannya? Membelikan BH? Membelikan CD? Membelikan pakaiannya? Mengembalikan kehormatan-kehormatan yang lama direnggut. Tentu tidak. Ini tontonan bagi orang lewat entah bayi yang baru lahir matanya masih merem sampai remaja yang berlibido seks tinggi dan mengulang memperkosanya. Tentu dimandikan, diberi makan, dan selanjutnya digilir. 

Pada semak-semak yang subur menjulang tinggi. Dan perempuan itu tetap tertawa walau ada air mata yang menetes. Sebenarnya ia tahu sedang diperkosa tapi diam saja karena percuma berteriak tidak ada yang peduli.

Orang-orang bicara agama sambil berliur-liur muncrat. Tapi lupa bahwa agama mengajarkan kekaleman,kebaikan,kesantaian. Banyak permasalahan yang sebenarnya sederhana. Sebab kekuasaanlah membuat tidak sederhana entah karena melindungi negeri dengan cara menjualnya. Dari pada diperangi lalu dijual saja.

Negeri yang kaya raya tetapi malah terlihat susah. Padahal tidak dalam keadaan genting gawat. Negeri ini cuma-cuma banyak cewek berbikini, video-video esek-esek banyak ditampilkan dalam bungkusan tayangan televisi. Seharusnya negeri peka sebelum ada pemerkosaan lain halnya ini. Malah dibiarkan pemuda-pemuda itu menghayati tayangan tersebut sampai nanti dampaknya ada. Barulah negara hadir dengan area hukum. 

Paham gini sesat. Demi katanya kebebasan terus apa-apa boleh saja. Harus negera kalau memang mau melindungi rakyat tidak harusnya setengah-setengah. Jangan bicara cinta saja dibubarkan. Gila ndak itu? Waras itu?

Purworejo, 23 Juli 2017

Sempak 


Sempak

Karya : Suhanggono

Pasar selalu ramai bahkan segala pakaian ada. Model dan beraneka ragam. Tidak ada yang disembunyikan. Sekali pun itu pakaian dalam dan terjadi tawar menawar. 
Rok mini itu bermodel polos putih. Dan sudah berbentuk segitiga tetapi tidak sebagaimana diajarkan matematika. Celana dalam namanya. 

Lelaki yang penjual tidak teriak-teriak menawarkan. Malahan emak muda itu seperti sedang menawar-nawar. Suaranya agak kencang. Malahan pula ia mengulur-ngulur cd itu sepertinya sedang berkhayalan apakah muat dipakai olehnya. 

Rok mini itu masih polos belum dipakai oleh manusia. Dan jelas ukuran, warnanya. Apakah dijadikan sebagai barang yang seharusnya disembunyikan karena etika? Tentu tidak. Karena itu adalah pakaian umumnya manusia. Bahkan ketika pergi di pantai-pantai yang kebanyakan turis luar negeri. Memakai BH dan CD adalah biasa. Apakah ada yang mendemo? Tentu tidak. Karena yang jadi masalah adalah ketika perempuan itu menjadi korban pelecehan seks. Ketika bugil dan aman bagi sekitarnya maka akan di biarkan saja. 

Bagiku adalah lucu kalau perempuan tawar menawar sampai bilang kecilan besaran BH atau CD waktu beli. Lucu total. Aku menahan tulisan ini kira-kira sebulan. Karena kejadian ini waktu bulan puasa.

Jadi bila agama memang sudah tidak menarik dan akan diributkan sampai ngerti sebenarnya agama buat apa. Wajar saja negara akan hadir kalau sudah pada ribut  dan masih sembunyi kalau masih saling menikmati.

Purworejo, 20 Juli 2017

Asal Ide Anjing Tetangga


Asal Ide Anjing Tetangga

Karya : Suhanggono

Tulisan #AnjingTetangga itu sebenarnya kesebelan kuping mendengarkan terhadap perempuan dengan santai mengatai lelaki asu, bego, goblok dll. Jaman emansipasi kesejajaran lelaki perempuan sudah kebablasan diambang abnormal. Aku pertama dengar perempuan gini ya jaman esemae (SMA). Walau jaman  esempe (SMP) teman lelaki ngomongan celeng, asu dah biasa. Tapi perempuan waktu itu masih polos lugu walau galak. Seingatku tidak ada omongan gitu. 
Juga kadang mikir kalau agama sudah tidak menarik lagi. Tapi ngomongnya ahli agama masih bertuhan dan horornya pengen masuk surga. Lalu ribut siapa paling ahli agama. Padahal agama itu cuma satu rumus. Melaksanakan kewajibanNya dan memanusiakan manusia. Beres. Tanpa menawarnya sekarang ini manusia itu sedang tawar menawar dan mencari celah sesuai keinginan nafsu tapi ngaku beragama. 
Normalnya perempuan suaranya tidak sekeras lelaki kecuali pakai pengeras suara. Halus tidak kasar. Sekarang lelaki dan perempuan sama kerasnya dalam suara dan tindakan. Pelaku kejahatan sudah ada. Kalau kartini masih hidup dalam jaman sekarang bisa jadi geleng-geleng kepala. Menangisi keadaan jiwa-jiwa perempuan. 
Memang perempuan yang dilingkungan baik “keluarga konsen terhadap beragama” jauh lebih baik. Jauh lebih tertata. Minimal tertawanya tidak berbahak-bahak. Bukan hahahaha, huehueheue, wkwkwkwk tapi hiii. 
Pesan penting juga jangan cari pasangan di sosmed.hahaha
Salam #AnjingTetangga
Tulis cerpen lagi baca buku lagi

Purworejo, 04 Juli 2017

Ketika….


Ketika… 

Karya: Suhanggono

Bulan itu indah kalau malam tiba. Nikah itu asyik kalau sudah waktunya tiba. Bukan masalah umur tapi kesiapan semuanya. Batin lahirmu harus selesai.
Batin lahirmu siap ditandai ketika kamu bisa memanusiakan manusia lain tanpa celaan tanpa hinaan. Dianggap semua adalah pejalan-pejalan dari dan menuju Tuhan

Susah sekali rasanya memanusiakan manusia sebab antar manusia memandangi sebagai saingan hidup. Rumus diam malah membayangkan. Rumus bicara malah menggosipkan.

****

Lalu ketika kesembunyian di balik sebuah isu. Hal yang amay disayangkan. 

Propaganda LGBT ternyata sembunyi dibalik “saya pancasila saya indonesia”

Kau tahu faktanya Anjing lelaki tidak doyan anus Anjing lelaki lainnya. Jadi? 

****

Purworejo, 03 Juli 2017