Gali Ide


Gali Ide 

Karya : Soe

Maafkan Junior ini Senior kadang pertanyaanku tentang penulisan sudah tidak relevan itu hanya ingin sembunyikan kemalasanku untuk praktek dahulu. Sebenarnya inti menulis adalah praktek langsung tidak ada cara lain. Persoalan cari ide itu soal-soal sampingan. 

Bukankah kamu adalah sebuah cerita dari kehidupan sendiri. Coba saja nulis tentang keadaan rasamu pada mantan, cinta, gelisah dll. Bahkan ketika kau berjalan tersesat pun bisa jadi ide kreatif. Banyak kan bisa bertemu siapa saja. Dari kegelisahanmu khawatirmu. 

Contohnya : 

Dalam sebuah perjalanan ke Jogja pagi ini. Aku berusaha mandiri. Semenjak kejadian beberapa tahun yang lalu. Aku dibatasi berpergian sendiri. Ibu sangat khawatir ketika aku sendirian di sana. Namun inilah sudah tekad bahkan pagi subuh-subuh aku semangat berangkat. Dengan kereta jurusan Jogja aku melorongi waktu berpindah-pindah tempat. Duduk dekat pintu. Bersamaan mbak-mbak yang melancong ke Jogja. Dalam sebuah kegelisahan aku masih bertanya-tanya. Naik apa aku ke lokasi? Dengan berbagai tanya aku menggelisahkam diri. Tidak fokus. Beberapa kali aku chat “senior” soal lokasi keadaan lokasi. Bayanganku ada ditengah kota itu aku tahu lewat google map. Ternyata salah pula membaca koordinatnya. Ia berada di buka jalur transjogja. Matilah aku. Aku disuruh ojek. Aku cuma mengiyakan sambil masih nanya biaya berapa. Ah polos amat aku ini.

Jam sekian kurang paham sesampailah di stasiun tujuan. Aku berjalan keluar mengikuti orang yang didepannya. Setelah melewati pintu keluar banyak yang menawari ojek. Berebutan.

“Mas ojek?” Agak muda dia menawariku. 

“Mau kemana Mas?”

“Iya kesini,” sambil aku memberikan screenshot alamat yang diberikan seniorku yang sudah di lokasi.

“30 ribu Mas,” 

“15 ribu deh,”

“Jauh itu Mas dari sini,”

“Iya,” 

Aku pun pergi lurus meninggalkannya. Sampai di jalanan raya aku terlihat kebingungan. Dan lelaki agak tua itu mendekatiku. 

“Mas ojek?”

“Iya ke alamat ini,” 

Lagi-lagi kutunjukkan hape yang ada screnshoot alamat itu.

“25 ribu Mas,”

“15 ribu aja deh,”

“Ya udah tengahnya aja 20 ribu ya,”

Perjalanan pun dimulai dengan ojek. Kami melewati kemacetan yang biasa-biasa saja. Padahal hari itu adalah liburan agak panjang. Kok ndak macet pikirku. Kami pula ngobrol ngalor ngidul tidak karuan. Sampai di lokasi aku diberikan kartu nama.

Misal begitu ini cerita beberapa bulan yang lalu saat menghadiri eventnya Kampus Fiksi Emas 2017 di Jogja. Di lokasi pun banyak hal yang bisa diceritakan.

Hahahaha…. sekian misal ide gitu….
Purworejo, 20 Juni 2017

Iklan

Baca Buku Akhir Pekan


Baca Buku Akhir Pekan

Oleh : Suhanggono

*Sederhana tapi gila mantap sastra. Ketika bercerita perjalanan tidak didramakan terlaly jauh sebagai  perjalanan tapi ketika baca sudah paham bahwa itu adalah tindakan perjalanan tersebut. Kalau dibaca dia sedang bercerita intim percintaan dan pembunuhan. Tapi pembaca tidak merasakan kejijikannya.  #BacaNovel #NobelSastra Lanjutkan membaca Baca Buku Akhir Pekan

Ra di Akal Masuk Kampus


Ra di Akal Masuk Kampus

Oleh : Suhanggono

Radikal mampir di kampus. Bahkan orang sepertiku dianggap radikal. Bagiku radikal adalah kewajiban bagi setiap mahasiswa. Utamanya melawan kebijakan kampus yang sewenang-wenang itu adalah sebuah latihan untuk meradikalkan logika. Kita ngampus bukan bertujuan menjadi robot apa kata itu laksanakan. Harus tetap berlogika sebagaimana manusia.Kampus adalah negara bagi orang-orang intelektual. Sebuah mini negaramu. Bukan hanya sebuah halaman mencari ilmu dan pasangan saja. Banyak hal yang seharusnya kalian lawan. Negara pun bisa jadi teroris. Kenapa tidak bisa pasti bisa ketika kebijakan sudah diluar ketentuan telah disepakati. 

Radikal yang benar dan berlogika. Kritis pada negara mu itu bentuk kecintaan. Mahasiswa harus terdepan jembatan corong suara rakyat di bawah. Berbagai organisasi mahasiswa janganlah membisu segera meradikalisasikan anggota dengan pemikiran-pemikiran yang benar. 

Jangan sampai kau ikut arus yang tergiring bahwa radikal buruk tidak selalu begitu. Semua tergantung dilihat dari sisi mananya. Itu hanya akan melemahkan pemikiran-pemikiran kritismu. Menakutinya. 

Tidak kah pendidikan harus membawa lebih baik kalau didalam kita malah jadi tidak lebih baik manusia yang memanusiakan manusia itu hal paling sia-sia. Dan menurutku pendidikan kita diambang begitu. Sia-sia. Kecuali jaman SD kelas 3 sampai 6 dan SMP kelas 1-3 namanya pembulllyan itu tiap hari. Tho sekarang masing manusia bisa berkaca.

Maka aku dukung keradikalisme di kampus dalam hal positif. Bertekad bahwa pendidikan membawa ke jalan pendidikan bukan pembullyan. 

Pekok dalam hal apa tapi saya pikir setiap manusia pasti cerdas dalam hal lain. Pendidikan bukanlah memaksa untuk cerdas tapi mencari dimana potensi kecerdasan dalam dirimu. Jika siswa terusan dipaksa ia akan melawan. Bukan dengan senjata bukan dengan perkataan buruk tapi dengan kecurangan. 

SMA adalah halaman utama  melihat kecurangan itu. Kampus adalah teras rumah itu. Pada nantinya kita akan mendirikan rumah otak kecurangan. 
Dan jadilah mereka-mereka…. 

Jangan takut radikal. Aku mending jadi radikal daripada biasa-biasa saja.

Purworejo, 14 Juni 2017

Warisan Palsu


Warisan Palsu
Oleh : Suhanggono

Sebrang jalan pasar pagi. Pojokan penjual daging-daging ayam maupun sapi berjejer rapi. Menggodai pembeli siapa saja berkat harga yang turun atau kebutuhan walau mahal. Tapi apa mereka tahu bahwa semua palsu. Jangan gerah dan heran banyak kepalsuan disini. Mulai dari daging asu rasa daging ayam mereka menjual dengan gagah tanpa rasa sukan atau ngilu. Daging celeng dioplos dengan daging sapi mereka memang celeng-celeng dan asu tanpa rasa terbelenggu oleh rasa takut.  Lanjutkan membaca Warisan Palsu

Pantai


Pantai

S.Hang

(1)

Pantai

Gelombang suara ombak itu mendebur-deburkan airnya. Anginnya menyapu deru pasir yang hitam pekat. Rinduku seperti itu. Kau tahu pastinya. Tapi apakah kau merasakannya. Itulah pertanyaannya.

Menghadap lautan luas tanpa batas. Gemuruh ombak menenangkan jiwa. Bahkan mengusir mantan-mantanku tergantikan rindumu.

Angin mengusik cintaku. Ia mengingatkan masa laluku bersama mantan pojok kota dekat alun-alun. Bersamaan itu selingkuhanku berada satu kompleksnya si mantan. Tergambar jelas ketika minggu ganjil dan genap aku bergantian rapi senyap untuk berkencan.

Lanjutkan membaca Pantai

Perkenalan bernama Aku


20170518_071548
Naik gunung

Bulan-bulan berlalu juni mendatangi jam subuh tadi aku dilahirkan pada jaman orde lama. Dimana tentara-tentara berbaju loreng hijau operasi. Di desaku yang terpencil. Mereka melepaskan puluhan peluru ke langit-langit. Aku lahir pada minggu terakhir di bulan juni awal tahun 90an. Saat itu Ibu melahirkan dengan bantuan dukun tetangga desa. Masa kecilku pastinya imut dan menggemaskan. Walau foto waktu SD agak ekstrem. Mahal wajah susah bergaya.

 

Namaku Suhanggono

Oiya sejak kecil dulunya aku lebih suka bermain di alam cari kayu daripada sekolah nulis dan nyanyi-nyanyi paling males. Walau gitu tetap aku berangkat sekolah. Aku orang tidak suka matematika, ipa lebih suka ips dan sejarah. Ketika belajar agama sebenarnya bayanganku waktu itu cuma 2 hal yaitu baca quran dan shalat. Dan aku adalah orang yang sukar menghafal bacaan shalat.

Lanjutkan membaca Perkenalan bernama Aku