Dan Rumah Kembali


​Dan Rumah Kembali

Oleh : S. Hang

Melewati jalan mawar gang sembilan. Sebuah jendela rumah biasa terbuka kini semua pintu maupun jendelanya tertutup  rapat. Warnanya pudar tak berkilau seperti wajahmu kini mendung tanpa cahaya. Apa yang hendak kau cari?

Nafasku mengengah-engah cepat. Mengingat bahwa dikau mati di kubur dalam masa lalu yang kelam. Kanan jalan tetap di depan pintu sisi kirinya. Terdapat pot bunga layu tanpa senyum mekarnya seperti lampau yang layu. Emosi itu selalu tercatat lengkap dalam bayangan.

Tanah gunungan panjang terdapat nama yang kukenal. Terpampang jelas kenangan itu. Waktu berjalan hujan deras menyambut dalam sebuah kematian. Kecelakaan motor di ujung menuju gang tertabrak motor tertanggamu. Ia mabuk mengencangkan speedometer tak melihat dikau berjalan asal jalan dan bergas. Kau berdarah perutmu terurai di jalanan. Orang-orang menutupi tubuh itu dengan dedaunan pisang warna hijau muda. Polisi datang berseragam mengabarkan kepada keluargamu.

“Benar ini rumah Galih?” Tanya Pak Polisi.

“Benar ada apa ya?” Terkejutnya seorang perempuan berpakaian rapat sampai tanah.

“Gini Galih itu kecelakaan sekarang ia di rumah sakit Sanyata,” kabar Polisi.

Tanpa berbalas kata kembali ia hanya tertunduk dan memecah sunyi. Malam itu jadi kelabu pilu buat keluarganya. Istri yang dinikahi sepuluh tahun. Baru saja sebulan yang lalu hamil. Betapa sedihnya mendalam bahkan pingsan berkali sampai hari pemakamannya.

Purworejo, 30 Desember 2016

Iklan