Bunuh Diri yang Tertunda


Bunuh Diri yang Tertunda

Karya : Hangsyamirku

“Kyai, dalem rasa kok kulo sampun mboten butuh dunya pengen mati mawon. Anak istri kulo sampun tak titipke dumanteng Gusti Allah. Niki pripun kyai?” kata anak Muda.

“Ealah cah sampeyan ki aneh-aneh wae coba ning tangga-tanggamu ana sik butuh bantuanmu pora? Asah-asah piring gelas apa ngepelke omahe sisan,” jawab Kyai setengah serius batin guyonan. “Nek iki pancen sik mbutuhke ora ana matio kowe,”

Anak muda yang lama nikah itu pulang ke rumah. Gubuk derita senangnya. Merenungkan hasil obrolan sama Mbah Kyai tadi. Menimbang beratnya memikirkan terus menerus. Terdiam terduduk di pelataran rumahnya ia menyesali omongannya pengen mati. Padahal hidup matiku untuk Tuhan.

Istrinya keluar rumah mendapati suaminya meneteskan air mata penyesalan. Ia menghampiri duduk di dekatnya.

“Ada apa ini? Kok pakai nangis-nangis segala,” tanya Istri sambil menepuk pundak suaminya.

Suaminya terkaget banget sepertinya.

“Ndak papa Dik,” jawab Suami mengelap air mata yang membasahi pipinya dengan tangannya.

Sehabis itu ia makin cinta sama istri dan anaknya. Dan apapun bagaimana pun dunia dibutuhkan. Walau ndak selamanya ada ukuran tersendiri bersanding dengan akhirat nanti.

Purworejo, 20 Mei 2016

Iklan

Cerita Derita


Cerita Derita

Oleh : Hangsyamirku

Terang tapi sunyi
Mentari muncul sendiri
Cahaya pancarkan panas
Embun pagi
Daun-daunan berbasahan
Udara mengebul ria
Aku terus bercanda pada diri sendiri
Kadang ketawa
Kadang senyum
Kadang marah
Pada situasi yang ada
Berjalan di tepian jalan raya
Mengaisi sampah
Menunduk mengawasi
Kanan kiri
Sana sini
Tak ada yang terlewati
Sesekali berhenti
Melepas capek
Meminum kopi
Di warung pojokan
Terdengar gosip asyik
Wakil rakyat makin kaya
Rakyat makin miskin
Wakil rakyat makin gendut
Rakyat makin kurus
Wakil rakyat makin sehat
Rakyat makin sakit
Telingaku mengawasi
Mulutku membisu
Tanganku diam
Pikiranku liar
Kopi hitam tersedia
Gula dua sendok
Kopi satu setengah sendok
Diseduh air panas
Secangkir kerinduan
Melepas lelah
Berpeluk sepi
Malam hari
Berita duka televisi
Mati
Berakhir tragis
Katanya
Perempuan dibunuh
Kaki di sungai
Kepala di bis berjalan menjauh
Badannya terpisah-pisah
Aku sendiri ngeri
Membayangkan yang terjadi
Iblis kesurupan manusia
Keterlaluan memang
Batinku terus berbicara
Komentar ini itu
Tanpa henti
Seperti puisi ini

Salam

Purworejo, 06 Mei 2016

Janj-janji Melangit


Janji-janji Melangit

Oleh : Hangsyamirku

Meniup janji tipu
Gelembung menyebur
Kabur-kaburan
Sembunyi sunyi
Di balik negeri
Mengingkari janji
Melarikan diri
Ke luar negeri
Bersama wanita seksi
Menemani sehari-hari
Berlimpah harta
Tidur hanya berCD
Bercinta tiap hari
Sampai mati
Lupa akan janji
Apalagi mau ngaji
Ini cuma cerita
Tentang tahta
Pencari harta haram
Koruptor namanya

Purworejo, 03 Mei 2016