Cermin Aku dan Kau


Cermin Aku dan Kau

Oleh : Hangsyamirku

Aku manusia abal-abal
Palsu terus berseru
Sepanjang waktu

Mestinya lucu
Kamu ketawa ketiwi
Sepanjang hari

Aku manusia topeng
Mendongpel nama orang lain
Biar ditakuti biar terkenal

Begitu pula kau
Kau di sana
Kau di sini

Salam

Purworejo, 27 April 2016

Iklan

Bubur Terakhir Faisal


Bubur Terakhir Faisal

Oleh : Hangsyamirku

Entah kenapa saya teringat pada nama Faisal. Sebuah nama yang tak asing lagi dalam kehidupan dulu di kampung. Tak sengaja saya melihatnya di pojokan rumah makan. Saya mengenalinya karena perawakan yang tak gemuk itu.

“Assalamu’alaikum wr wb Faisal,” sapa saya.

“Wa’alaikumsalam wr wb Don,” jawabnya tersenyum.

Kami duduk bersama berhadapan. Tak lama terlihat ternyata Faisal ini kuliah di ITB juga. Namun rasa-rasanya ada yang aneh. Wajahnya pucat dan matanya terlihat tak bersinar.

“Kamu, sakit Sal?” tanya saya.

“Iya barusan ke dokter. Sakit tipes katanya. Biasalah penyakit anak kos,” jawabnya masih penuh senyum.

“Kamu sudah makan?” Tanya saya kembali.

“Belum, mas!” jawabnya masih tersenyum.

“Ayo kita cari makan. Kamu harus makan-makanan yang lembut. Seperti bubu,” kata saya sambil berdiri.

Hilang tanpa kabar Faisal sejak makan bubur bareng. Ternyata ia berada di Amerika mengalami sebuah kecelakaan ditabrak sebuah mobil yang pengemudinya mabuk.

Dari keluarganya bercerita sebelum kecelakaan itu :

Sebelum kecelakaan terjadi Faisal menelpon Ibunya.

“Bu, mau belikan oleh-oleh apa?” Kata faisal lewat sambungan telpon.

“Syal saja, tapi tak usah yang mahal-mahal,” jawab ibunya.

Saat itulah Ia bergegas menuju sebuah toko yang menyediakan syal tersebut. Namun di tengah perjalanan kecelakaan itu terjadi. Ia meninggal di negeri yang jauh dari keluarga.

Yaaa Allah rasanya jadi terkenang makan bubur bersama itu.  Mampukah di saat berjuang berjihad melawan penyakitnya masih berusaha  membelikan oleh-oleh Ibu nya namun kematian menjemputnya. Semoga dia diberikan surgaMu.

Salam

Purworejo, 23 April 2016

Kejujuran dan Tak Serakah


Kejujuran dan Tak Serakah

Oleh : Hangsyamirku

Pagi ini saya sudah sampai di Jakarta. Bertemu dengan pimpinan redaksi sebuah majalah untuk melanjutkan kerjasama. Namun karena sejam lagi acaranya dimulai maka saya mencari makanan terlebih dahulu. Saya memanggil staf Yanto untuk membelikan makanan.

“Tolong belikan makanan ,” kata Saya.

“Mau makanan apa Pak?” tanya Yanto dengan senyum.

“Apa saja yang ada. Kalau boleh tahu biasa yang sudah ada apa?” tanya Saya.

“Ada Pak kupat tahu enak sekali,” jawabnya.

Ingatanku kembali ke masa lalu. Di sebuah desa Purworejo ada Pak Din penjual kupat tahu. Ia selalu saya nanti di dekat rumah sebelum ia berdagang di Pasar Senin. Ah jadi nostalgia. Saya memberi selembar uang. Selagi menunggu saya mandi bersiap diri. Sampai selesai saya menuju meja ada makanan kupat tahu dan uang dekat tas Rp 16500,- lalu saya memanggil Yanto.

“Jadi harga kupat itu cuma Rp 3500,- padahal isi cukup lengkap.” tanya saya.

“Iya Pak, dia ndak ngambil untung banyak-banyak orangnya juga baik Pak,” jawab Yanto.

Ya Allah aku kadang kagum sama mereka. Dia bisa saja mengambil sisa lebih banyak tanpa diketahui yang kuberi uang Rp 20.000,- Ia juga tak melakukannya. Padahal saya tak tahu harganya berapa. Betapa jujurnya orang ini. Pedagang itu juga tidak mengambil untung banyak di Jakarta yang serba mahal ini. Aku berharap ketika sudah jadi pembesar nanti tetaplah jadi begini. Jujur dan tidak serekah.

Salam

Purworejo, 19 April 2016

Kesyukuran Sebuah Renungan


Kesyukuran Sebuah Renungan

Oleh : Hangsyamirku

Sahabatku
Hari ini istriku masuk dalam rumah sakit. Mau melahirkan anak yang pertama. Sungguh ku melihatnya sendiri betapa berjuangnya dia menaruhkan nyawa sebagai taruhannya. Aku tak membayangkan dahulu Ibuku ketika tahun 80an. Ekonomi yang membelit sakitnya melilit. Namun Ibu tetap berjuang penuh.
Sahabatku
Alhamdulillah anakku terlahir pria ganteng. Ibunya pun sehat. Setelah beberapa hari sudah boleh pulang. Aku terkagetkan oleh biaya tambahan 5 juta walau sudah tercover oleh asuransi kesehatan. Namun semua bisa teratasi. Waktu membayarkan uang itu aku bertemu dengan Ibu setengah tua. Umur 50 tahunan sendiri berjilbab lebar panjang. Membawa segepok uang berjumlah 20 juta buat menyelesaikan admintrasi Rumah Sakit. Aku tahu karena sama-sama antri di tempat yang sama.

“Ibu siapa yang sakit,” tanyaku menyapanya dahulu.
“Suami saya dik,” jawabnya dengan ramah.
“Sakit apa bu?” penasaranku bertambah.
“Komplikasi penyakit,” jawab itu dengan tenang senyum.
“Sekarang sudah sehat suaminya bu?” tanyaku penuh harap.
“Beliau meninggal dik semalam,” jawabnya masih tetap mengumbar senyum.
“Ya allah uang 5 juta dan bisa pulang saja aku masih protes sedangkan Ibu itu menyogok menunda kematian suaminya dengan uang segepok berjumlah 20juta saja tak bisa. Ya allah ampuni aku,” gumamku sambil menangis.
#DialogPasien

Purworejo, 16 April 2016

Tak Biasa


image

Tak Biasa

Oleh : Hangsyamirku

Tak biasa
Aku tak berkata
Aku hanya terdiam saja
Menatap segenap wajahmu

Tak biasa
Kaku tanpa respon
Tertidur nyenyak
Selama-lamanya

Kau membumi
Jasadmu meninggalkan kenangan
Tentang kisah kita berdua bahkan bersama
Kawan tenanglah di sana

Masih ingatkah kamu?
Saat kita makan bersama
Menghabiskan waktu berdua bersama
Ohhhh kau kini tiada yang ada

Mesti bisa
Kamu dijemputNya
Tenanglah di sana
Tenanglah di sana

Selamat membumi kasihku kawanku sahabatku
Berjumpa dengan Tuhan
Segala goib yang ada
Sampai kita dipertemukan di sana

Salam

Purworejo, 15 April 2016

Tanya Jauh


image

Tanya Jauh

Oleh : Hangsyamirku

Sayang apa kabar?
Tanyaku pada rembulan di ujung sana
Wajahmu bulat sempurna
Bercahaya penuh makna

Sayang aku rindu kamu
Bulatan cahaya terang benerang
Melepas menusuk kepada yang jauh nan gelap
Malam makin perlihatkan kecantikanmu

Sayang aku memandangmu
Duduk ngopi bersama kegalauan
Kau tak pernah turun sekedar menyapa langsung
Kau hanya mau menemui dalam kejauhan

Sayang ohhhh sayang
Lebay aku untuk mencintaimu
Ohhhh sayang
Hmmmm

Salam

Purworejo, 14 April 2016