Senja


Senja

Karya : Hang

Sengaja kutulis ini untukmu dariku
Kau yang terindah dalam hidupku
Kau yang termakna tak tergantikan
Kan ada selalu dihati

Matahari tenggelam seluruhnya
Diganti malam dalam kegelapan
Tak ada bulan atau cahaya
Yang ada hanya hujan rintik-rintik

Aku tertidur dalam musik alam
Suara-suara alam terdengar indah
Seperti kodok, jangkrik suasana alam desa
Malam telah tiba mimpipun menyambutmu

Oh senja aku masih cinta
Tak akan aku ganti walau dunia adalah bayaran
Senja oh senja selamat malam semuanya salam sejahtera buat kita semua. Siapa? Guru kita.

Purworejo, 25 November 2014

Iklan

Sindiran Semut Buat Semua Kalangan


Sindiran Semut Buat Semua Kalangan

Karya : Hang

Ketika dusta dah biasa. Ketika biasa
itu jadi kebiasaan. Maka sulit terlepas dari ikatan itu. Fakta mengatakan dengan jelas. Masih saja ada yang buta dan berdalih dengan beribu-ribu alasan.

Gue si nggak masalah mereka demo to
itu bukan kejahatan. Gue cuma mau
bilang yang dukung kebijakan jokowi
kalau sebenarnya ini semua
menguntungkan asing saja.

Investor luar negeri diundang untuk menikmatisemua yang ada di negeri ini. Menanamkan modal lama lama jadi
pemilik asing. Rugi? Jelas. Belajarlah
dari hal kecil penjualan aset negara
waktu lampau. Loe benar dengar partai itu mengkritik BLT jaman SBY? hah yang katanya nggak mendidik, ini itu dll. Nyatanya bantuan tunai tetap dilakukan di rezim. Sungguh dusta.
——————————-
Semut itu saling perduli, menyapa nggak egois. Kebodohan manusia itu terlihat karena tak mau perduli sesama manusia lain. Keegoisan manusia di era sekarang sungguh luar biasa. Nggak mau perduli, cuek bebek semua disalahkan dalam ajaran agama.

Aksi jalanan walau dengan demo itulah bentuk keperdulian mahasiswa terhadap rakyat. Penyadaran kepada penguasa. Rakyat itu tetap tenang arusnya seperti air di sungai. Namun hati tetap berteriak karena kesusahan. Contolah sederhana siapa yang paling terdepan untuk menurun Soeharto? Para aktivis, mahasiswa, dukungan rakyat juga media. Apa mereka juga mikirin IPK dulu? Selak gemes bro sabarnya kehabisan.

Mahasiswa sebagai kalangan intelektual. Berbaur dengan rakyat langsung seperti contoh terdekat dengan lingkungannya yaitu orang tua. Bagaimana mahasiwa belajar terus tentang keperdulian dengan keadaan lingkungan maka dari itu pentinglah untuk berorganisasi. Merasakan apa yang lain rasakan.

Berorganisasi aku ibaratkan semut yang selalu saling menyapa kalau ketemu, disiplin dan bertanggung jawab apa-apa yang diberikan menjadi tugasnya. Mahasiswalah kaum yang selalu dekat dengan kalangan bawah. Kalau mahasiswa sudah keracunan sifat egois tidak mau tahu tapi maunya tempe gorengnya nggak mau ngerti susah payah membuat tempe gorengnya.

Sama dengan persoalan BBM naik. Kebijakan yang jelas akan bikin susah rakyat termasuk orang tua kita. Semua akan naik sedangkan penghasilan segitu saja. Kosan naik nggak ya? Nggak tahu aku sudah lama nggak jadi anak kosan. Ibuku sekarang juga sudah mulai ngeluh “rega tempe maune 1000 entuk 4 saiki mung 3”. Cuma bisa ngeluh dan doa.

Pembagian uang 400ribu menurut warga sekitaran rumah waktu kumpulan RT cerita ibuku “kuwi mung nggo ayem2 mengko yen wis adem ya mandheg dhewe” ketawa kecil hihihi salah dhewe milih ki kayak aku golput huehue.

Kesalahan kita para remaja mau enaknya tiap bulan minta uang tanpa perduli orang tua bagaimana cara cari uangnya nggak pernah perduli. Sama halnya melihat kenaikan BBM seolah-olah itu semua murah dan nggak susah. Makan aja masih ngutang. Kalian yang dukung sama saja nggak perduli dengan mereka yang tercekik atas kebijakan ini. Kalah sama semut. Mangan ora mangan kumpul.

Mahasiswa yang berhasil adalah yang perduli jadi lidah suara suara gua kebosanan. Kalau cuma ngandalin IPK yang kuliah diluar negeri banyak tapi jadi artis juga banyak dan semua nggak kritis kebanyakan cuek dengan gaya. “Ya kalau itu kebaikan negeri bangun sekolah, jalanan dll si nggak-nggak papa” begitu kata artis. Kompensasi dana ini tak cukup.

Alhamdulillah aku cuti jadi nggak banget mikirin biaya pulang pergi ngampus. Diganti biaya makan. Internetan juga gratisan. Mahasiswa perduli itu HEBAT KUAT.

Purworejo, 25 November 2014

Mau Ke Jogja Kesasar Dulu Ke Magelang


Mau Ke Jogja Kesasar Dulu Ke Magelang

Karya : Hang

Sore itu hari dan tahun sudah lupa. Aku dikabarin oleh Kakak untuk ngambil buku siap UN. Bukunya tebel banget ada 6 yang diujikan. Aku berangkat mengunakan bis.

Baru sampai terminal Kutoarjo aku lupa kalau ke Magelang dan Jogja itu beda bis walau sama besar dan wujudnya. Biasanya kan ada tulisan tujuan bis di dalam ini nggak ada. Konyolnya lagi nggak tanya kondektur bisnya.

Duduk di tengah bis dengan takut ini pertama kalinya naik bis sendirian menuju luar kota. bengong saja sampai ditarik uang bayaran bis. Saat bayar ditanyakan kondektur bis “tujuannya mana?” ya kujawab aja “Jogja”. Dengan kagetnya si kondektur menjawab “salah naik kau ini jurusan Magelang, yaudah nanti turun Magelang ganti bis jurusan Jogja.

Dengan hati tak tenang karena malam telah tiba aku sendirian duduk di belakang. Kakakku sms terus “Nanya sudah sampai mana?” Kujawab “Magelang, kesasar ni lagi menuju Jogja” dan setelah nggak bales smsku.

Aku turun terminal bis Jogja dijemput Kakak dengan gaya sarungannya. Kita makan-makan bakso masbro.hehe Sampai di kontrakan kakakku surfing diinternetan ku mandi. Habis itu beli gorengan. Setelahnya tidur nyenyak.

Subuh sebenarnya mau berangkat supaya tetap sekolah. Terpaksa ijin karena Kakaknya bangun jam 8an setelah selesai beres beres. Aku pun pulang nggak dianter sampai terminal cuma sampai halte transjogja.haha

Sampai terminal nggak salah lagi milih jurusan bis ke kutoarjo. Dengan senyum dapat buku dan pelajaran berharga yaitu “Malu bertanya sesat dijalan” memang ada benarnya juga.

Purworejo, 25 November 2014

Jalanku Pertama


Jalanku Pertama

Karya : Hang

Pagi tadi setelah mandi, makan lalu jalan-jalan kecil aku paksakan supaya darah nya gerak. Jalan kali ini seperti bayi yang belajar jalan. Seneng rasanya nggak lupa cara jalannya. Kini keadaanku lebih baik. Sangat menyenangkan. Tak ada yang perlu dikhawatirkan. Ketakutan untuk jalan sebagaimana manusia normal. Kini telah di lawan aku tak mau berlama-lama terpenjara di dalam ketakutan dan trauma.

Jalan dengan bantuan 2 kruk di sisiku. Pelan-pelan demi selangkah demi selangkah aku berjalan di jalanan samping rumah. Menikmati alam dan keadaan yang mulai berubah dari waktu ke waktu.

Ibuku melihat, mengawasi dari kejauhan. Berdiri di hadapanku. Cemas tentu ada. Namun kuyakinkan ini baik-baik saja. Jaraknya ada 200 Meteran luar biasa capeknya. Tapi kalau tak di biasakan akan lebih capek nanti.

Jalan sambil menunduk ternyata ada maksudnya supaya kita tak sombong pada sang kuasa.

*besuk atau kapan kapan mau belajar boncengan pakai motor 🙂

Purworejo, 25 November 2014

09 April 2014


09 April 2014

Karya : Hang

Aku mempunyai pilihan yang berbeda dengan orang tua. Ketika itu kami berselisih tentang pemilu mengapa harus pergi ke tps dan tak boleh golput. Apa karena ada saudara yang maju menjadi caleg? Kurang paham tapi aku lah aku. Anak lain bisa golput mengapa aku tak bisa.

Ini luka lama yang masih basah dan belum kering seutuhnya. Ini adalah cerita di saat aku penuh emosi tak mau mengbohongi diri sendiri. Aku tak mau memilih karena memang keyakinan ku begitu. Dan lihat saja perilaku mereka yang terpilih. Adakah yang bikin nyaman dan damai?

Hari itu bukan bersejarah buat kalian warga Indonesia tetapi aku yang memulai hidup baru. Siang itu setelah shalat dhuhur. Aku mengendarai motor menuju ke kampus ada janjian sama kawan-kawan. Sesampai di lokasi kejadian kecelakaan ini. Entah yang salah siapa tapi aku sudah meminta maaf.

Kronologis seingatku adalah aku meluncur dari arah selatan terus ada yang mau menyebrang untuk sama-sama ke arah utara namun tak di sangka dia tak tengok kanan kiri di pikir sepi padahal masih ada aku. Pas di belakangnya aku menyenggol keranjang motornya lalu terpental ke arah kiri. Terjadilah bantingan keras ke beton di pinggir jalan. Aku terduduk di rerumputan dengan jarak lima meteran dari bantingan itu. Menurut cerita yang lihat aku terbanting empat kali sampai terduduk.

Aku melihat motor itu masih guling-gulingan jauh. Aku sendiri duduk selonjoran. Tak sadar kalau kaki patah. Helm masih kuat terkunci di leher. Dan tak ada lecet di kulit tapi saat mau berdiri kok nggak bisa dan akhirnya menyadari tulang paha patah. Di sini kehidupan berubah. Aku tiduran, minum dan menyantaikan diri. Di tanya-tanya no hp orang tua. Keadaanku alhamdulillah sadar 100% nggak nangis. Tak buat santai aja kalau panik ntar malah bingung.

Orang kecelakaan di indo selalu jadi bahan tontonan dahulu. Takut menolong dan membawa ke rumah sakit biasa gitu. Tapi ini hanya beberapa yang demikian berbeda denganku Bapak yang kusenggol ini bertanggungjawab membawa ke rumah sakit dengan becak motor. Bisa dibayangkan patah tulang paha harus duduk di becak. Rasanya sensasinya wow banget. Sampai rumah sakit di pasang infus dan penyangga kayu untuk menjaga kelurusan kaki. Di sana hadirlah kawanku menemaniku memberi semangat. Selanjutnya hadirlah Ibuku dengan muka cemas. Bapakku orang yang paling bingung aku tahu walau tak menangis hatinya pasti menangis. Aku merasakan itu.

Setelah diskusi panjang aku di rujuk ke rumah sakit umum. Di sana cuma rontseng dan nginep semalam. Semalaman aku berdiskusi dengan saudaraku. Walai maksudnya baik supaya tak di pasang pen. Ada alasan lain. Malam panjang itu membuatku tak tidur panjang hanya beberapa jam. Besuknya aku di bawa pulang dengan paksa sore harinya aku menjalani pengobatan alternatif. Caranya cuma kaki bagian paha di bungkus kertas karton dan diikat bersamaan kayu sebagai lapisan. Ikatan itu beberapa hari dibuka untuk lihat perkembangan. Ibu selalu nggak yakin. Walau dia cerita sudah berhasil di berbagai wilayah. Ibu ku tetap tak yakin. Tapi kebodohanku tetap saja menjalani berharap ada kesembuhan tanpa operasi. Namun setelah 3 bulanan aku tidur dan menjalani pengobatan ini. Siapa yang kuat tidur saja dengan kasur yang makin keras otomatis banyak gerak. Tak kuat di tambah muak sudah akhirnya bukan kesembuhan yang di dapat namun parahnya posisi tulang tak berubah dari hari pertama. Menyedihkan memang tapi banyak hal banyak cerita yang sudah ku ceritakan pada hari-hari yang lalu. Terima kasih buat yang sudah membantu secara langsung dan tak langsung. Semoga ada pahala sebagai balasan kebaikanmu. Aamiin.

Purworejo 24 November 2014

*Sekarang senyum kembali, Semangat bertambah terus.
*keadaan terkini aku sudah bisa jalan dengan kruk tidur nyenyak dan jarang bergadang.
*semua menjadi cerita hikmah
*sayangi ortumu sebelum terlambat.

Marah Ramah Rumah


Marah Ramah Rumah

Karya : Hang

Marah lah pada tempatnya jangan sembarangan
Ramah lah kepada siapa saja
Rumah usahakan menjadi tempat nyaman makanya jangan di isi dengan (ke)marah(an) namun (ke)ramah(an

Senja oh senja
Malam telah tiba
Hujan telah turun
Mengantuk mulai menggoda
Ide pun banyak mengalir
Akhirnya mata mengalah
Demi wujudnya sebuah tulisan
Unik ekstrem dan berkualitas tinggi
Bergadang ah tak mungkin tapi mungkin saja
Takut ku kehilanganmu cahaya hanya karena hujan turun
Gelap langit jadi tak bisa bermanja ria apalagi hujan

Purworejo, 23 November 2014

*jam 22:04 yang online 75 warga. Kamu?

Isu Isu Aneh Di Negeri Lucu dan Ngeri


Isu Isu Aneh Di Negeri Lucu dan Ngeri

Karya : Hang

Seandainya berpikir kemanfaatannya. Merokok adalah sebuah kejahatan. Secara tak sadar menyebarkan penyakit lewat asap dari perokok ke lingkungan perokok semua terkena. Berapa banyak anak sd smp sma dan kuliahan pandai menghisap rokok. Bahkan merokoknya di lingkungan sekolah. Lah wong warungnya guru aja jual rokok masak mau nolak kalau ada pembeli walau itu siswanya sendiri. Ini kan masalah ekonomi bukan kesehatan. haha mudah-mudahan sudah nggak jual lagi sejak keluarnya fatwa haram.hehe

Aku tak membahas haram atau tidak itu terserah bagi keyakinan. Banyak yang sudah membahasnya masalah ini seperti hukum pacaran, memakai jilbab dll. Sampai sekarang menjadi polemik yang meluas di kalangan masyarakat.

Terkait isu tes keperawanan saat tes pendaftaran polwan. Banyak yang menjadi pro kontra. Banyak hal di negeri ini yang isu unik-unik jadi konsumsi masyarakat. Masak pacaranpun kadang ada alasan ngetes juga perawannya dengan berbagai alasan soal cintalah yang berakhir dengan nafsu. Moralitas di ukur ketaatan agama. Sederhana saja.

Janganlah terpecah fokus dengan gampang. Kita ini ribut masalah BBM. Banyak yang komentar rokok naik saja tak protes. Rokok mahal nggak ngaruh sama tarif angkutan bro. Ah ini mengada-ada alasan. Yang demo di celah katanya bebas berpendapat kok aneh jadinya. Mahasiswa juga harus berjiwa sosial nggak selamanya duduk di kelas terus menerus harus lebih bisa merasakan lingkungan masyarakat gejala-gejala apa yang terjadi. Jadi mahasiswa cerdas sosialnya bukan saja di kelas doang.

Jiwa pemimpin itu akan di dapatkan ketika turun jalan dan lebih banyak pembelajaran. Renungan hati dan pikiran itu pasti ada di bandingkan cerdas kelas. Jiwa sosial kurang juga akan gagal di masyarakat.

Demo adalah jalan belajar mengerti rasa orang lain. Bagaimana kita cerdas sekali kalau negara milih investor dari luar negeri. Bagaimana mau kreatif kalau tak ada keperdulian negara.

Negeri nggak pernah kekurangan ilmuwan. Hanya kurang perhatian saja. Kurang diberikan kesempatan.

Purworejo, 23 November 2014